1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Serunya Ikut Arisan Barisan Para Mantan

Jum'at, 05 Oktober 2018 11:15 Penulis: Shinta Sagala - Jakarta
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/ben white

Vemale.com - Sore itu sepulang kerja, demi mengobati hati yang sedang  luka, aku ditemani teman mampir ke warung kopi di seputaran Jalan Surabaya. Lokasi warung kopi menjorok ke dalam, jauh dari keramaian dan yang terpenting kopi yang disajikan super duper body, so bold, menentramkan hati dan kerongkongan yang sedang galau-galaunya perihal putus yang tak terjelaskan.

Kami sedang asyik menyeruput kopi saat itu ketika tiba–tiba ponselku berdering. Sebuah pesan singkat dari aplikasi messenger menampilkan pesan dari nomor tak dikenal, “Shint, ikut Arisan para mantan yuk!” Kupikir pengirim pesan sedang mengolok–olok aku yang sedang galau–galaunya. Aku tertawa lalu menunjukkan pesan tersebut ke temanku, kami sama–sama tertawa dan lalu saling hina dina.

Kutanya, “Siapa?”
“Atin," balasnya
 “Nomor baru?”
“Iya.”
You know me so well ya, Sist. Pas baru dimantanin, pas banget dapet whatsapp begini dari kamu. Hidup selalu punya cara untuk buat aku tertawa, hampir aja aku marah. Hehe.”
Dan Atin pun bingung, biarkanlah.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Dua bulan sejak pesan itu kuterima, aku terikut sertakan dalam Arisan Para Mantan yang selanjutnya menjadikan kami grup atau squad dengan nama “Barisan Para Mantan”. Bukan karena kami baru saja diputuskan, namun lebih karena kami pernah bekerja di satu tempat yang sama lalu pindah sehingga kami menjadi mantan karyawan perusahaan tersebut. Inilah alasan mengapa pesan singkat tersebut berbunyi, “Shint, ikut arisan para mantan yuk!”. Grup ini sendiri terdiri dari belasan anggota, namun sejauh ini yang sering temu muka hanya sekitar separuhnya saja.

Arisan pada kebanyakan adalah wadah temu sekaligus meraup kemudahan menerima sejumlah uang dalam jumlah besar yang dikumpul beramai, tapi tidak dengan arisan kami, boro–boro mau bawa pulang lebih banyak. Jumlah uang yang kami keluarkan demi makan minum saja sudah melebihi dua kali lipat biaya arisan. Hahaha, ya, tujuan utama arisan ini adalah sekadar temu kangen teman–teman yang too cute to be forgotten.

Hampir di setiap pertemuan, pasti diawali dengan curahan hati buk-ibuk tentang kemacetan dan parkir mobil yang miring mengambil lapak parkir sebelah namun ketimbang harus memperbaiki malah melarikan diri masuk ke dalam restoran. Yup, arisan ini tidak dilaksanakan di rumah, karena member-nya cenderung malas adakan di rumah karena persiapan lebih banyak dan beres–beres setelahnya pun menyita waktu serta tenaga.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

But anyway arisan ini memang hanya kamuflase agar dapat izin dari suami untuk pergi sejenak dari rutinitas istri dan jadi diri sendiri meski tidak jarang harus sertakan anak dalam pertemuan ini. Bukti ketidakseriusan arisan ini pun terlihat dari ketidaksiapan ketua arisan dalam menyiapkan kocokan arisan. Setiap kali arisan, sambil tertawa dan hina dina, kami harus kembali menuliskan nama–nama peserta pada kertas yang ditemukan sembarang dan disobek kecil–kecil untuk kocokan arisan. Haha, tapi kami menikmatinya.

Kebanyakan peserta arisan adalah ibu-ibu muda dengan satu atau dua anak batita tanpa didampingi pengasuh sama sekali. Arisan ini selain riweuh dengan canda tawa mahmud–mahmud, juga ramai dengan celoteh batita yang menyegarkan suasana. Tak jarang tangis bayi juga terdengar tatkala seorang dari kami (sebut saja Shinta) terlalu gemas dan menggoda bayi sampai menangis. Hihi.

Tidak sampai di situ saja, obrolan kami selain gosip (tidak ada di antara kami yang bisa lepas dari gosip sekaligus digosipkan), kami pun sering sekali sharing mengenai tumbuh kembang anak serta cara mendidik anak. Kebetulan profesi terdahulu sebelum kami dimantankan adalah guru. Obrolan kami pun biasanya sedikit banyak masih mengenai pelajaran, pengajaran dan pendidikan. Kalau kedengaran orang di meja sebelah, kami tampak seperti semacam intellect squad gitu. Hahaha.

Well, anyway yang paling baik dari girls squad ini adalah budaya sharing dan tertawa. Berkumpul yang rileks dan nambah ilmu itu sangatlah menyenangkan. That’s the story of my squad “Barisan Para Mantan” tempatnya mantan akur sama sesama mantan.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
KapanLagi Dangdut