1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Sukses Menjadi Motion Graphic Designer yang Bekerja di Perusahaan Besar

Jum'at, 12 Oktober 2018 13:00 Penulis: Mirza Mirandana - Bekasi
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/mimi thian

Vemale.com - Saya percaya tidak ada seorang pun yang bisa hidup bahagia tanpa sentuhan seni. Entah itu seni musik, tari, menggambar dan banyak sekali bentuk seni yang tanpa kita sadari membuat hidup kita lebih baik, karena seni bisa mengobati hati dan  pikiran kita ketika sedang dilanda stres.

Saya jatuh cinta dengan seni menggambar sejak saya masih duduk di taman kanak-kanak. Saya sama sekali tidak bisa melihat warna putih polos dengan ukuran yang cukup luas, rasanya saya ingin segera mencoretnya hingga penuh dengan gambar abstrak buatan saya sendiri. Benda-benda yang saya coret mulai dari buku pelajaran sekolah, buku diary, hingga tembok di sepanjang rumah.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Saya ingat ketika saya mulai memikirkan sebuah detail pada gambar yang telah saya buat pada saat masih duduk di bangku SD, seperti melihat detail helaian rambut, bentuk mata yang simetris, hingga detail baju. Anak-anak di kelas selalu berkerumun untuk melihat gambar yang sedang saya buat. Saya senang mereka menyukai karya saya. Menurut saya pujian yang mereka berikan sangat berharga dan memicu semangat saya untuk terus menggambar. Di rumah saya tidak pernah absen menonton semua film animasi di televisi. Bagi saya gambar bergerak itu sangatlah menarik.

Saya langsung berpikir bagaimana caranya agar bisa menggerakkan gambar yang saya buat. Tanpa ada pengetahuan tentang pembuatan animasi saya mengambil pensil dan buku kecil. Kali ini saya mencoba menggambar di setiap halaman depan kertas. Dari depan awal, hingga halaman depan paling akhir. Setelah selesai, saya melakukan flip book atau membuka lembaran buku dengan sangat cepat, sehingga kita bisa lihat bahwa gambar-gambar tersebut menyatu menjadi sebuah gerakan. Mulai saat itu, semua jenis buku yang saya punya memiliki gambar kecil di setiap sudutnya, lalu saya melakukan flip book.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com


 
Bertambahnya umur membuat saya mengenal seni dalam bentuk lain. Saya mulai tertarik dengan dunia musik. Saya pun mulai mendalaminya. Mencoba peka terhadap nada agar saya bisa menyanyi dengan baik, dan mencoba untuk belajar instrumen agar bisa mengiringi suara saya ketika bernyanyi. Timbul keinginan untuk bisa memiliki banyak keahlian dalam bidang seni.

Saya menjajal hal-hal baru seperti fotografi, digital imaging, hingga design graphic. Sampai akhirnya saya sadar jika kita tidak fokus, kita tidak akan bisa menjadi ahli dalam satu bidang. Ketika saya lulus SMA, saya benar-benar dilanda kebingungan, ke arah mana saya akan melanjutkan pendidikan. Di pikiran ini terasa ingin melakukan segalanya secara bersamaan. Di samping keinginan saya yang begitu banyak, saya harus berurusan dengan kemauan orangtua yang mengharuskan mengambil kuliah di bidang science.

Saya semakin mendekat ke jalan buntu untuk memutuskan jalan hidup saya sendiri. Saya pun terus memutar otak bagaimana caranya agar bakat saya bisa membuahkan hasil dalam karier saya. Saya banyak membaca artikel mengenai karier-karier yang berkaitan dengan seni maupun science. Sampai akhirnya saya menemukan video dari suatu TV channel yang memberikan seminar mengenai dunia animasi.

Dalam seminar tersebut dijelaskan bahwa animasi yang tercipta dengan baik adalah animasi yang berasal dari gabungan antara desain dan science. Tidak hanya memikirkan bentuk wajah suatu karakter, tapi harus memperhatikan elemen pendukungnya seperti cahaya, bayangan, refleksi dan masih banyak lagi. Dari situ saya mulai mantap untuk mengambil jurusan multimedia sebagai penerus pendidikan saya di bangku universitas. Multimedia merupakan gabungan antara Design Graphic untuk menunjang visualisasi dan Teknik Informatika untuk menunjang penggunaan software yang akan digunakan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com


 
Dalam keputusan ini, saya tetap menemukan perbedaan pendapat dengan orang tua saya yang tidak memperbolehkan saya terjun ke dunia seni. Saya pun berupaya meyakinkan kedua orang tua bahwa saya dapat memberikan yang terbaik, dan saya akan menjadi orang yang berguna nanti. Saya memantapkan diri saya dengan menaruh kepercayaan diri, serta keyakinan dalam diri saya bahwa saya bisa jadi orang yang sukses.

Saya mengenal diri saya seutuhnya, saya tahu kemampuan apa yang saya punya, kelemahan apa yang saya miliki, dan bagaimana agar saya bisa menutupi kekurangan saya dengan kelebihan yang saya miliki. Saya menyadari bahwa saya akan berjalan melawan arus, sehingga saya akan berjuang sendirian tanpa ada support yang menguatkan mental saya ketika suatu saat saya berada dalam keadaan terpuruk. Akhirnya saya mendapat izin untuk mengambil jurusan yang saya inginkan sesuai bakat saya.

Bukan berarti dengan bakat yang saya miliki, saya bisa dengan mudah melalui masa-masa kuliah. Pada masa sekolah mungkin saya bebas membuat karya semau saya, tetapi ketika kuliah saya mencoba menciptakan suatu karya yang bisa diterima orang lain, dan sesuai keinginan dosen yang memberikan tugas. Banyak sekali orang mengira menjadi designer adalah hal yang sepele, dan sekadar senang-senang, sehingga banyak orang yang tidak menghargai profesi designer.

Pada nyatanya designer bukanlah profesi yang sepele. Seorang designer harus bisa beradaptasi dengan cepat menanggapi selera yang dimiliki setiap klien yang menjadi rekan kerjanya. Kadang karya yang kita anggap terbaik untuk dipublikasi, harus diubah sedemikian rupa hingga jauh dari karya yang kita inginkan. Sehinga karya kita yang dipublikasi terasa asing dilihat, karena sudah mengalami revisi yang begitu banyak. Dan lagi harus berhadapan dengan software yang terus berkembang, sehingga harus selalu update dengan software versi terbaru. Penggunaan software terbaru juga berpengaruh pada perangkat yang dipakai untuk bekerja, sehingga tidak heran para motion graphic designer atau animator memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk meningkatkan kualitas perangkat kerasnya.
 
Selama kuliah saya selalu mendapatkan dosen yang perfeksionis mengenai detail. Dan saya merasa beruntung dengan hal itu, karena saya akan mendapat banyak koreksi dari tugas yang saya kerjakan. Saya jadi tahu kesalahan-kesalahan kecil yang saya buat. Kerasnya didikan dosen yang terkadang membuat mental saya terasa runtuh, justru perlahan membangun mental saya menjadi sekuat baja. Saya semakin kebal dengan perkataan-perkataan yang bisa merusak mental saya.

Saya mendengarkan setiap perkataan, dan saya pikirkan baik-baik sampai saya dapat menemukan kritik berharga didalam perkataan tersebut dan saya membuat perbaikan dari kritik tersebut. Saya tidak akan mampu mengubah karakter orang-orang disekitar saya menjadi seperti yang saya mau dalam kurun waktu satu semester, saya lah yang harus pintar beradaptasi dan bertahan. Ikuti aturan main, berjuang sekuat tenaga dan jangan pernah menyerah, maka kita akan sampai ke garis finish.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Kita tidak akan pernah tahu ada keajaiban apa di depan sana jika kita berhenti di tengah jalan. Beruntung saya punya teman-teman yang memberikan support satu sama lain. Saya pun akhirnya bisa lulus dengan nilai yang baik, memang bukan cumlaude tapi saya senang bisa membuktikan kepada orangtua saya, bahwa saya bisa melewatinya dengan baik.

Dan setelah lulus saya mengambil sertifikasi untuk menjadi modal nilai tambah melamar kerja sebagai fresh graduate. Dan tak disangka ketika saya baru saja menyelesaikan sertifikasi saya langsung diterima kerja di perusahaan besar. Akhirnya usaha saya membuahkan pembuktian hasil yang baik. Karier yang sesuai dengan keinginan saya membuat saya mencintai profesi yang saya tekuni.

Jadi, apabila kita punya keyakinan yang kuat, pertahankanlah. Kejar mimpi kita. Hadapi perbedaan pendapat dengan kepala dingin. Jangan pernah berhenti di tengah jalan. Kita tidak akan menyangka buah dari kerja keras kita di depan sana.


 

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
5 Film Indonesia Tayang Bulan Desember 2018