KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. LOVE

Kenapa Belum Menikah Juga? Karena Kondisiku Berbeda dari Wanita ''Normal''

Kamis, 10 Agustus 2017 14:10 Penulis: K - Ciputat
Ilustrasi wanita belum menikah juga./Copyright pixabay.com

Vemale.com - Terus ditanya dan dicecar pertanyaan "Kapan nikah?" memang bisa bikin sakit hati. Apalagi kalau orang-orang di sekitar kita tak tahu kondisi kita yang sebenarnya. Seperti kisah salah satu sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Stop Tanya Kapan ini. Membaca kisah ini benar-benar bikin terharu. Terima kasih K sudah berbagi cerita dengan kami semua, ya. You are indeed a strong woman.

***

Kisah saya mungkin sebuah kisah klasik yang banyak dialami para wanita lain, namun ada sebuah rahasia yang membedakannya.

Saya terlahir sebagai anak sulung dari dua bersaudara. Usia saya saat ini 34 tahun dan hanya terpaut 1,5 tahun dari adik perempuan saya. Saya dan adik selama ini terkenal di lingkungan kami sebagai perawan tua, banyak omongan dan keheranan tetangga tentang kami mengapa di usia yang sudah lebih dari seharusnya namun belum kunjung menikah. Tentunya tidak ada wanita yang ingin menyandang status tersebut. Ada sebuah alasan di balik semua itu, seperti adik saya yang telah banyak mengalami liku liku cinta mulai dari bertemu pria yang hanya modus, pria yang mengaku duda namun ternyata beristri, pria yang hanya ingin bermain hingga tiba di titik di mana adik saya merasa desperate. Namun syukurlah Tuhan mengirimkan jodoh seorang lelaki baik hati, setelah saling mengenal selama 4 bulan sekitar 2 minggu yang lalu adik saya melangsungkan pernikahannya.

Kini tinggal lah saya yang belum menikah. Ada sebuah rahasia yang mengiringi keputusan saya belum menikah smpai saat ini. Saya mengalami kelainan atresia ani (tidak mempunyai anus) dan sejak usia 7 tahun sampai saat ini saya hidup dengan memiliki anus buatan di bagian perut.

Kondisiku berbeda./Copyright pixabay.com

Operasi ketiga dan keempat yang seharusnya saya jalani untuk menormalkan kondisi saya tidak sanggup saya jalani karena saya tidak tahan dengan betapa sakitnya proses yang harus dilalui. Dan saya sangat mengerti dengan keadaan saya seperti ini sangat sulit dan berisiko untuk hamil dan melahirkan.

Sejak kecil saya memiliki kesadaran bahwa peluang saya untuk menikah lebih kecil dibanding wanita normal lainnya. Karena itu saya tidak ingin menjalin hubungan serius dengan seseorang karena berat buat saya untuk menceritakan keadaan saya pada orang lain dan tidak akan mudah buat seorang pria menerima keadaan wanita seperti saya yang tidak normal. Tentu saja tidak mudah menjalani kehidupan seperti yang saya alami. Pertanyaan "Kapan nikah?" hampir menjadi pertanyaan rutin dari saudara, teman, dan para tetangga. Terlebih setelah adik saya menikah, tekanan untuk segera menyusul terasa lebih besar. Kini tatapan aneh dari para tetangga dan kerabat lebih terfokus pada saya. Dan tidak mungkin bagi saya menjelaskan alasan saya pada setiap orang satu persatu.

Sejujurnya pertanyaan "Kapan nikah?" sempat membuat saya terbebani namun seiring dengan berjalannya waktu saya mencoba bersahabat dengan pertanyaan itu. Pernah terbesit dan berharap agar orang lain Stop Tanya Kapan Nikah namun saya kemudian menyadari bahwa setiap orang bebas untuk bertanya dan mengeluarkan pikiran mereka. Beban "Kapan nikah?" akan tetap menghantui hari-hari saya namun saya hanya bisa menyiasati dengan mencoba berdamai dengan hati dan keadaan.

Tuhan menciptakan sesuatu dengan tujuan. Apapun tujuan yang ingin Tuhan tunjukkan pada saya, saya berusaha ikhlas dan sabar.

Berusaha ikhlas dan sabar./Copyright pixabay.com

Saya sempat menjalani online love dengan seorang pria Asia. Kami berkenalan di sebuah media sosial. Awalnya kami hanya bersahabat hingga akhirnya kami saling jatuh cinta. Pada mulanya hampir setiap hari dia menelepon saya, video call, dan chat. Dia pun mengetahui kondisi saya. Dia lah satu-satunya pria yang mengetahui rahasia besar saya. Namun tiba di satu titik di mana kami menyadari bahwa cinta kami adalah sesuatu yang tidak mungkin. Perbedaan jarak dan budaya menjadi jurang untuk kami bersatu. Kini hubungan kami hanya sekedar sahabat. Setiap 2 atau 3 hari sekali dia akan menghubungi saya untuk sekedar menanyakan keadaan saya. Ya, 2 tahun sudah saya menjalani hubungan seperti itu. Dia lah teman curhat saya di saat membutuhkan sebuah tempat berkeluh kesah. Dan saya cukup bahagia dan menikmati hubungan ini.

Saat ini saya mencoba menikmati takdir ini, mencoba berdamai dengan keadaan, mencoba berdamai dengan segala omongan orang lain. Tuhan pasti memiliki sebuah rencana untuk setiap umat-Nya dan saya percaya rencana Tuhan lebih indah ketimbang rencana manusia. Tidak mudah untuk saya membuka kisah ini namun semoga bisa menginspirasi banyak orang di luar sana untuk lebih memahami kondisi orang lain. Karena mungkin apa yang Anda lihat tidak seperti apa yang tampak.

Hidup adalah sebuah rahasia, rahasia dari sejuta rahasia.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA