1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Bila Masalahmu Terasa Berat, Ada Tuhan yang Kapan Saja Bisa Diajak Curhat

Rabu, 23 Mei 2018 13:45 Penulis: R. N. - Surabaya
Ilustrasi./Copyright pixabay.com/adzuanhashim

Vemale.com - Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti memiliki cerita sendiri-sendiri yang berasal dari beragam kejadian yang mereka alami, baik yang bahagia maupun yang pahit. Menariknya, kebanyakan pelajaran hidup diambil berdasarkan dari pengalaman-pengalaman pahit seseorang. Pun ini tergantung dari persepsi masing-masing yang menjalani. Ada yang menganggap bahwa kejadian pahit yang sedang dialami adalah sebagai dorongan untuk membuat diri menjadi lebih baik. Ada pula orang yang malah merespon negatif atas kejadian pahit yang mereka alami, yang akibatnya tentu saja juga negatif dan sama sekali tidak bisa membuat hidup menjadi lebih baik.

Setiap orang yang hidup pasti mengalami yang namanya permasalahan. Namun, hasil dari permasalahan ini tergantung dari individu yang merespon dan mengolahnya. Apakah permasalahan ini dapat menjadi peluang untuk membentuk kehidupan yang lebih baik, atau justru menenggelamkan mereka kepada putaran permasalahan yang tak berkesudahan.

Termasuk saya, yang sudah hidup selama 24 tahun, tentu memiliki berbagai macam permasalahan. Merasa sedih? Merasa frustasi? Merasa bahwa tidak ada orang yang mengerti keadaan saya yang sedang bersedih? Ya, saya merasakan itu. Dan celakanya, semua pikiran itu adalah hasil dari pikiran-pikiran negatif yang saya akumulasikan karena kurangnya rasa syukur. Ya, kurang bersyukur. Karena masalah-masalah yang saya hadapi ini kalau dipikir kembali masih jauh lebih ‘enak’ dibanding masalah yang dihadapi orang lain. Namun, karena kurangnya rasa syukur dan introspeksi diri inilah yang bisa menyebabkan saya merasa down seperti yang saya sebutkan di atas. Dalam tulisan ini, saya ingin sharing, khususnya untuk wanita lain seperti saya, apa saja pengalaman yang menurut saya berbekas sehingga dapat memacu saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Seperti remaja perempuan pada umumnya, saya juga pernah mengalami hal yang disebut pacaran. Yap. Benar apa kata orang yang menganggap ketika pacaran itu berasa dunia hanya milik berdua, senang, bahagia, kemana-mana ada yang menemani, sampai kita tidak berpikir kalau suatu saat dia bisa saja meninggalkan kita. Dan ternyata, itu terjadi pada saya. Tiba-tiba dia hilang kabar, kalau ditanya jawabannya tidak meyakinkan, dan lain-lain. Dan beberapa hari setelahnya, saya diputusin, dengan alasan orangtua dan saudaranya tidak menyetujuinya.

Selain itu juga katanya dia mau menempuh pendidikan di Singapura, jadi susah untuk hubungan jarak jauh. Alasan klise banget, sih sebenarnya dan tidak masuk akal. Tapi pada waktu itu saya, sih baper parah. Sedih, bingung, dan sakit hati. Apalagi ternyata, dua minggu setelah putus dia jadian sama orang lain. Pasang status dan foto dengan cewek lain. Pada saat itu bisa dibilang saya mengalami patah hati yang parah, hehe. Berasa seakan dunia mau runtuh. Dan saya marah semarah-marahnya sama dia karena saya merasa dibohongi dan merasa dibodohi.

Diperparah dengan saya harus menyelesaikan skripsi saya dan mengejar wisuda. Sudah diputusin, eh, skripsi belum juga kelar. Itu semua lumayan membuat saya stres. Kerjaan saya setiap hari menangis. Tidak mau makan (waktu itu berat badan saya turun empat kilo, hehe), dan tidak menyentuh skripsi saya sama sekali. Saya salahkan semua ini sama dia. Saya sampai berpikir bahwa, "Kalau hidup saya rusak setelah ini, itu karena kamu." Dalam pikiran saya, saya nggak bakal mau memaafkan cowok ini dan nggak mau ketemu sama cowok ini lagi.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com/dijanavu

Lalu saya berpikir, "Kalau saya terus-terusan gini rugi di aku, dong? Orang dia nggak pernah mikirin aku sama sekali," "duh, gimana, ya supaya bisa cepat lupa sama dia?" "Duh, gimana, ya biar aku nggak mikirin orang itu terus? Biar nggak nangis terus?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang sering muncul pada saat keadaan saya yang waktu itu sedang patah hati (duh, patah hati). Saya nggak mau, dong, saya sedih-sedih di sini pagi-siang-malam sementara dia tidak menyadari kalau saya sedih dan dia bahagia sama orang lain. Nah, mulai dari situlah saya akhirnya memutuskan untuk bangkit.

Saya sudah tidak mau berada dalam kesedihan terus menerus karena hal tersebut hanya akan menyiksa diri saya sendiri. Selain itu, saya juga melakukan suatu hal yang bisa berdampak positif untuk saya. Apa? Ya, menyelesaikan tanggungan skripsi. Pada saat itu alhamdulillah selain saya mengerjakan skripsi, saya juga menjalani magang di salah satu kantor akuntan publik di Yogyakarta, ditambah juga saya selalu dikelilingi oleh orang-orang terdekat saya yang selalu menemani saya yang menjadi faktor penting kenapa galau saya bisa perlahan hilang, hehe. Ya, nggak hilang juga, sih karena terkadang saya masih memikirkan dia dan kejadian itu. Pikiran-pikiran ini yang kemudian mengantarkan saya kepada introspeksi diri.

Menurut saya (dan masukan dari teman-teman), tidak mungkin seseorang berselingkuh apabila tidak ada penyebabnya. Saya berpikir dan menganggap bahwa dia bisa selingkuh juga didukung dari sifat saya, yaitu cuek dan nggak bisa dikasih tahu alias bebal. Pernah suatu waktu dia bilang, "Pacaran sama kamu kayak nggak pacaran, ya. Apa-apa harus aku duluan yang mulai," dan, "Aku nggak tahu lagi gimana caranya ngasih tahu kamu. Kamu nggak pernah mau dengerin omonganku."

FYI, dia adalah tipe orang yang sangat-sangat sabar (setelah itu saya pacaran dengan beberapa orang lagi dan baru sadar kalau dia sabar banget dulu bisa bertahan cukup lama dengan saya dan sifat-sifat saya). Dari situ akhirnya saya memutuskan untuk memaafkan dia, karena ya kembali lagi, ketika ada permasalahan disuatu hubungan, tidak mungkin hanya satu pihak saja yang bersalah. Mungkin saja dengan pasangannya yang sekarang dia bisa menemukan hal yang nggak bisa ditemukan ketika menjalani hubungan dengan saya.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com/nietjuh

Saya nggak bisa menuruti ego saya karena saya sudah disakiti dan menyalahkan seluruhnya ke dia. Dari dia saya juga belajar untuk menurunkan ego saya sedikit demi sedikit. Di situ akhirnya saya memutuskan untuk memaafkan dia dan melupakan semuanya alis move-on.

Problema selanjutnya yang sedang saya hadapi sekarang adalah bagaimana cara hidup mandiri. Walaupun saya seorang wanita, saya dididik oleh bapak saya untuk menjadi wanita yang mandiri sehingga nantinya saya tidak terlalu bergantung pada orang lain. Caranya adalah dengan bekerja. Namun, mencari pekerjaan pada zaman sekarang tidak semudah menemukan padi di sawah.

Perbandingan SDM yang mencari kerja dengan yang membuka lapangan pekerjaan tidak sebanding. Saya sebenarnya sudah bekerja namun saya memutuskan untuk resign sekitar 1,5 bulan yang lalu. Dan selama 1,5 bulan ini saya jobless alias pengangguran. Stres, nggak? Hm, banget, hehe. Kalau kata orang enakan stres mikirin kerjaan dibanding stres mikir nggak tahu mau ngapain, itu benar sekali.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com/janeb13

Banyak panggilan untuk interview namun sampai sekarang belum menemukan yang tepat juga cukup membuat saya stres. Tapi, kalau saya terus memikirkan hal-hal yang negatif, mengeluh sepanjang hari, tidak mau berusaha ya sampai kapanpun saya tidak akan meraih apa yang saya inginkan. Karena itu, ada beberapa hal yang saya lakukan agar saya tidak stres dan selalu terpacu untuk menjadi lebih baik dalam masa jobless ini, yaitu:

1. Menyibukkan diri dengan melakukan hobi

Saya orang yang cepat merasa bosan, jadi saya tidak bisa diam tanpa melakukan satu-dua hal. Daripada stres, saya mengalihkannya dengan melakukan hobi-hobi saya. Yang pertama adalah karena saya hobi menulis, saya mengikuti berbagai kompetisi menulis.

Yang kedua adalah mengikuti kegiatan sosial, karena saya sangat menyukai kegiatan-kegiatan sosial sejak dulu. Dan yang ketiga, bereksperimen di dapur, hehe. Walaupun sering kena marah orangtua ketika bereksperimen, tapi ya gapapa. Biar hidup lebih produktif aja, sih.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com/free photos

2. Mendekatkan diri kepada Tuhan

Rasa stres itu biasanya disebabkan oleh kurangnya rasa syukur kepada Tuhan. Saya sering mikir, ‘kok dia enak,ya. Dapat kerja enak banget. Udah cepet dapet, keterima di perusahaan besar lagi.’ ‘kok sampai sekarang aku belum dapet kerja, ya? Apa gara-gara aku nggak menarik?’ dan lain-lainnya. Saya sibuk membandingkan nasib saya dengan mereka yang di atas saya, tanpa berpikir bahwa jauh lebih banyak orang yang hidupnya lebih menyedihkan dibanding saya. Kalau sudah begitu caranya adalah kembali lagi, mendekatkan diri kepada Tuhan.

Mungkin saya belum diberi apa yang saya inginkan hingga sekarang karena Tuhan masih mau lihat saya berdoa kepada-Nya (kadang manusia suka lupa diri kalau sudah dikasih nikmat, termasuk saya), mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lain untuk saya, mungkin Tuhan sedang ingin melihat saya berusaha lebih baik lagi. Tidak ada yang tahu,’kan?

3. Terus usaha tanpa kenal henti!

Terus berusaha untuk mendapatkan yang saya inginkan. Caranya? Kalau sekarang saya ingin mendapat pekerjaan, ya carilah sampai dapat, baik via online maupun konvensional, usaha terus. Karena menurut saya, Tuhan sudah memberikan rejeki untuk hamba-Nya , tinggal tergantung kita sendiri apakah kita berusaha untuk meraih rejeki yang sudah diberikan kepada kita atau tidak.

Intinya adalah menurut saya, semua orang memiliki permasalahan, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita mengatasi permasalahan tersebut. Dari permasalahan yang saya ceritakan, saya lebih memilih untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti saya dengan berintrospeksi dan juga terus berusaha mengejar apa saya inginkan dibarengi dengan berdoa karena ketika kedua hal tersebut berjalan tidak seimbang, semua yang dilakukan akan menjadi sia-sia.

Dengan terus berusaha seperti ini, saya bisa belajar dari berbagai pengalaman untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya harus bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur, yang lebih dekat dengan Tuhan, dan pribadi yang lebih berpikir positif ketika dihadapkan pada suatu masalah.

Untuk kalian, terutama para wanita diluar sana yang memiliki permasalahan yang bahkan jauh lebih buruk dibanding masalah saya, selalu ingat kalau kalian tidak sendiri. Selain memiliki orang-orang sekitar yang mencintai kalian, kalian memiliki Tuhan yang 24 jam bisa diajak untuk curhat dan itu menurut saya senjata yang sangat ampuh ketika mengalami berbagai masalah. Cheers for all strong women in this world!

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Kensington Palace Umumkan Kehamilan Meghan Markle