1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Menolak Lamaran Pria Mapan Sebab Belum Bisa Move On dari Mantan Terindah

Rabu, 11 Juli 2018 19:30 Penulis: Sri Suswati - Lampung
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/antony xia

Vemale.com - Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Sebuah kalimat yang sangat menyakitkan saat teman dan sahabatku bertanya, "Kapan kamu mau move on? Kamu nggak bakalan move on kalau kamu nggak cari yang lain, atau harusnya kamu terima aja cinta si A biar cepet move on." Dan masih banyak lagi, sedang mereka sangat tahu aku bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta.

Aku belum juga menemukan pasangan hidup setelah hampir 7 tahun putus dari mantan kekasih yang amat aku sayangi. Entah mengapa aku begitu sulit membuka hati untuk seorang pria, bahkan beberapa lamaran pria mapan aku tolak dengan satu kalimat, "Aku belum siap menikah." Jika aku sudah berkata demikian ayah dan mamahku hanya diam tak banyak berkomentar, mereka sudah lelah memarahiku, terakhir seorang pengusaha resto datang melamarku dengan mahar yang fantastis untuk ukuran di kampung halamanku, namun dengan senyum tanpa merasa bersalah aku menolaknya dengan alasan yang sama.

Alih-alih aku menikah tapi hatiku tak bisa fokus padanya lebih baik jika aku menyuguhkan empedu sebelum semua terlanjur, itu pikirku, sebab pernikahan adalah hal yang sangat sakral yang tak bisa dipermainkan. Keras kepala memang sifatku, tapi aku benar-benar tidak ingin mengecewakan keluargaku terutama mamah dan ayah lebih dari ini, mereka pasti akan sangat malu dan terluka jika suatu hari nanti pernikahan yang kupaksakan akan berakhir berantakan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/sunrise

Hari terus berlalu silih berganti pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda-beda ditujukan padaku hingga aku jengah mendengarnya. Aku memutuskan cuti kerja untuk sekadar menenangkan pikiran dengan berlibur ke suatu tempat di mana aku dan mantanku belum pernah menjamahnya, berharap aku benar-benar bisa melepas segala tentang dia. Bandung. Ya, kota kembang yang selalu saja padat di akhir pekan dan hari-hari libur pada umumnya. Sengaja aku pergi di hari kerja untuk menghindari macet dan bisa mendapat tempat yang nyaman. Sesampainya di sana terasa sangat lelah aku, kupejamkan mata untuk istirahat sejenak sebelum aku mengelilingi Puncak.

Pagi yang begitu indah dengan kabut menyelimuti dan kicau burung bernyanyi sangat merdu, aku memesan capuchino di sebuah coffe shop yang berada tak jauh dari hotel tempatku menginap, tiba-tiba semerbak wangi parfum yang tak asing melintas di hidungku, spontanitas pikiranku tertuju pada seseorang yang begitu spesial di hatiku. Kutepis pikiranku lalu segera menyeruput capuchino yang tersaji di depanku, terdengar olehku suara yang begitu menggetarkan jiwaku, tanpa menunggu lama aku mencari sumber suara dan wangi yang khas.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/joshua rawson harris

Astaghfirullahalazim... Tenyata benar dugaanku. Dia mantan terindah yang meninggalkanku beberapa tahun silam tanpa sepatah kata. Dia mematung di tempanya berdiri dan menatapku tajam, tak ada yang berubah, jari manisnya pun masih kosong, hanya saja terlihat sedikit berkilau wajahnya. Tak sengaja aku memperlihatkan bulir bening yang mengalir di pipiku.

Bukan mendekat, ia bahkan membuang muka dan berlalu tanpa tanya kebenaran yang selama ini ia anggap bahwa aku menerima lamaran seorang pria di belakangnya, saat ia sedang tugas di luar kota. Aku sakit. Sekali lagi aku terluka, setelah sekian lama ia menghilang tanpa kabar ternyata dia pun masih marah padaku yang tak pernah diberinya kesempatan untuk bicara. Ingin sekali aku mengejarnya dan menjelaskan semua padanya, namun percuma sifatnya pun tak jauh beda denganku, keras kepala. Juga aku takut menerima kenyataan jika ternyata dia sudah ada yang punya.

Sore itu aku memutuskan untuk pulang setelah tahu dia pun sedang berlibur bersama teman-temannya, tertawa bersama mereka dan seolah tak mengenalku. Sengaja aku posting di media sosialku dengan privasi publik berharap dia membaca, sebab akunku sempat diblokir olehnya tapi entah kenapa tiba-tiba dibatalkan kembali blokirnya, walau tak berteman setidaknya dia bisa membaca jika privasi kualihkan ke publik.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/tomo nogi

"Tuan, aku masih sama seperti yang dulu, menyimpan cinta tulusku hanya untukmu, juga rindu yang amat biru hingga melahirkan anak-anak rindu yang kusebut kangen. Dan satu yang terpenting harus engkau tahu, aku masih menantimu, tentang prasangkamu yang selama ini kau tanamkan di hatimu itu semua keliru, sebab hingga saat ini hanya ada namamu di jiwa ragaku, kembalilah padaku jika memang mungkin bisa kembali."

Terlihat alay memang tapi aku benar-benar mencintainya tanpa syarat hingga detik ini masih terjaga cintaku. Meski ia tak pernah membalas SMS dariku, terakhir aku mencoba memberanikan diri untuk sekadar menanyakan kabarnya lewat messenger, dia hanya menjawab apa yang kutanya, tidak lebih. Bahkan dia seolah tak ingin tahu tentang kehidupanku saat ini. Entah sampai kapan aku bisa menyimpan rasaku padanya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/wang xi

Sekembali aku dari Puncak Bandung, aku tak segera masuk kerja sebab masih ada dua hari tersisa masa cutiku, aku memilih untuk diam di kamar, mencoba merenungi apa tujuan hidupku selama ini. Berlibur hanya menambah luka lama kembali menganga, harapan untuk bersanding dengannya pun entahlah.

Aku semakin kalut sebab rasaku masih utuh padanya walau ia tak peduli denganku. Diam tanpa memberi jawaban pun tak memberi keputusan yang jelas membuat hatiku merasa dia gantung. Cinta terdengar kejam di telingaku namun aku tak sanggup berhenti memikirkannya, dia selalu hadir di tiap mimpi, dan selalu menguras air mata saat kutahu rinduku tak terbalas. Doa selalu saja terlantun ditiap rinduku, lalu aku hanya mampu menunggu waktu yang kan menjawab segala rinduku agar tak ada lagi yang bertanya, "Kapan move on?"

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Richard Kyle Belum ada Niat Nikahi Jessica Iskandar