1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Perselingkuhan Suami Bermula dari Reunian di Grup What's App

Rabu, 16 Mei 2018 13:45 Penulis: R. - Jakarta
Ilustrasi./Copyright pexels.com/oleksandr pidvalnyi

Vemale.com - Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Setiap insan diciptakan dalam keadaan bersih hati, maka saat seorang manusia berbuat yang tidak baik, sebenarnya ada bagian hati yang menolak perbuatan tersebut. Hal ini yang akan saya ceritakan, mudah-mudahan bisa menjadi bahan masukan bagi diri saya maupun bagi yang lain untuk terus berbuat baik agar hati menjadi bersih.

Saya seorang pekerja dan  IRT memiliki 3 orang putri yang masih duduk di bangku SD (2 orang) dan TK (1 orang). Suami saya seorang wiraswastawan. Rumah tangga kami berjalan sudah 13 tahun. Alhamdulillah keluarga kami harmonis. Anak-anak sehat dan pintar, keuangan cukup dan lain-lain. Kalaupun ada masalah, alhamdulillah kami bisa mengatasinya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/megapixelstock

Di samping itu kami pun rutin ikut kajian-kajian sebagai bekal kami kelak di akhirat nanti. Kami yakin bahwa pondasi dalam rumah tangga yang paling penting adalah agama. Sehingga anak-anak pun kami sekolahkan di sekolah Islam terpadu. Sebisa mungkin kami menjalankan rumah tangga seperti yang dicontohkan Rasulullah.

Namun ujian datang pada kami bukan lewat harta ataupun kekuasaan. Ujian kami sebagai suami istri diberikan kepada yang bernama wanita. Suami saya adalah lelaki yang memiliki sifat pendiam, cerdas, dan baik hati. Belum lama ini, dia masuk ke dalam grup What's App teman SMP. Dari sanalah bermula ujian itu. Dalam grup itu, suami saya tidak aktif namun lebih banyak  membaca dan membalas seperlunya. Ketika itu ada temannya yang bercanda membahas masalah cinta monyet zaman SMP. Ketika itu disebutlah nama suami dan seorang teman wanitanya T. Saat itu suami tidak meladeni, dia hanya membaca sambil tersenyum saja.

Namun entah bagaimana bermulanya, akhirnya suami saya dan T ini mulai menjalin komunikasi. T adalah teman wanita sewaktu SMP dan SMA. Ketika SMA mereka memiliki rasa cinta namun tidak ada yang berani mengucapkannya. Suami merasa rendah diri karena T ini adalah anak seorang lurah. Jadi saling mencintai namun tidak ada ungkapan. Sampai hari kelulusan tiba, suami pun tidak berani berbicara, hanya lewat surat saja. Namun sayangnya surat itu belum dibalas oleh T hingga waktu kepergian suami ke Jogja untuk kuliah. Saat itu belum ada HP semurah saat ini. Jadi susah berkomunikasi. Sedangkan T juga menunggu kedatangan suami di rumahnya dengan maksud ingin memberi jawaban rasa sukanya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Tapi takdir berkata lain, sejak saat itu tidak ada informasi lagi tentang keduanya hingga baru berjumpa saat ini, di mana sama-sama sudah berkeluarga. Bermula dari grup What's App tadi, terjalinlah komunikasi yang intens, mereka saling menceritakan kondisi saat itu. Di sinilah mulai setan bermain dalam hati keduanya. Awalnya tidak bermaksud untuk saling menyakiti pasangan masing-masing. Namun setan cukup lihai menggodanya. Dengan alasan bertanya kabar hingga akhirnya terungkap rasa keduanya.

Saat ini kami tinggal beda provinsi. Namun zaman yang canggih ini membuatnya semuanya terasa serba dekat. Komunikasi mereka di What's App serasa mereka duduk bersebelahan. Hingga suatu hari, tanpa sengaja saya, meminjam HP suami. Ada screen shoot galeri di HP yang menyebutkan nama saya dan gambar keduanya. Saya penasaran lalu saya baca. Luluh lantak hati saya, lemas dan syok.

Saat itu saya langsung beristighfar, memohon ampun atas kesalahan saya jika sebagai istri memiliki kekurangan. Saya introspeksi diri kesalahan saya selama berumah tangga. Setelah hati saya tenang, saya tanyakan suami saya baik-baik dengan memperlihatkan screen shot tersebut. Dia kaget dan lemas, mungkin tidak bermaksud menyakiti hati saya awalnya. Namun, hati ini serasa teriris, orang yang sangat kita percayai berkhianat. Walaupun hanya melalui kata-kata di wa tadi.

Akhirnya suami saya menyesal dan meminta maaf. Sebagian hati menolak dan kecewa, namun setelah beberapa ikut kajian, saya pun langsung ingat kisah rasul bahwa jika kita disakiti balaslah dengan berbuat baik dan jangan dibalas dengan menyakiti. Itu yang menjadi kekuatan saya. Semenjak itu ada rasa takut saya kepada suami, trauma, dsb.  Saat itu yang menjadi obat saya adalah salat malam dan quran.

Hingga suatu saat saya menelepon si T. Saya tanyakan kenapanya kenapa dia berbuat demikian yang tidak pantas dilakukan untuk orang yang sudah berumah tangga. Saat itu niat saya ingin mendatangi rumahnya dan bertemu suaminya, namun setelah dipikir matang-matang, saya batalkan niat itu. Mungkin saat itu saya puas sudah melabraknya dan suaminya tahu. Namun bagaimana nasib anak-anaknya dan rumah tangganya?

Ilustrasi./Copyright pexels.com/automnenoble bogomolov

Hingga akhirnya T juga menyesali tindakannya dan meminta maaf. Awalnya susah untuk memaafkan dengan hati. Secara lisan saya memaafkan namun hati agak berat. Seiring waktu, saya terus ikuti kajian dan mencoba mempraktikkannya dalam kehidupan saya. Dua minggu setelah itu saya telepon balik T dan saya ucapakan bahwa saya memaafkannya dari dalam hati. Sampai sekarang komunikasi saya masih tetap jalan. Bahkan belum lama ini saya dan suami bersilahturami dengan keluarganya walapun suami menolak. Saya lakukan ini untuk membuktikan bahwa hati saya benar- benar sudah memaafkannya dan untuk menambah tali silahturahim.

Tidak ada niat untuk dipuji siapa pun melakukan hal tersebut. Niat saya hanya ingin membersihkan hati dan semuanya saya kembalikan hanya kepada Allah saja. Allah tidak akan mencoba hambanya sesuai kemampuannya. Itulah kunci yang saya pegang dalam rumah tangga. Alhamdulillah saat ini keluarga kami kembali harmonis, walaupun ada sedikit coretan di sana. Saya selalu meneguhkan hati bahwa manusia adalah tempatnya berbuat dosa.

Inilah cerita saya, mudah-mudahan bisa menjadikan motivasi bagaimana mengemas hati agar selalu bersyukur. Dan mudah-mudahan seluruh rumah tangga di muka bumi ini bahagia dunia akhirat. Aamiin.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
8 Kejutan yang Bakal Bikin Kamu Bakal Puas Nonton FANTASTIC BEASTS THE CRIMES OF GRINDELWALD