1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Menikah di Usia Senja, Bukti Cinta Sejati Selalu Datang di Waktu Terindah

Sabtu, 08 September 2018 13:00 Penulis: T. Anisah - Bandung
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Vemale.com - Cinta sejati akan selalu datang di waktu yang terindah. Seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini yang menceritakan seorang pria yang mengikat janji suci untuk pertama kalinya di usianya yang beranjak senja.

***

Kakek dengan senyum ramah itu bernama Pak Rahman. Beliau adalah seorang anggota DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) di Masjid kampusku. Beliau selalu mengucapkan salam setiap kami berpapasan dimanapun. Konon, saat kuliah beliau adalah mahasiswa yang berprestasi. Seumur hidupnya beliau baktikan diri untuk perkembangan ilmu pengetahuan, hingga beliau lupa untuk menikah.

Aku tidak tahu pasti bagaimana kisah cintanya di masa muda dulu. Apakah beliau pernah mengalami trauma, atau beliau terlalu pemilih, sehingga orang secemerlang dirinya tidak juga menemukan pendamping hidup hingga usia senjanya. Padahal, dengan prestasinya, aku yakin masa muda Pak Rahman begitu diingini oleh gadis-gadis di masanya. Setidaknya itu yang dirasakan oleh gadis-gadis di masaku jika melihat mas-mas ganteng yang berkharisma seperti Pak Rahman muda.

Aku sempat membayangkan, bagaimana perasaan Pak Rahman setiap kali melihat muda-mudi seusiaku yang mengikat janji suci di masjid tempat Pak Rahman membaktikan diri sekarang. Akankah terbesit di hatinya, “Ya Allah, kapan giliranku?”

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Pemuda-pemuda seusiaku saja langsung dilanda galau jika mendapat undangan pernikahan dari temannya, bagaimana dengan Pak Rahman? Hampir setiap akhir pekan di bulan Syawal dan Dzulhijah, masjid dipenuhi agenda pernikahan. Sedangkan beliaulah yang mengurus masjid itu, yang setiap saat berdiam diri di sana. Namun beliau adalah Pak Rahman, sikapnya selalu tenang.

Dalam kesendiriannya, beliau habiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Bahkan setelah beliau pensiun dari pekerjaannya, beliau baktikan diri untuk mengurus masjid kampus tempat beliau menimba ilmu dulu. Tak ada waktu untuk bergalau ria seperti pemuda-pemuda zaman sekarang.

Suatu hari, Pak Rahman pernah berbincang dengan aku dan kawan-kawan. Sepertinya beliau baru mendapat teguran atau semacamnya, beliau terlihat gelisah. Lalu mencurahkan kegelisahannya kepada kami berupa nasihat-nasihat bijak.

“Tidak usah risau tentang pernikahan, setiap orang sudah mendapatkan garis takdirnya masing-masing,” kata Pak Rahman. “Serahkan saja semuanya sama Allah, pasti akan indah,” lanjutnya dengan suara lembut. Alunan intonasi dan kata-katanya sebanding dengan kualitas dirinya. Terasa dalam, menandakan beliau seorang yang berilmu dan pintar. Membuatku ikut merasakan ruh dari apa yang disampaikannya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

“Percaya kan dengan takdir Allah?” tanya Pak Rahman. Kami mengangguk.

“Tidak usah risau, tidak usah tergesa-gesa,” katanya. “Biar Allah saja yang mengatur. Rencana manusia bisa gagal dan berantakan, tapi rencana Allah,” Pak Rahman menghentikan sejenak perkataannya, beliau menatap kami lekat-lekat. Seolah ingin memberi penekanan tentang apa yang akan diucapkannya. Lalu kulihat matanya terlihat nanar, “Maha Sempurna,” katanya dengan nada penuh keyakinan.

Pak Rahman lalu mengelus dadanya dengan nafas yang berat. “Saya ini, tidak pernah bermaksud menentang perintah Allah, Demi Allah!” katanya dengan memejamkan mata. Seolah kata-kata itu keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. “Kata Allah, jika seorang muslim sudah siap dan mampu, maka nikahkanlah dia dengan wanita dari kalangannya. Allah menyuruh setiap muslim untuk menikah. Menikah itu wajib hukumnya di agama kita, bahkan nilainya adalah separuh dari agama,” kata Pak Rahman.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

“Menikah itu adalah ibadah terpanjang, terlama, terberat bagi orang-orang yang beriman. Makanya nilainya sangat besar dibanding ibadah-ibadah lain. Tidaklah sempurna agama seorang muslim jika tidak menikah,” Pak Rahman menghela napas panjang. “Ya Allah, bagaimana hisab saya di mata Allah ya?” gumam Pak Rahman.

Aku dan teman-teman saling melirik. Aku bingung harus berkata apa. Ingin aku memotivasi beliau, “Allah sudah menyiapkan bidadari untuk mendampingi Bapak,” tapi aku takut terlihat lancang mengatakannya. Ah, lihatlah saat beliau sedang galau. Kegalauannya bukan karena memikirkan pendamping hidup yang tidak juga dipertemukan, melainkan tentang pertanggungjawabannya di hadapan Tuhannya.

Tiba-tiba Pak Rahman tertawa kecil, “Hihihi...” katanya. Sepertinya beliau sedang menertawakan dirinya sendiri. “Tapi beneran, Demi Allah, saya ini tidak pernah punya niatan untuk tidak menikah. Dosa!” katanya.

“Omong-omong, kalau saya menikah di usia sesenja ini, gimana ya? Lucu nggak?” tanyanya kepada kami.
Kami terperangah, “Saya ikut senang Pak kalo Bapak mau nikah,” kataku.
“Setuju!” kata teman-teman yang lain.
“Pak, kalau Bapak mau nikah, kita siap bantu-bantu,” kataku. Yang lain ikut mengangguk.
“Sudah, sudah, doakan saja yang terbaik ya,” kata Pak Rahman dengan sisa tawanya.
“Aamiin...” jawab kami.

Beberapa waktu berlalu, sampai suatu hari kami mendapat kabar yang mengejutkan di masjid tempat kami beribadah di sela waktu kuliah itu. Seorang anggota DKM memberi kami undangan, sebuah undangan pernikahan.

“Undangan siapa Mbak?” tanyaku kepada mbak-mbak yang memberikan undangan itu kepada kami.
“Pak Rahman,” katanya.
“Apa?” ucap kami bersamaan.
“Pak Rahman...” jawab si Mbaknya.
“Masha Allah...”

Kami tidak henti-hentinya mengucap syukur. Perasaanku dipenuhi rasa takjub dan haru. Akhirnya Pak Rahman menemukan cinta sejatinya. Kami langsung bergegas mencari Pak Rahman, namun tidak kami temukan. Di Sekretariat, di selasar Masjid tempat beliau duduk dengan khusyuk membaca Alquran, tidak juga kami temukan. Padahal kami ingin sekali mendengar kabar bahagia itu darinya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Esoknya, aku mendapatkan selebaran buletin dari DKM kampusku. Ada yang berbeda dengan buletin itu. Buletin yang biasanya bertema pengetahuan dan sosial, atau terkait isu-isu terkini, kini mengambil tema pernikahan. Ada foto seorang laki-laki dan perempuan duduk berjauhan sambil tertunduk malu di halaman muka buletin itu, dengan judul “Merajut Cinta di Usia Senja”.

Sepertinya seorang laki-laki dan perempuan yang usianya cukup matang. Masha Allah, itu adalah Pak Rahman, dan wanita itu sepertinya calon istrinya. Itu adalah tulisan Pak Rahman. Dalam tulisan itu, beliau memaparkan alasannya menyendiri bukan karena tidak ingin menikah, melainkan semuanya sudah diatur dengan begitu rapi oleh Allah. Persis seperti yang beliau sampaikan kepada kami saat itu. Dan sekarang, beliau menemukan cinta sejatinya, dengan orang yang tepat, dan di waktu yang tepat yang sudah diatur oleh sebaik-baik pengatur segala urusan, Allah. Oh, rupanya ini kenapa kemarin Pak Rahman susah ditemui, beliau sibuk pemotretan untuk tayang di buletin ini. Hihihi.

Hari yang ditunggu pun tiba. Aku sudah mengambil posisi strategis di ruang utama masjid untuk merekam detik-detik ijab qabul Pak Rahman. Oh Tuhan, aku ingin menangis. Aku terharu. Banyak yang berkata yang tidak-tidak tentang Pak Rahman, hingga beliau mencurahkan isi hatinya kepada kami tempo hari. Beliau hanya ingin menjelaskan, bahwa beliau melajang bukan karena tidak ingin menikah, itu sama saja dengan menentang Tuhan namanya. Lalu kini, Allah menjawab nyinyiran orang dengan sesuatu yang sangat indah. Ah, aku tidak bisa menahan air mata haruku.

Pak Rahman datang dengan didampingi sanak keluarganya. Mereka mengambil posisi ijab kabul di tengah-tengah ruang utama masjid.  Pak Rahman tampak begitu tenang dan berwibawa. Beliau mengucapkan ijab dengan begitu tenang, lancar tanpa terbata. Lalu saat penghulu bertanya, “Bagaimana saksi, sah?”

Seisi Masjid tampak bergemuruh mengucapkan, “Sah!”
Masha Allah... aku pun turut berteriak, “Sah!!!” ketika itu.

Air mataku bercucuran tak henti-hentinya melihat momen haru ini.

Setelah dinyatakan sah, istri Pak Rahman dibawa masuk dan disandingkan di samping Pak Rahman. Masha Allah, mereka tidak ada bedanya dengan pengantin muda, masih malu-malu saat bertemu. Pak Rahman dan istrinya saling duduk berjauhan dan saling menunduk. Baru setelah penghulu mengatakan, “Sekarang, kalian sudah halal untuk berkumpul, suami boleh menyentuh istrinya sebagai simbolik,” lalu mereka bersalaman.

Ah, Pak Rahman, selamat ya Pak. Semoga keluarga kecil kalian selalu diberkati. Meskipun mungkin memiliki keturunan bukan lagi menjadi fokus kalian, tapi jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin bukan? Aku doakan semoga kalian mendapatkan keturunan yang saleh, yang berkarakter seperti ibu bapaknya. Aku pun berdoa semoga kalian panjang umur, dan terus memberikan inspirasi untuk kami.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Halangi Bajaj, Pejalan Kaki Tiduran di Trotoar