1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Ibuku Malaikat Pelindung Anak-Anaknya

Jum'at, 10 Agustus 2018 17:00 Penulis: Y. M. - Batam
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/guille pozzi

Vemale.com - Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Ini kisahku bagaimana ibuku selalu menjadi pelindung kami saat ayahku sendiri tidak pernah menjadi pelindung kami.

Dari kecil aku selalu dididik untuk bisa mandiri melakukan segala sesuatu hal sendiri. Meskipun aku anak perempuan terkadang aku sering melakukan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan oleh anak laki-laki. Ibuku selalu mendukung segala hal yang positif untuk aku dan kakak perempuanku.

Saat masih sekolah dasar aku lebih sering menghabiskan waktu mainku bersama anak laki-laki ketimbang perempuan, sifatku pun lambat laun menjadi sedikit tomboy. Namun itu tak berlangsung lama karena setelah tamat sekolah dasar aku dimasukkan di asrama.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/peter bucks

Tak semua anak berlapang hati menerima kenyataan bahwa ia harus mendekam dalam asrama dalam waktu yang cukup lama. Itu juga yang terjadi denganku, aku dengan dongkol menerima keputusan yang dibuat oleh saudara ayahku tepatnya untuk memasukkan aku dan kakak perempuanku ke dalam asrama.

Aku menjalani hari-hari yang tak pernah aku mimpikan sebelumnya. Saat di asrama jika penyakit manjaku kambuh aku akan meminta ibu untuk memasak makanan dan menjengukku di asrama dan itu sering aku lakukan. Di sela-sela ibu berkunjung aku selalu meminta kepada ibu untuk bisa memindahkanku dari asrama ini.

Ibu selalu berkata, “Sabar, ya. Jika kamu tak betah cobalah bertahan sampai kelas tiga, nanti ibu akan coba bicara sama ayah kamu,” dan selalu kata-kata itu yang keluar saat aku memintanya memindahkan aku dari asrama. Aku dan saudaraku tidak pernah berani meminta sesuatu hal dengan ayah, karena ayah selalu saja menuruti apa yang dikatakan saudaranya meskipun itu menyakiti perasaan anak-anaknya. Tiga tahun akhirnya aku bebas dari asrama aku melanjutkan sekolah di SMA negeri.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/gades photography

Memasuki masa remaja tak ada yang namanya pacaran dalam hidupku karena ayah selalu berkata, “Kalau mau pacaran, berhenti sekolah!” Itulah ancaman yang sering ayah lontarkan kepada kami. Aku dan kakak perempuanku memang tak pernah sejalan pemikirannya, aku yang selalu memegang teguh kata ancaman ayah meski terkadang aku ingin mencoba merasakan meskipun harus LDR, sedangkan kakak perempuanku dengan santai menjalani hubungan dengan beberapa laki-laki tanpa pernah diketahui oleh ayah.

Dari aku dan kakak perempuanku masih kecil kami tidak pernah mau bercerita sesuatu hal pribadi kepada ayah, kami selalu mencurahkan segalanya pada ibu karena bagi kami ibu selalu tau bagaimana perasaan kami dibandingkan ayah, ayah selalu memaksakan kehendaknya kepada kami sedangkan ibu selalu tahu bagaimana perasaan kami sebenarnya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pernah suatu hari aku lagi ada masalah sama saudaraku, bukannya menyelesaikan masalah saudaraku malah mengadukan hal tersebut kepada ayahku, akibatnya aku dimarahi dan dimaki ayahku habis-habisan. Dan ibuku kembali menjadi pelindung bagiku, ibuku tahu jika aku bukanlah penyebab utamanya.

Hari itu aku menyaksikan bagaimana ayah dan ibuku adu mulut karena ulah saudaraku yang suka mengadu itu. Kejadian itu terulang kembali saat kakak perempuanku ingin menikah, ibu dari saudaraku mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang kakakku dan calon abang iparku yang membuat ayahku kembali marah tanpa mau mendengarkan penjelasan kakakku terlebih dulu. Ayahku lebih percaya sama tanteku dibandingkan sama anak dan istrinya yang selama ini tinggal dengannya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/viet vang

Ibu selalu ada di saat kami anak-anaknya dalam masalah, ibu selalu melindungi kami saat mereka dengan sengaja ingin menjatuhkan kami. Kami tidak pernah tahu sudah seberapa banyak air matamu jatuh untuk membela kami anak-anakmu dari hinaan dan cacian yang keluar dari mulut mereka yang merasa kalau diri mereka selalu benar. Yang kami tahu bahwa dirimu adalah matahari di saat siang, bulan di saat malam, gua di saat kami butuh tempat berlindung dan selimut di saat kami membutuhkan kehangatan. Ibu adalah sosok yang sulit untuk digambarkan hanya dengan kata-kata. Ibuku adalah sosok pahlawan dalam hidupku yang tak pernah akan tergantikan dengan apapun itu.

Mungkin saat ini kami belum mampu membahagiakanmu ibu, tapi percayalah suatu saat nanti kami akan memberikan itu semua kepadamu. Kami akan membuat mulut-mulut orang yang telah menghinamu bungkam, dan kami akan membuat ayah sadar bahwa anak dan istri itu lebih berharga daripada mereka yang telah ayah bela mati-matian.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Klarifikasi Angbeen Rishi Soal Perseteruan Dengan Ibunya