Sukses

Lifestyle

Yang Ditanya 'Kapan Menikah' Tidak Lebih Tahu Jawabannya dari yang Bertanya

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Saya baru merasakan pertanyaan “kapan” itu mengusik saya saat ada yang bertanya, ”Kapan menikah?” Padahal waktu itu, saya baru lulus kuliah (usia saya sekitar 22 tahun), tapi pertanyaan “kapan menikah” ini mengalahkan kebaperan saat ditanya “kapan lulus kuliah”. Pertanyaan itu tidak hanya muncul dari teman-teman, tetapi juga muncul dari keluarga.

Mungkin waktu itu sih karena teman-teman seangkatan saya sudah lumayan banyak yang menikah, sehingga pertanyaan “kapan menikah” terlalu dipikirkan dan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Terlebih saat itu, baru saja saya merasakan patah hati. Jadi lengkaplah sudah kebaperan yang saya rasakan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/amy shamblen

Sejak saat itu, saya janji pada diri saya sendiri agar tidak terlalu memikirkan pertanyaan “kapan menikah” tersebut supaya saya tidak sedih terus-terusan dan tidak mengganggu hal-hal lain di hidup saya yang harus saya jalani. Mencoba untuk mengabaikan pertanyaan orang lain tentang hal tersebut sebagai bentuk perhatian dan bentuk doa agar segera dipertemukan dengan jodoh saya.

Sesungguhnya yang ditanya “kapan menikah” tidak lebih tahu jawabannya dari yang bertanya, karena jodoh adalah rahasia Tuhan. Mencoba fokus pada pekerjaan yang saya jalani sehingga pertanyaan tersebut tidaklah lagi mengganggu saya. Dan akhirnya, 3 tahun kemudian saya dipertemukan dengan separuh jiwa saya. Dari kejadian ini, saya jadi sangat paham bagaimana rasanya mendapat pertanyaan seperti itu dan berjanji tidak akan menanyakan hal yang sama kepada teman-teman yang belum menikah. Toh banyak topik lain yang lebih penting untuk dibicarakan bukan?

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/larm rmah

Tampaknya setiap siklus kehidupan kita tidak akan pernah berhenti dari pertanyaan “kapan”. Setelah akhirnya menikah dan memiliki satu anak, datanglah lagi pertanyaan, “Kapan si kakak dikasih adik?” kepada saya. Terlebih teman-teman yang seangkatan dengan saya sudah memiliki dua anak bahkan tiga anak.

Kali ini meskipun agak baper, tapi saya sudah bisa menyikapi dengan lebih bijak dan banyak tersenyum saja jika diberikan pertanyaan seperti itu. Jika punya banyak waktu, ya saya jelaskan saja kenapa menunda untuk anak kedua. Bahwa alasan saya ingin menunda anak adalah agar bisa mengurus anak pertama di sela-sela saya kuliah. Intinya, sebisa mungkin pertanyaan tersebut tidak saya masukkan ke dalam hati seperti sebelumnya.

Soalnya baper bin sedih gara-gara pertanyaan itu, hanya akan membuat energi terkuras karena capek hati dan menjadikan kita seperti kurang bahagia. Padahal untuk membesarkan anak yang bahagia dibutuhkan ibu yang bahagia bukan? Jadi, ya dibawa bercanda saja pertanyaan tersebut. Dari pengalaman ini, saya juga berjanji tidak akan bertanya soal “kapan punya anak” atau “kapan si kakak dikasih adik” ke orang lain, karena takut menyinggung perasaannya dan takut membuatnya bersedih. Kecuali, yang bersangkutan memulai pembicaraan mengenai hal tersebut terlebih dahulu.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/nellia kurme

Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain akan tanyakan saat bertemu muka apalagi di social media, tetapi kita sangat bisa mengontrol perasaan yang kita miliki saat diberikan pertanyaan tersebut. Kita tidak bisa menghindarinya, namun kita bisa saja meminimalisir sedih yang akan kita rasakan dengan mengontrol pikiran dan perasaan kita. Dari pengalaman pertanyaan “kapan” yang pernah saya lalui, berikut beberapa tips dari saya untuk menghadapinya:

Pertama, anggap pertanyaan “kapan” sebagai bentuk perhatian dari yang bertanya. Jauhkan pikiran negatif bahwa yang bertanya ada maksud mencampuri urusan kita atau sekedar kepo terhadap kehidupan kita.

Kedua, jadikan pertanyaan ”kapan” sebagai bentuk harapan dan doa untuk kehidupan kita selanjutnya, sehingga terhindar dari perasaan baper bin sedih.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/zhou yu

Ketiga, hadapi pertanyaan “kapan” dengan senyuman. Senyuman bisa membuat perasaan lebih baik.

Keempat, hadapi pertanyaan “kapan” dengan mindset bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita semuanya adalah campur tangan Tuhan. Kita bisa saja berencana, namun bagaimana hasil dari rencana tersebut tetaplah Tuhan yang menentukan. Jadi, kalau ada yang bertanya “kapan” jawab saja seadanya atau jadikan becandaan saja, jangan dimasukkan ke dalam hati”.

Kelima, maafkan dan maklumi lawan bicara yang memberikan pertanyaan “kapan”, karena bisa jadi dia memang tidak tahu ingin memulai pembicaraan dari mana.

Keenam, karena sudah tahu bagaimana rasanya diberikan pertanyaan “kapan”, sebaiknya jauhi topik pertanyaan ”kapan” dengan lawan bicara. Hal ini akan membuat lawan bicara menjadi lebih nyaman.

Nah, itulah 6 hal yang bisa saya bagi untuk menghadapi pertanyaan “kapan” berdasarkan pengalaman yang saya lewati. Semoga bermanfaat.





(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading