1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Kehilangan Pekerjaan Jelang Pernikahan Hingga Terpaksa Menyalahi Tradisi

Selasa, 11 September 2018 11:00 Penulis: Mutie - Bojonegoro
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Vemale.com - Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Saat menjelang pernikahan pasti kita akan mengalami beberapa godaan dan ujian hidup, mulai dari keluarga yang tidak merestui, mantan yang datang kembali, perbedaan agama, ditipu oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kehilangan pekerjaan yang menopang keuangan, kecelakaan, bencana alam dan lain-lain. Tapi yakinlah itu semua ujian yang akan menjadikan kita semakin dewasa dan kuat untuk menjalani kehidupan. Seperti sebuah pedang yang tajam dan indah, pedang  itu melalui suatu proses yaitu dipanaskan dalam bara api yang sangat panas, dan ditempa berkali-kali. Seperti itulah manusia diuji berkali-kali untuk menjadi manusia yang berkualitas.

Begitu juga saat aku akan menikah, aku kehilangan pekerjaan, hal ini membuatku sangat stres, apalagi harus mengurus pernikahan yang sudah deadline. Keluargaku adalah keluarga yang mandiri, kakak-kakakku menikah tanpa bantuan orangtua,mereka menikah dengan hasil kerja keras  mereka sendiri. Mereka menolak uang dari orangtuaku dan tidak mau merepotkan orangtuaku. Dan hal inilah yang membuatku sangat sedih.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

“Haruskah aku merepotkan orangtua dan keluargaku untuk membantu biaya pernikahan ini?” pikirku dalam hati. Kepala terasa pusing, jantung berdebar, emosi, dan ketakutan, dan  menangis adalah luapan semua depresi ini. Pernikahan yang tak terbayangkan sebelumnya, karena aku sangat menikmati kesendirianku, benar-benar membuatku tidak mampu berpikir. Ingin rasanya aku lari meninggalkan semua, meninggalkan kenyataan aku ingin kabur ke tempat yang jauh.  Namun, setelah kupikir lagi, betapa pengecutnya aku, jika aku pergi nanti pasti banyak orang yang akan terluka. Keluargaku, Keluarga calon suamiku, dan masih banyak lagi akan kecewa kepadaku.

Aku tidak pernah cerita tentang masalah keuanganku, tetapi mereka sangat pengertian dan perhatian. Melihat aku sudah tidak bekerja, mereka sepakat membantuku. Sebenarnya aku tidak mau aku menerima bantuan keuangan dari orangtuaku dan saudara-saudaraku. Tapi mereka memberikan semangat, rezeki bisa dicari, yang penting mereka bahagia melihatku bisa menikah. ”Kita satu keluarga, tidak mungkin membuat kamu berjuang sendirian, itulah arti keluarga. Susah senang kita juga ikut merasakan," kata kakakku. Yang membuatku termenung dan menyadari arti keluarga sesungguhnya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Di saat itu, aku juga merasa bimbang untuk melanjutkan pernikahan, karena keluarga calon suami juga menginginkan pesta yang mewah, dan calon suamiku  merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Apalagi dia melangkahi dua orang kakak laki-lakinya yang belum menikah. Mereka berjanji mencarikan solusi untuk mengatasi mitos ini.

Saya mengerti perasaan calon kakak iparku, karena mitos kalau dilangkahi adik menikah pasti susah jodohnya, dan ini tentu akan menyakiti hati kedua calon kakak iparku.  Pada akhirnya kedua calon kakak iparku mengikhlaskan adiknya menikah dulu. Sesuai tradisi, untuk menghilangkan mitos ini, kami harus memberikan hadiah kepada dua kakak laki-lakinya. Berupa pakaian, sepatu dan lain-lain sesuai keinginan dan permintaan kakak.

Akhirnya semua pihak keluarga sepakat kalau pernikahan kami dibuat sederhana saja, yang penting sah, tidak punya beban utang ke orang lain, dan tidak membuat kakak ipar merasa tersakiti. Menjaga perasaan calon kakak ipar dan demi kebaikan hidup nanti selanjutnya, tanpa beban utang, kami memutuskan pernikahan yang sederhana, cukup di satu tempat, yaitu di tempat mempelai laki-laki. Hal ini tentu saja tidak lazim, dan aku tahu pasti akan menjadi omongan orang, karena dianggap melanggar tradisi. Karena, biasanya pesta diadakan di rumah mempelai perempuan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Berdasarkan tradisi pesta pernikahan, seharusnya diadakan dua kali, di rumah mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Tentu hal itu pasti akan membuat pengeluaran lebih banyak. Tetapi aku dan calon suami tidak peduli omongan orang, yang terpenting adalah niatnya dan sah menurut hukum dan agama.

Menjelang hari penikahanku, semua pihak membantu memberi sumbangan yang tidak terduga. Seperti mendapat mukjizat yang luar biasa, biaya dekorasi, panggung,tenda, catering dan baju penggantin dan semua hal, di bawah budget yang ada. Aku yang tadinya pesimis, bisa melewati masalah ini terharu rasanya. Semua orang, sangat membantu mengurus pernikahanku, Tuhan mengerti akan kesusahanku semua dilancarkan dan dimudahkan pada waktunya.

Tuhan yang mempunyai rahasia kehidupan ini. Jodoh, kematian dan rezeki semua diatur oleh-Nya. Dan niat suci untuk menikah, semua hal dimudahkan. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan Maha segalanya dan sempurna. Ketakutanku, kekhawatiranku dan gelisahku sirna bukan karena keinginanku tapi karena kehendak-Nya.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
#MovieTalk Sakral - Perdana Main Film, Olla Ramlan Ketagihan