1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Ibu, Terima Kasih karena Kau Selalu Menemaniku Saat Aku Terpukul dan Jatuh

Kamis, 09 Agustus 2018 13:00 Penulis: Diana L Napitupulu - Tangerang
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/timothy dykes

Vemale.com - Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Saat aku lahir aku tidak dapat membayangkan dengan siapa aku akan hidup dan tinggal dengan siapa, namun Tuhan memberiku satu pahlawan yang menemaniku dalam menjalani hari-hariku. Bukan hanya menjadi seorang pahlawan tapi beliau adalah seorang wanita yang menjadi saksi hidup perjalananku. Dahulu aku adalah anak yang malas dalam belajar sehingga aku selalu menyusahkannya karena aku gagal di setiap sekolah yang kucoba, saat setiap orang hanya menyudutkanku, beliau hadir dan menemaniku di saat aku sedang terpukul dan jatuh.  

Ibu selalu mendukungku walau aku hanya menyusahkannya. Tak berhenti  di situ, aku hanya menjadi batu sandungan baginya karena kemalasanku ibu harus menanggung malu, saat teman-temanku lolos di sekolah favorit aku hanya lolos di sekolah yang tidak dapat dikatakan sebuah sekolah, aku tergabung dalam sebuah kondisi  yang membuatku semakin malas untuk belajar.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/tam wai

Setiap harinya ibu selalu mengingatkanku untuk belajar, aku selalu menolaknya ketika disuruh bahkan sering sekali aku membantahnya, membuatnya kecewa dan malu akan sikapku. Walaupun begitu beliau selalu saja mendukungku untuk tetap sekolah walaupun  saat di kamar aku sering sekali melihatnya menangis sendiri, karena sifat u yang tidak pernah mengerti kondisi ibu. Namun, masih saja aku masih dalam kondisi yang sama.

Aku gagal juga saat mencoba melamar di sekolah menengah atas (SMA) , aku mencoba empat sekolah namun semuanya gagal dan lagi ibu harus menanggung rasa malu, tidak hanya itu saat itu juga ibu sakit karena pusing memikirkanku harus sekolah di mana, namun saat itu tanpa memikirkan rasa malu ibu meminta saudaraku untuk membantuku masuk sekolah itu.

Saat itu aku semakin terpukul, aku kembali berpikir untuk apa aku lahir di dunia ini jika aku hanya menyusahkannya dan selalu melakukan kesalahan yang sama? Aku berulang kali gagal dan membuatnya malu, karena memiliki anak yang terbilang bodoh jika diceritakan kepada saudara-saudaraku, saat mereka menanyakan di sekolah mana aku melanjutkan pendidikanku. Aku semakin tersadar dan merasakan, apa yang dirasakan oleh ibu karena kemalasanku. Di setiap kegagalanku, ibu tak pernah menyebutku sebagai anak yang bodoh, beliau selalu mengajariku untuk belajar dengan benar dan mendoakanku dalam doanya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/shari sirotnak

Seperti sebuah  cahaya yang selalu menerangiku, aku selalu diingatkan untuk belajar dari kesalahanku, jika aku belajar dengan giat Tuhan pasti akan membantuku untuk membahagiakan ibu. Saat lulus SMA aku memutuskan untuk mencoba masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dengan usahaku sendiri, seperti sebuah ketakutan yang selalu menghampiriku, aku takut dengan ujian yang hanya akan membuatku gagal. Namun saat itu ibu menghampiriku dan berkata, “Belajar Nak, lakukan saja yang menjadi bagianmu, Tuhan akan kerjakan bagianNya.”

Aku belajar dengan giat agar aku lolos di kampus negeri karena di kampus swasta aku memerlukan biaya yang  tinggi. Aku berkomitmen dalam diriku untuk belajar dengan giat setiap harinya agar aku bisa lolos di kampus negeri. Jujur aku takut dengan kondisi ini, aku trauma akan kegagalan aku sudah mendoktrin diriku bahwa aku adalah anak bodoh yang tidak akan berhasil, aku takut dan semakin takut.  

Tiba harinya, waktu ujian berlangsung aku menelepon ibu yang saat itu sedang berada di Palembang, aku memintanya untuk mendoakanku walaupun aku yakin sebelum aku memintanya, ibu selalu mendoakanku. Aku takut gagal dan takut mengecewakannya lagi.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/jw

Menunggu satu bulan waktu pengumuman, akhirnya aku lolos, menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari warnet menuju rumahku, aku berlari menghampiri ibu dan saat itu juga ibu memelukku dan kami berdoa bersama. Untuk pertama kalinya ibu mengucapkan padaku, “Ibu bangga padamu, Nak.” Seperti sebuah energi yang timbul aku senang karena ibu senang akan keberhasilanku.

Sosok pahlawan hidupku yang sampai saat ini aku selalu bersyukur pada Tuhan karena menempatkanku di keluarga ini dan menjadi anak untuk seorang ibu yang hebat yang tidak pernah mengatakan keburukanku kepada orang banyak dan yang tidak pernah marah pada Tuhan karena telah memberikanku. Pengorbanan yang tidak pernah dapat kubayar dengan apapun.

Terima kasih ibu, kau adalah sosok pahlawan wanita yang selalu kusebut dalam doaku karena kebaikan Tuhan padaku sehingga Ia mengirimkanmu untuk menolongku.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Ruben Onsu Cari Pertolongan, Orang-Orang Terdekatnya Jadi Korban