1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Berawal dari Kenalan via BBM, Berakhir Manis di Pelaminan

Jum'at, 18 Mei 2018 13:00 Penulis: L. Y. - Gresik
Ilustrasi./Copyright pixabay.com/sevenminutechannel

Vemale.com - Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

“Bersama kamu... Kurasa jauh lebih mengerti arti cinta tanpa harus mengucapkan cinta.” Kutipan lagu Wanita Terbahagia dari BCL yang indah itu membuatku sejenak terhanyut pada memori kala itu. Yap, pertemuanku dengan seorang pria, yang tak lain kini menjadi suamiku. Sebelum melamarku bahkan tidak ada kata cinta darinya. Namun, dia yakin untuk memperistriku.

Abstrak. Cinta itu abstrak. Tidak dapat dilihat, tidak dapat disentuh, tidak dapat dijelaskan. Namun cinta tak lain karunia dari Tuhan. Dari miliaran orang dan dari luasnya dunia ini, Tuhan memiliki skenario-skenario ajaib untuk mempertemukan dua insan manusia menjadi sepasang suami-istri. Begitupun kami berdua.

Unik. Cinta itu unik. Cara kami bertemupun juga unik. Meskipun aku sempat merasa lelah dalam perjalanan menemukan tambatan hati sejati, namun Tuhan memiliki kejutan yang indah. Hingga aku sadar, bahwa Tuhan sedang mengajariku kesabaran dan kedewasaan. Hidup tidak lepas dari hambatan-hambatan, karena dari situlah kita bisa menjadi manusia yang belajar.

Ketika itu aku sudah nothing to lose atas perkenalanku dengan pria itu. Tidak berharap terlalu muluk, karena tidak mau kecewa berlebihan seperti terdahulu. Kuncinya adalah sabar.

This is my story.

Pada tanggal 23 Juli 2016, kami memutuskan untuk bertemu langsung pertama kali. Sebelumnya, kami berkenalan dan hanya berkomunikasi melalui message BBM. Belum ada rasa apa-apa. Hatiku benar-benar kutata serapi mungkin. Jangan ada lagi jatuh cinta membabi buta sebelum pernikahan itu benar-benar ada.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Sabtu. Hari itu kerjaku off. Tapi dia tidak, dia masih masuk kerja, half day. Kami sepakat bertemu di Surabaya, tepatnya di mall Tunjungan Plaza. Kira-kira jam setelah dia pulang kerja. Nggak ada kesulitan untuk menyatukan schedule kami. Kemudahan tersebut belum kusadari adalah salah satu ‘tanda’. Bahkan dia nggak keberatan sama sekali aku mengajak adik bungsuku menemani ke Surabaya untuk bertemu dengannya. Dia malahan lega, karena aku nggak sendirian ke Surabaya dari Gresik. Positive point for him! Berarti dia nggak genit, justru peduli supaya aku lebih aman saat perjalanan.

Satu lagi, kebetulan aku akan ada reuni kecil dengan adik sekosku saat kuliah, yang kuanggap seperti adik sendiri, Wens. Aku pun berterusterang pada pria itu tentang reuni tersebut. Dan dia juga nggak keberatan tanpa ada pikiran gangguan-gangguan apa yang akan mungkin terjadi nanti karena ada pihak ketiga (adikku) dan keempat (Wens). Amazed.

Aku pun sadar, bahwa cowok ini nggak jaim dan apa adanya! Berkumpul dengan teman-teman wanitaku pun dia nggak masalah. Toh dia bertemu denganku untuk bermaksud baik, ingin tahu orangnya langsung dan bukan hanya terus seperti ‘teman virtual’.

Sesampai di lokasi, kekonyolan mulai terjadi. No drama like korean film. Hahaha.

Jujur, kami sudah ceroboh melewatkan kesepakatan tempat spesifik untuk ketemuan. Iya. Mall TP (Tunjungan Plaza) seluas itu, kami BELUM NENTUIN TEMPAT SPESIFIK untuk ketemuan. Astaghfirullah!

Tidak memiliki nomor HP dia adalah kecerobohan berikutnya. Huft. Aku memang terbiasa berkomunikasi lewat BBM dengannya. Tanpa pernah berpikir terlalu jauh, bahwa sinyal provider di HP-ku hilang total di mall ini. Ya Allah!
 
Gimana bisa ketemu? Mall TP sangat luas. Bangunan ini bertingkat-tingkat. Ribuan orang ada di sini. Gimana bisa ketemu?
Di sela-sela rasa cemas, lalu muncullah secercah ide.

Aku meminta bantuan adikku, Charis, untuk meng-add nomor pin BBM pria itu. Syukurlah provider simcard ponsel adikku masih ada sinyal sedikit. Hal itu bertujuan agar kami bisa berkomunikasi via HP adikku.

Di sisi lain, Wens, dkk juga belum datang di lokasi. Aku makin cemas. Panik.

Mungkinkah pertemuan ini gagal?
Aku pun pasrah... dan berharap sinyal provider HP-ku muncul sinyal sedikit.

Aku dan adikku masih terpaku di satu tempat. Menunggu pria itu meng-confirm request new friend BBM dari Charis.
Nggak ada kesadaran secuil pun bahwa kami berdua diperhatikan oleh seseorang dari jauh.

Dan kemudian ketika aku sedang sibuk dengan ponsel mencoba mengkontak Wens yang juga belum jelas keberadaannya.

“Mas Andra?” seru Charis pada seorang pria yang lewat di depan kami.
Dia pun kaget, “Iya?”
“Ini Mbak Lulu’!” respon Charis cepat seraya menunjukku yang ada di sampingnya, agar si pria yang kutunggu-tunggu itu paham bahwa akulah yang dia tunggu juga. Hahaha.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/mentatdgt

Akhirnya... ketemu juga dengan cara yang nggak diduga-duga! Alhamdulillah.

Kami memilih tempat food court untuk istirahat dan bercengkrama sejenak sambil menunggu Wens dkk datang.

Beberapa saat kami berbicara sedikit, masih kikuk, canggung, sedikit malu karena baru bertemu. Eits, belum ada rasa apa-apa! Wajar kan kalo masih kikuk dengan orang baru?

“Aku tadi BBM kamu, SMS kamu. Tapi nggak terkirim,” terangnya.
“Iya sinyalnya ilang,” jawabku. “Dapet nomerku dari siapa?” sambungku bertanya.
“Dari Andin.”
Oh ya! FYI, bahwa Andin adalah teman kuliah dia dulu. Sementara itu, Andin dulu adalah teman kantornya Dwi, sahabatku. Mereka berdualah si makcomblang yang memperkenalkan kami!

Menit demi menit berlalu. Untung ya ada adikku di sini, jadi suasana ngga krik-krik alias nggak garing! Mereka berdua kelihatan akrab dengan mudah. Hm.

Sebenarnya aku dan dia sama-sama lulusan IT. Bedanya, dia S1 Teknik Informatika, sedangkan aku D3 Sistem Informasi. Kala itu dia masih menjalani studi S2 Manajemen Teknologi Informasi. Meski kami memiliki basic ilmu yang sejenis, tapi adikku dan dia yang lebih banyak mengobrol. Apalagi setelah Wens dkk datang, aku cenderung mengabaikannya. Cewek ketemu cewek pasti asyik nimbrung sendiri. Akhirnya, dia lebih banyak berbicara dengan adikku, not me, begitulah.

Bahkan kemudian kami memutuskan berjalan-jalan mengitari jalan di dalam mall dan masuk ke salah satu distro aksesoris cewek. Dia sabar mengikuti kami kemana dan belum ingin pamit pulang duluan. Entah apa yang dia pikir dalam benaknya. Entah apa yang dia rasa dalam hatinya.

Saat itu aku nothing to lose. Entah dia bakal illfeel atau ingin terus melanjutkan hubungan lebih lanjut.
Kesan pertama bagiku, dia pria baik. Nggak jaim. Nggak neko-neko. And he is a smart man, indeed! Di balik kesederhanannya, dia menyimpan kualitas diri yang lebih.

Saat itu pun aku belum berani menaikkan level perasaanku. Jaga hati. Jaga hati. Jaga hati.

Pertemuan selesai, kami pulang dengan tujuan masing-masing.

Dan ternyata meskipun pertemuan kami lucu, hubungan kami terus berlanjut.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/valeria boltneva

17 Agustus 2016.
Hari libur nasional.

Aku dan sahabat-sahabat kuliahku – Dwi dan Iis – sudah janjian jalan-jalan ke wisata daerah Perak Surabaya. Kami sudah membayangkan pertemuan yang seru, refreshing liburan dan sekalian temu kangen. Apalagi bersama sahabat lama.

Namun tiba-tiba Dwi membatalkan di hari H! Dia mendadak pulang ke Bojonegoro, karena suaminya sangat rindu anak mereka. Pada awalnya, hari itu mereka berencana tidak pulang. Iya wajar, long distance dengan anak, bisa sewaktu-waktu berubah pikiran untuk bertemu. Sangat maklum.
Hmm.
Jalan-jalan batal.
Allah ada rencana sendiri atas batalnya acara itu.
Andra datang ke rumahku sebagai pelipur hati.

Pertemuan hari ini adalah momen yang tidak direncanakan oleh kami, tapi justru hari itu adalah momen dia untuk menyatakan keseriusannya atas hubungan ini.

Dia ingin mengenalkanku pada keluarganya. Itu berarti dia juga harus izin terlebih dahulu pada ayahku. Rupanya, dia cukup siap untuk itu. Aku pun menghargai iktikad baik darinya.

Seorang pria bisa dikatakan gentleman ketika meminta izin kepada ayah si wanita, bermaksud ingin menikahi putrinya. Dan dia telah sadar akan ucapannya dari hati, serta siap lahir batin menjadi suami dan akan bertanggungjawab menjaga putrinya.

Ketika dia sudah mengucap ijab dan menerima jawaban qabul dari ayahnya/walinya, pria itu sudah sepenuhnya menjadi orang gentleman!

Jika ada pria yang belum berani minta izin kepada ayah si wanita, namun dia sudah berani bicara cinta, maka itu hampir 99,99% palsu dan kualitas gentleman-nya patut dipertanyakan.

23 Oktober 2016.

Setelah keluarga kami sama-sama setuju atas hubungan kami dibawa ke hubungan pernikahan, orangtua calon suami datang ke rumahku untuk meminangku secara resmi.

Bukti cinta bukanlah ucapan obral I Love You, tapi membawa ‘tim keluarga’ ke rumah untuk melamar!
Pria yang serius membawa hubungan ke pernikahan, tidak mungkin membuang waktu sia-sia terlalu lama atas hubungan yang tidak pasti.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/daria shevtsova

07 Juli 2017.
Tujuh adalah angka kesukaanku.
Alhamdulillah. Allah menuliskan angka 7 dalam suratan hidupku sebagai hari pernikahan kami. Hari Jumat. Tanggal 7 bulan 7 tahun 2017 adalah hari akad nikah kami. Sedangkan resepsi pernikahan kami digelar pada hari Minggu tanggal 9 Juli. Alhamdulillah.
Memang benar adanya, bismillah. Allah akan memudahkan dua insan yang tulus ingin menghalalkan sebuah hubungan melalui pernikahan.

Cinta adalah pernikahan... tidak ada cinta sejati yang lain sebelum pernikahan.

Untuk suamiku, terima kasih sudah membuat aku menjadi wanita paling bahagia.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Film ALAS PATI - Nikita Willy & Naomi Paulinda