1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Belum Menikah di Usia 32 Tahun, Pria yang Kukira Jodohku Ternyata Pengecut

Senin, 16 Juli 2018 13:00 Penulis: R. D. - Sambas
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/alvin mahmudov

Vemale.com - Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Bagi seorang wanita berusia 32 tahun, pertanyaan kapan menikah menjadi momok yang sangat ingin aku hindari. Tidak hanya itu, cibiran perawan tua sakit rasanya saat terdengar di telingaku.

Di zaman modern saat ini, usia 30-an tahun belum menikah seharusnya bukanlah masalah. Tapi di daerahku bahkan dalam keluarga besarku itu seakan-akan seperti sebuah kutukan yang menjadi cibiran dan ocehan. Wanita mana yang tidak ingin menjadi sempurna dengan menikah, termasuk diriku.

Di usia saat ini, bukannya menyombongkan diri, tapi aku sudah mempunyai karier yang bagus, sebuah rumah yang kubeli dengan hasil kerja kerasku, tabungan maupun aset lainnya. Dari segi kemapanan aku bersyukur atas apa yang aku dapatkan sekarang. Hanya saja aku selalu gagal dalam menjalin hubungan cinta yang akan berujung ke pelaminan. Sehingga terngiang di benakku, betapa sulitnya diriku untuk menemukan jodoh ketimbang aku mencari kerja.

Sejak kecil aku sudah diajarkan oleh orangtuaku hidup yang baik. Hidup dengan menuliskan semua rencana jangka pendek dan panjang yang akan diraih. Dari semua yang pernah kutulis, aku berhasil meraih semuanya. Namun satu hal yang belum bisa kucapai adalah menikah.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/chris knight

Aku menuliskan akan menikah di usia ku ke 27 tahun dalam rencana hidupku, setelah aku selesai kuliah dan mendapatkan kemapanan dalam karierku. Namun sekali aku gagal, janji dan rencana yang kubuat bersama kekasihku hancur berkeping-keping. Janjinya akan melamarku saat dia sukses usahanya di usianya 30 tahun itu, malah membuat kekecewaan yang besar bagiku.

Orang yang paling aku cintai yang aku tunggu, yang kudampingi berjuang meraih kesuksesannya malah memilih wanita lain yang akan dia nikahi. Amarahku yang memuncak kuredam dengan kebaikan hati dan kesabaran. Meskipun berurai air mata, aku tetap tegar, mungkin inilah jalan hidupku. Aku yakin aku bisa mendapatkan pria yang lebih baik lagi dalam hidupku. Dan di awal 2012, aku bertemu dengan teman lamaku, kami menjalin hubungan serius selama lima bulan. Kami memutuskan akan segera menikah namun restu keluarga tidak bisa kami dapatkan. Dan akhirnya kami juga harus berpisah.

Setelah itu aku bertemu lagi dengan kekasih lamaku itu, dia ingin kembali. Dia menceritakan segalanya alasan dia bersama dengan wanita itu. Menurutnya ia dijodohkan keluarganya, namun sejak beberapa bulan bersama wanita itu, dia tidak bisa berhenti untuk selalu mengingatku. Dia membandingkan aku dengan wanita itu. Aku merasa sangat benci, mengapa wanita harus dijadikan bahan perbandingan. Karena aku juga wanita. Namun rasa cinta yang masih terasa, tidak bisa aku bendung. Lima tahun menjalin cinta darinya, lima bulan berpisah bahkan aku sempat akan menikah dengan pria lain, akhirnya aku kembali padanya lagi.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/elena ferrer

Kebahagian kami tak berlangsung lama. Aku dibohongi. Aku merasa sangat sakit hati. Dia ternyata telah menikah. Kenapa dia kembali lagi padaku? Bisa jadi aku dicap sebagai pelakor. Aku mengetahui itu dari sahabatku. Perasaanku kala itu bercampur jadi satu, marah, sakit, dendam, namun satu kelemahanku semua itu dipatahkan oleh kebaikanku. Malah aku yang membiayai kelahiran putranya, dikarenakan dia sedang berada dalam kerugian besar dari usahanya. Itulah aku, yang tak bisa membenci. Sekali lagi impianku akan menikah gagal di tahun 2015.

Saat hatiku patah, seorang teman sekolahku hadir menawarkan cinta padaku. Cintanya terpendam bertahun-tahun lamanya, dan kini baru ia berani mengungkapkannya. Ia sangat tergila-gila padaku. Dan aku merespon positif. Tapi sahabatku mengingatkan jangan sampai aku menjadikannya pelampiasan kekecewaan seperti hubunganku sebelumnya. Aku menolak cintanya, alasanku cukup klise aku tidak suka pria pendek. Ibuku sangat marah padaku. Ibuku sangat menyukainya, dan telah menganggapnya sebagai menantu. Tapi hati dan perasaaanku tidak bisa dibohongi, aku tidak mencintainya. Rasa kekecewaanku terlalu dalam, tujuh tahun aku menjalin cinta, kandas begitu saja.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/elise st clair

Pertanyaan kapan menikah? Cibiran aku terlalu pemilih. Cibiran tak laku-laku. Cibiran aku ini wanita yang sombong. Sangat sakit sekali mendengarnya. Sesekali air mataku menetes. Perjodohan demi perjodohan ibuku lakukan padaku membuatku muak. Tiga tahun sudah berlalu, hingga kini usiaku 32 tahun. Tanteku mengenalkanku pada seorang kerabatnya. Setelah sekian tahun aku menutup hati, dia berhasil membuka kembali hatiku. Aku merasa cocok dengannya. Mungkin kami pernah merasakan bagaimana rasanya kecewa dan patah hati. Dia dulunya pernah gagal menikah, dan sejak itu dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Namun entah energi apa yang bisa membuat dia mau mengenalku.

Dia mengutarakan keseriusannya padaku. Seluruh keluargapun telah merestui. Aku sangat bahagia. Akhirnya aku menemukan pria yang sangat baik. Dia juga sangat tampan dan agamanya juga bagus. Bersamanya aku merasa tenang dan nyaman. Setelah bertahun-tahun aku sendiri, kehadirannya memberikan warna dalam hidupku. Rencana pernikahanpun sudah mulai aku persiapkan. Mulai dari baju hingga konsep resepsi pernikahan. Setiap hari teman-teman dan keluargaku bertanya kapan. Kapan tanggal pernikahannya? Aku hanya tersenyum.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/katherine hanlon

Dia dan keluarganya belum memutuskan waktu yang tepatnya. Bulan berganti bulan selalu batal rencana untuk bertunangan. Di saat orang-orang bertanya kapan, aku juga bertanya padanya, "Kapan kita akan menikah?" Dan masih belum ada jawaban pasti, dia hanya menjawab, "Banyak-banyak berdoa aja, Dek. Kita jalani aja dulu, Dek."

Kian hari, terlihat dia makin menjauh. Komunikasi mulai renggang, dan kadang aku yang terkesan memaksa hanya sekadar rindu untuk bertemu. Aku sudah mulai menyadari hal itu sejak bulan Maret lalu. Tapi hubungan kami masih berjalan baik hingga April dan Mei. Bahkan saat ulang Tahunnya, aku sudah mempersiapkan sebuah jam tangan yang akan aku hadiahkan padanya. Tepat jam 12 malam aku menelepon dan mengucapkan selamat ulang tahun, nada dia datar-datar saja.

Keesokan harinya, aku sekali lagi mengirim pesan padanya, “Kamu nggak mau ketemu saya hari ini? Nggak mau kado?” Dia langsung menjawab, “Aku minta kado sepatu olahraga saja." Aku terdiam. Padahal aku sudah membungkus jam tangan untuknya. Berkali-kali dia menelepon diriku, tak kuangkat. Dan sehabis Maghrib dia datang menjemputku, dia menraktirku makan selanjutkan kami ke mall untuk mencari sepatu olahraga. Aku membelikannya dan menyimpan jam tangan itu. Dia terlihat sangat bahagia. Meskipun aku sedikit kecewa, tapi aku bahagia melihat dia sangat bahagia hari ini. Kami menghabiskan malam ini dengan indah, jalan, dan makan bersama. Namun setelah beberapa hari kemudian, dia terlihat mulai cuek lagi, hingga menyambut Ramadan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/samantha gades

Aku kembali bertanya kapan. "Kapan kamu akan menikahiku? Aku tak muda lagi." Jawabannya hanya, "Kita jalani aja." Logikaku terus berpikir, seakan-akan dia menjauh untuk menjauh selamanya. Sepertinya tidak ada niat dan persiapan dia untuk menikahiku. Tapi sekali lagi hatiku mengatakan dia jodohku.

Logika dan hatiku berperang, dan tak ada yang mau mengalah. Hingga saat lebaran tiba, aku galau. Dia tak memberikan kabar, apa lagi berniat untuk silaturahmi ke rumahku. Ditelepon seringnya tak diangkat, pesanku pun dijawab seadanya. Aku sudah pasrah dan tawakal. Apapun akhirnya aku terima.

Setiap bersilaturahmi ke rumah keluarga maupun teman selalu ditanya kapan. "Kapan tanggal nikahnya?" Aku tak berani menjawab selain mohon doanya dan kelancaran. Saat ini aku sangat putus asa, hingga beberapa VC dan telepon tak kuangkat. Kulihat dia, dia juga mengirim pesan akan datang ke rumahku. Aku senangnya bukan kepalang. Aku sangat bahagia. Aku benar-benar dimabuk cinta. Aku yakin hatikulah yang menang dan logikaku kalah.

Dia datang ke rumahku, disambut baik oleh keluargaku. Namun aku melihat wajah yang penuh dengan ketakutan dan keresahan. Saat ibuku ingin menanyakan, "Kapan kamu menikahi anak saya?" aku larang. Sebelum berpamitan, dia bilang akan datang lagi. Aku dan keluargaku bahagia, kami berpikir dia akan memberikan kabar bahagia, tanggal pernikahan. Namun ditunggu-ditunggu dia tak datang. Ditelepon juga tak diangkat.

Tepat tanggal 10 Juli 2018 ini tanteku bilang, "Kalian sudah berakhir dan tak jadi menikah." Aku bagai disambar petir. Aku berusaha tegar. Namun aku tetap ingin tahu mengapa ia tak memberitahuku.

Aku menelepon tak diangkat dan akhirnya kutulis pesan. Aku meminta kejelasan daripadanya. Teramat lama baru pesanku di balas, hanya dijawabnya salamku saja. Tapi aku terus mendesak dan hingga akhirnya kudapatkan jawaban.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/tom the photographer

Saat orang-orang bertanya kapan menikah, kapan nyebar undangan, aku pun bertanya, "Kapan kamu melamarku? Kapan kamu akan menikahiku?" Jawaban pastinya aku dapatkan di hari ini juga, “Kamu wanita yang sangat baik, pasti akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Aku minta maaf sepertinya hanya bisa menjadi temanmu saja. Sampaikan permintaan maafku juga pada orang tuamu. Dan jangan putuskan silaturahmi kita."

Aku terdiam sejenak menafsirkan kata-kata itu. Sepuluh bulan, meskipun tak selama tujuh tahun tapi aku merasa sangat sia-sia. Mengapa tidak diakhiri saja delapan bulan lalu, dan mengapa juga harus tahunya dari orang lain. Aku masih berusaha tegar dalam menjawab kata-katanya. Aku berusaha menerima.

Air mataku terus menetes, hatiku berkecamuk. Hingga keesokan harinya kubuka WA-ku. Dia membuat sebuah status, dan aku komentari. Aku juga berpesan padanya. "Hiduplah dalam keberkahan. Berhentilah merokok, bekerjalah dengan baik, jangan hanya berpikir tapi lakukan dengan tindakan-tindakan dan gebrakan-gebrakan yang tulus, hidup dengan baik, yakin kamu akan jadi pemimpin yang sukses." Masih tetap dijawabnya, "Terima kasih," dan dia masih tetap meminta agar silaturahmi di antara kami masih tetap terjaga sampai kapanpun. Namun aku keluar dari zonaku, zona yang biasa kubuat nyaman, halus dan lembut, sekarang terlihat aku seorang yang pendendam dan penuh dengan kebencian.

Aku tidak mau menjadi keluarga, tidak bisa menjadi teman dan anggap saja tidak pernah mengenalnya sama sekali. Dia sangat terkejut, dan mengatakan tidak boleh memutuskan silaturahmi. Namun aku tak peduli apa namanya, yang jelas aku tidak ingin mengingat semua yang terjadi di antara aku dan dia, aku terlihat bodoh dan dia sangat menyakiti.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/zelle duda

Petanyaan, "Kapan menikah?" Akhirnya kujawab juga, "Aku tak jadi menikah." Aku selalu berusaha untuk tetap bertahan, ingin melupakan, namun justru itu membuat aku teramat sedih. Aku berpikir apakah aku harus menangis setiap hari, begitu ingat dia memutuskanku, kebencian mengalir di seluruh tubuhku. Hal ini sangat menyiksaku.

Aku berusaha menghapus semua kontak dan kenangan dengannya. Kemudian aku melihat fotonya, kupandangi, aku benar-benar tidak bisa membencinya. Aku menyayanginya. Betapa bodohnya aku. Tapi dengan memandangnya, mengingat kebaikannya, hatiku menjadi tenang. Hatiku terasa damai. Jadi akupun berkesimpulan, aku tidak bisa membenci dia meskipun dia telah menyakiti hatiku.

Aku ingat pesan ayahku, jangan pernah membenci sekalipun orang itu menyakitimu. Bukannya kamu bodoh, tapi akan ada kebaikan yang menanti kita nantinya. Aku bersyukur, aku punya ibu yang menjadi batu karang bagiku, aku punya sahabat baik yang menghapus air mataku, aku punya teman-teman yang mendukungku.

Akhirnya logika menang. Namun aku yakin istikharahku tak akan pernah salah. Tangisku kini mungkin hanya sebentar, lebih baik jika dengan jodoh yang salah akan menangis seumur hidupku. Aku tetap tegar dan yakin Tuhan akan menyiapkan rencana indah setelah ini. Sebagai wanita yang mandiri, wanita yang cerdas, tangis itu hanya pelampiasan emosi lembut namun kesabaran dan ketegaran serta kebaikan hati itu pasti akan membawa kita ke kebahagiaan abadi nantinya. Dan kini 14 Juli 2018 aku bisa tersenyum.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
9 Atlet Ganteng & Cantik Indonesia yang Berlaga di Asian Games 2018