Sukses

Lifestyle

Cinta 35 Tahun Itu Kandas, Orang Ketiga Jadi Penyebabnya

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Memaafkan seseorang, apalagi dia yang pernah menghancurkan keluarga bukan hal yang mudah. Tapi menyimpan dendam pun tidak akan menyelesaikan persoalan, malah capek dan hanya menambah dosa.

Aku anak sulung dari 5 bersaudara. Kami tinggal di Bandung. Ayahku seorang PNS yang dinas di luar kota. Jarak yang tidak terlalu jauh sehingga beliau tidak perlu pindah. Setiap hari berangkat pukul 05.00 dan sampai di rumah biasanya menjelang maghrib. Pulang pergi dijalani tiap hari dengan transportasi umum. Kami tidak memiliki kendaraan. Tapi hubungan kami baik-baik saja.

Kami adalah gambaran keluarga harmonis. Selera humor ayah yang diturunkan kepada anak-anaknya menjadikan rumah ramai dengan canda dan tawa. Hubungan yang akrab menjadikan kami sangat nyaman untuk membahas apapun di keluarga ini. Kadang aku merasa seperti dalam serial drama sitkom yang tayang di televisi.

Seiring dengan berjalannya waktu, ayah menempati posisi di kantornya. Beliau menjadi pegawai yang sibuk. Seringkali harus pulang tengah malam. Karena hasil kerja kerasnya alhamdulillah kami mulai bisa memiliki kendaraan, walau dibeli dengan meminjam uang dari bank. Kendaraan yang kami beli bukan baru tapi setidaknya cukup untuk sekadar pergi bersama keluarga.

Limpahan materi yang didapat ayahku ternyata sudah mengubahnya. Keluarga bahagia kami hancur karena kehadiran perempuan lain yang menjadi saingan ibu. Padahal ibuku lebih cantik, lebih pandai merias diri, lebih pandai mengurus anak dan suami, lebih pandai memasak, harus kalah oleh seorang perempuan yang pernah sekantor dengan ayahku. Kelebihannya hanya dalam pendidikannya, walaupun aku yakin ibuku lebih pintar dari perempuan itu. Bisa dipahami jika perempuan itu seorang gadis yang penuh pesona, nyatanya dia janda beranak 3 yang baru ditinggal suaminya meninggal karena kecelakaan. Sangat miris, ternyata suaminya pun satu instansi dengan ayahku.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ingrid

Pernikahan di bawah tangan, itulah yang akhirnya mereka lakukan karena ibuku tidak ingin melepas laki-laki yang selama 35 tahun dicintainya, padahal perempuan itu menuntut ayah untuk menceraikannya. Perceraian yang tidak pernah selesai di pengadilan, membuat ayahku memaksa ibu untuk menandatangani pernyataan bahwa mereka sudah bercerai. Celakanya tindakan ayahku didukung oleh saudara-saudaranya yang mengatakan itu hanya untuk pura-pura saja. Rupanya saudara-saudara ayahku sudah termakan kebohongan ayahku kalau dia diancam oleh istri barunya, dan itu untuk keselamatan semuanya, entah kebohongan apa yang terjadi sampai saat ini aku tidak pernah tahu.

Walau perceraian di pengadilan tidak pernah tuntas, tapi secara agama status ibuku sudah bukan istrinya lagi. Bertahun-tahun ayahku tidak menafkahi lahir maupun batin. Tapi ayahku masih membiayai anak bungsunya yang masih kuliah, sedangkan keempat anak yang lain sudah menikah dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ibuku seorang yang pandai mengurus uang, sehingga walaupun ditinggal suami, beliau sedikit demi sedikit menggunakan uang tabungannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/scott webb

Sejak pernikahan ayahku, ibuku sangat terpukul. Alhamdulillah, kehadiran satu per satu cucu dari anak-anaknya telah menjadi hiburan tersendiri bagi beliau. Ketika kami bekerja beliau lah yang mengasuh anak-anak kami. Beliau tidak pernah mengizinkan aku untuk mencari pengasuh untuk anakku.

Indikator keberhasilan beliau sebagai seorang ibu salah satunya jika anak-anaknya sudah menjadi sarjana. Dengan bangga beliau sering mengatakan pada kami walaupun pendidikannya tidak tinggi tapi beliau harus berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana. Sampai suatu ketika, setelah mengantar wisuda anak bungsunya, besoknya beliau sakit. Terjadi pembengkakan pembuluh darah di batang otaknya dan empat hari kemudian beliau wafat.

Kejadian yang sangat membuat kami terpukul. Hari ketiga setelah ibu kami meninggal, ayah meminta kami untuk menerima kehadiran istrinya. Sungguh permintaan yang mustahil kami terima. Dalam rasa sedih dan kehilanganku akan ibuku, aku berpikir, bahwa kini aku sudah merasa kehilangan kedua orangtuaku. Aku memang bukan anak kecil lagi yang butuh asuhan atau biaya orang tua, tapi keberadaan orangtua menjadi pelengkap dalam hidupku.

Selama ini aku dan saudara-saudaraku selalu berusaha agar ayah kembali untuk menemani ibuku, tapi kini, sudah tidak ada lagi yang kami perjuangkan. Dan kalaupun ayah kembali bersama kami, mungkin dia akan kesepian. Kami anak-anaknya memang bisa menyediakan kebutuhan makanannya atau pakaiannya, tapi kami tidak bisa memenuhi kebutuhan yang utama. Yah, meskipun beliau usianya di atas 60 tahun. Akhirnya, dengan berat hati aku katakan pada ayahku kalau aku menerima istrinya demi kebahagiaan ayahku, demi masa tuanya agar selalu ada yang menemaninya. Tapi sesungguhnya aku belum bisa menerima sepenuhnya jika dia sebagai ibu baruku.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/samer daboul

Sampai suatu hari, 2 tahun setelah kejadian itu, aku sakit. Sebulan aku dirawat di rumah sakit, sampai hari ketika aku harus menjalani operasi, istri ayahku hadir. Ketika operasi sudah selesai dan aku sudah keluar dari masa kritis, keluarga yang lain pulang, ayahku dan istrinya bertahan untuk sehari lagi. Dalam kondisi itu, aku malah mengalami diare hebat. Maaf, kotoran keluar tanpa aku sadari karena pengaruh bius epidural yang terpasang sampai hari ketiga setelah operasi. Istri ayahku tanpa rasa jijik ikut membersihkan kotoran dengan suamiku. Hatiku luluh, mana mungkin orang berpura-pura baik dengan membersihkan kotoran yang membuat jijik semua orang. Yang mampu mengurus ini semua kecuali perawat karena tugasnya atau orang yang menyayangi kita. Mulai hari itu aku menerimanya bukan hanya sebagai istri ayahku tapi juga pengganti ibuku. Namun, ibu kandungku tidak akan terganti posisinya, dia tetap yang utama bagiku.

Aku ceritakan semua pengalaman di rumah sakit kepada adik-adikku terutama yang perempuan karena yang laki-laki sudah menerimanya jauh sebelum aku. Adik-adikku tersentuh dan akhirnya mereka mampu menerima kehadiran ibu baru kami.
Liburan semester gasal yang lalu, pertama kalinya kami sengaja mengajak liburan anak-anak untuk mengunjungi kakek dan nenek barunya. Anak-anak memang masih suci, mereka tidak perlu tahu apa yang terjadi sebelumnya, mereka bisa akrab dengan cucu tiri kakeknya. Biarlah yang lalu menjadi bagian dari kisah hidup kami, kini kami bertambah saudara.

Lebaran tahun ini, ada lagi orangtua yang harus kami kunjungi. Setelah sekian tahun kami tidak pernah mengunjungi ayahku karena kebencian pada istrinya. Namun ayahku paham keadaan itu sehingga beliau sendiri yang datang mengunjungi kami. Menyuguhkan salam silaturahmi dari hati yang terdalam. Kami hanya berharap ayahku menikmati masa tuanya dengan bahagia. Ayahku, orangtua kami satu-satunya. Kami tidak ingin menyesal karena telah menyia-nyiakannya. Doa kami semoga kami semua berkumpul kembali di surga-Nya.





(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading