Sukses

Fashion

[Vemale’s Review] Novel ''The Circle'' Karya Dave Eggers

Judul: The Circle
Penulis: Dave Eggers
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa aksara: Intan Puspa & Pritameani
Penata aksara: Martin Buczer
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)


Ketika Mae Holland diterima bekerja di The Circle, dia merasa telah diberikan kesempatan emas dalam hidupnya. The Circle merupakan perusahaan internet dan teknologi paling berkuasa di dunia. Mereka menyatukan akun penggunanya dengan surel pribadi, media sosial, internet banking, dan lainnya ke dalam sistem operasi mereka. Sehingga, satu pengguna hanya memiliki satu identitas dan satu akun universal. The Circle merevolusi transparansi dunia digital.

Akan tetapi, di balik itu, The Circle ingin masuk sepenuhnya ke semua aspek kehidupan manusia. Mereka berambisi mengawasi setiap langkah, merekam setiap percakapan, dan meneliti seluruh gerak-gerik manusia. Di dunia yang telah terintegrasi dengan The Circle; privasi, rahasia, serta identitas anonim adalah kejahatan berat. The Circle perlahan berubah menjadi tiran yang mengontrol penuh hak dan kebebasan manusia. Terjebak dalam jerat The Circle, pilihan Mae kini hanya dua: tetap aman dalam lingkaran penguasa, atau membahayakan nyawanya untuk menumbangkan raksasa digital tersebut.


Maebellina Renner Holland (Mae), dirinya begitu bahagia saat akhirnya bisa bekerja di The Circle. Siapa juga yang tidak bahagia bisa menjadi bagian dari perusahaan teknologi dan internet terbesar di dunia? Di hari pertama Mae masuk kantor ia sudah dibuat terkesima dengan suasana kantornya. Semua serba ada, mulai dari ruang olahraga, ruang makan, dan aneka tempat rekreasi lainnya. . Bahkan ada juga asrama yang disediakan untuk karyawan yang ingin menginap.

Adalah Annie, sahabat yang sudah seperti saudara sendiri yang membantu Mae mendapat posisi di bagian Customer Experience. Mae sangat berterima kasih pada Annie yang telah membantunya keluar dari pekerjaan lamanya yang menyiksanya. Ia pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin, apalagi Mae juga punya masalah pribadi terkait kondisi ayahnya yang sedang sakit.

Dalang utama di balik raksasa The Circle ada tiga orang. Mereka disebut Three Wise Men, yaitu Tyler Alexander Gospodinov (Ty) yang disebut si anak ajaib seorang visioner dan pendiri The Circle, Eamon Bailey sosok yang dikenal ramah dan paling sering muncul, serta Tom Stenton si Capitalist Prime. Dari ketiganya yang paling jarang muncul adalah Ty tapi justru Ty inilah yang paling berjasa. Dirinya lah yang mengembangkan sistem awal, Unified Operating System—Sistem Operasi Tunggal yang kemudian dikenal dengan nama TruYou. Dengan TruYou, seseorang hanya punya satu akun, satu identitas, satu kata sandi, dan satu sistem pembayaran. Dengan TruYou, segala sesuatunya bisa lebih transparan dan salah satu dampaknya adalah tak ada lagi orang yang meninggalkan komentar apalagi berita hoax sembarangan di dunia maya. Karena seseorang tak punya identitas majemuk.
Mae langsung menunjukkan profesionalismenya dalam bekerja. Dirinya langsung jadi sorotan. Ia berusaha sebaik mungkin untuk beradaptasi meski memang tak mudah. Namun, suatu ketika dirinya bertatap muka dengan orang-orang dari bagian HRD. Mae dianggap tak mau terbuka atau berbaur dengan rekan kerjanya.


“Bagaimana menurutmu perasaan Staf Circle lain kalau mereka tahu bahwa secara fisik kau begitu dekat, bahwa kau tampaknya adalah bagian dari komunitas di sini, tetapi kau tidak ingin mereka tahu hobi dan minatmu? Bagaimana perasaan mereka menurutmu?”
(Josiah, hlm. 224)


Bekerja di tempat yang paling keren tak lantas membuat hidup Mae mulus. Dia masih saja harus berdebat dengan mantan pacarnya, Mercer. Mercer berulang kali mengkritik pekerjaan Mae yang menurutnya terlalu berlebihan. Mae juga terlibat masalah ketika hobi berkayaknya mendatangkan bencana sendiri. Ditambah lagi Francis yang sempat mereka video intim saat berdua.

Juga kemunculan seorang pria misterius yang mengaku bernama Kalden. Sosok berambut kelabu itu membuat Mae penasaran. Susah sekali untuk menemukan identitas aslinya. Annie pun tak tahu menahu ada sosok tersebut. Kalau pun Kalden seorang mata-mata, bagaimana ia bisa tahu tempat-tempat rahasia di The Circle? Bagaimana juga ia bisa tahu soal Proyek 9 yang merupakan riset rahasia The Circle? Saya pun dibuat penasaran dengan sosok Kalden ini. Dan ketika mengetahui identitas aslinya, wah benar-benar di luar dugaan sekali.


“Dan, yang lebih parah, kau tidak melakukan hal-hal menarik lagi. Kau tidak melihat apa-apa, tidak mengatakan apa-apa. Yang menjadi paradoks adalah, kau  mengira menjadi pusat dunia, dan itu membuat pendapatmu lebih berharga, tetapi dirimu sendiri menjadi kurang hidup. Taruhan, pasti kau sudah berbulan-bulan tidak melakukan sesuatu di luar layar. Iya, kan?”
(Mercer, hlm. 311)


Membaca novel ini saya jadi ikut membayangkan suasana bekerja di kampus megah yang diselingi pengenalan program dan proyek baru. Mulai dari SeeChange, ChipChildTrack, SoulSearch, dan PastPerfect. Setiap program memiliki tujuan mulia tapi tak disangka efeknya bisa begitu berbahaya. Mercer dan Annie turut menjadi korban langsung dari sebagian proyek tersebut.


“Tetapi, aku percaya bahwa manusia dapat menjadi sempurna. Kita bisa menjadi lebih baik. Menurutku, kita bisa menjadi sempurna atau mendekati sempurna. Dan, ketika kita menjadi versi terbaik dari diri kita, kemungkinannya sangat luas. Kita dapat memecahkan masalah apa pun. Kita dapat menyembuhkan penyakit apa pun, mengakhiri kelaparan, semuanya, karena kita tidak akan dibebani dengan semua kelemahan kita, rahasia-rahasia kecil kita, penimbunan informasi dan ilmu kita. Pada akhirnya kita bisa merealisasikan potensi kita.”
(Bailey, hlm. 348)


Lambat laun Mae ikut terlibat dalam permainan The Circle. Hidupnya benar-benar transparan. Dia selalu mengenakan kamera dan selalu dimonitor. Secara daring (online) setiap orang dari berbagai belahan dunia bisa mengetahui dan mengikuti gerak-geriknya. Tak ada lagi yang namanya privasi. Untuk ke kamar mandi pun, audio dimatikan hanya dalam waktu tiga menit. Mau juga memiliki peran besar dalam proyek penyempurnaan The Circle. The Circle dengan ide barunya ingin menyempurnakan demokrasi. Mae pun dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan yang sangat sulit dan melibatkan hajat hidup orang banyak.

Setelah membaca The Circle, saya jadi menemukan sudut pandang baru soal internet, dunia digital, dan soal privasi. Ketika semuanya serba transparan, memang banyak hal yang bisa dicegah seperti tindak kejahatan dan kriminalitas. Tapi dari situ juga ada yang dikorbankan. Privasi berubah jadi sebuah kejahatan. Semua orang dituntut untuk mau terbuka untuk setiap hal. Tak ada lagi yang namanya rahasia. Kebebasan untuk menyimpan rahasia pun lenyap.

Buat yang suka novel dengan tema dunia utopia, teknologi, dan konspirasi, novel The Circle cocok banget buatmu. Bersiaplah untuk diajak memikirkan ulang apakah selama ini kita sudah benar-benar menggunakan internet dan kecanggihan teknologi dengan manusiawi dan bijaksana?
(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading