1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Tinggal Serumah dengan Mertua, Hidupku Bagai Boneka Tak Bernyawa

Jum'at, 18 Mei 2018 17:00 Penulis: Ajmalal Azkiya’ - Jombang
Ilustrasi./Copyright pexels.com/karyme franca

Vemale.com - Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Akhir-akhir ini, sudah hampir setahun aku merasakan ada yang berbeda dalam diriku. Berbeda sudut pandang dalam melihat atas segala tentang ibu mertuaku. Di awal pernikahanku, dengan segala tekad aku sudah menerima bahwa aku harus tinggal di rumah mertua karena suami adalah ragilnya.

Prinsip awalku adalah karena aku tidak hanya sementara tinggal disini, maka aku tidak akan berpura-pura, aku akan menunjukkan sikap alamiahku, segala kekuranganku. Lelah bukan kalau kita berpura-pura? Itu dulu, dan berhasil membawaku pada puncak dikatakan oleh mertua bahwa aku yang terbaik di antara para menantu perempuannya. Bangga? Tidak, karena aku yakin dalam diriku pun terdapat banyak kekurangan yang belum beliau ketahui.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/mike photos

Dari awal suami sudah pernah bilang kepadaku untuk senantisa bersabar dan kuat atas kecerewatan ibunya. Dan aku mengangguk setuju untuk itu. Tapi, dengan pengalaman yang sangat berbeda antara beliau yang benar-benar wanita desa dengan bekal pendidikan agama salaf dengan aku yang selain lususan pesantren juga sejak muda sudah melanglang buana menjadi mahasiwi yang aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, sosial, hingga pertemanan lintas budaya dan agama, ternyata menjadikanku sulit menerima beberapa pendapat dari beliau dan sebaliknya.

Mulai dari hal-hal kecil tentang pakaian yang aku kenakan, yang kata beliau bentuknya aneh-aneh lah, terlalu wah lah, akhirnya aku mengalah, baju-baju yang sudah dikomentari aku bawa pulang ke rumah orangtuaku di Kediri dan aku pakai di sana. Misalnya lagi, aku belikan si kecilku minyak telon merk A, dikomentari lagi, nggak enak baunya, besoknya langsung aku ganti. Sama, yang minyak telon merk A aku pakai di Kediri. Pernah suatu kali, eh, beberapa kali aku belikan baju unntuk balitaku, ada gambar inilah, tidak cocok, ada talinya lah, ya sudah, aku bawa baju-baju itu di Kediri, aku pakaikan kalau lagi di Kediri.

Sesekali aku diajak ngobrol saudaraku dari Kediri, yang bercanda tentang berat badanku yang tetap saja tak naik-naik, badan tetap kurus sama seperti dulu sebelum menikah, dia bilang, “Maklumlah kamu kan hidup sama mertua, kalau aku tidak, jadi gemukan kayak gini."

Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Meskipun banyak hal yang tidak aku sukai, tidak cocok atas diri beliau, aku selalu memegang prinsip bahwa aku tidak akan menceritakan atau curhat apapun dan dengan siapapun tentang beliau, bahkan meski dengan suamiku, karena pasti suamiku sedih jika mendengarkannya. Dan alhasil, dari hari ke hari, tampaklah ketidakcocokanku dengan beliau, aku sudah malas beres-beres rumah lagi setelah beberapa kali aku berberes dan beliau menampakkan ketidaksukaannya lewat kata-kata atau sikapnya. Meski beberapa kali kakak iparku mengingatkan bahwa ini pun juga rumahmu. Aku pikir dulu juga begitu, tapi lambat laun aku lelah dan menyerah. Aku lebih banyak diam dan memilih menjauh dari beliau.

Pada saat aku menjauh, beliau ganti mendekati dan sering ngobrol dengan kakak iparku yang dulu juga pernah serumah, tapi sekarang sudah punya rumah sendiri. Dulu, beliau sering bercerita tentang kekurangan-kekurangan dan ketidaksukaannya terhadap kakak iparku itu kepadaku. Sekarang, setelah beberapa bulan yang lalu Ayah mertua wafat, beliau lebih sering memperhatikan kakak iparku itu, sementara aku masih dalam diamku dan lantunan istighfar serta sholawat dalam setiap detikku.

Acara apapun di rumah, aku tidak pernah lagi diajak berdiskusi, aku juga tidak pernah protes. Aku hanya diam, sembari aku menerima saja menjalani apa yang menjadi tugasku. Kadang aku berpikir, beliau tidak akan pernah bisa marah sama kakak iparku dan keluarganya karena darinya lah uang didapat. Aku dan suami? Tidak pernah ngasih apa-apa, karena aku tidak bekerja, suamiku pun masih repot dengan keperluan keluarga kecil kami.

Kadang aku lihat, betapa beliau selalu memanjakan anak dari kakak iparku, berbeda dengan anakku. Betapa ketika aku keluar bersama suami beliau tidak pernah menawarkan diri untuk mengajak. Anakku tinggal dirumah. Berbeda dengan kakak iparku, selalu anaknya dititipkan ke beliau. Dan jelas aku yang ikut kerepotan momong. Pernah aku lalai momong dua bocil, beliau marah-marahnya minta ampun. Padahal hampir tiap hari aku lah yang momong anakku dan keponakanku itu. Sungguh, apa benar uang akan mengalahkan segala kebaikan? Apa benar bahwa seseorang akan lebih mudah tersenyum kepada orang yang memberikannya uang daripada memberikan secuil kasih sayang?

Ilustrasi./Copyright pexels.com/eneida nieves

Kediaman dan perubahan sikapku tercium oleh beliau, dan beliau pernah beberapa kali tiba-tiba minta maaf kepadaku. Tapi aku hanya diam, dan setelah itu menangis dalam sujudku. Aku yang tidak tahu lagi harus bagaimana bersikap dan membawa hati. Seringkali aku berdoa agar diberikan rumah sendiri. Bukankah itu lebih baik? Adakalanya aku melampiaskan segalanya dengan main ke rumah saudara, menghirup udara lain, menghirup suasana lain.

Tapi ketika sudah kembali ke rumah? Sungguh pengap menyerbu dada. Aku memlilih segera masuk ke kamar dan berdiam diri dalam dzikir kepada-Nya. Beliau orang yang taat beribadah, tahajud tiap malam bersama dengan witir, tadarus ya juga istiqomah, puasa sunnah hampir tiap hari. Tapi yang namanya hati, ketika terluka sungguh sakitnya minta ampun. Dan aku selalu yakin bahwa hanya Allah yang bisa menyembuhkan lukaku. Dia memiliki banyak cara dan jalan yang kita tidak pernah sangka-sangka.

Suatu hari suamiku mendekatiku, mengajak aku berbicara serius. Ternyata dia telah melihat ketidakharmonisan hubungan aku dan ibunya. Dia berbicara banyak, memintaku untuk berubah, memintaku untuk menjadi lebih baik. Sungguh air mataku tak bisa aku tahan. Benteng pertahananku runtuh, itu adalah pertama kalinya kami membahas ketidakharmonisanku dengan mertua setelah tiga tahun usia pernikahan kami.

Seketika itu aku katakan kepadanya bahwa aku sudah tidak tahu lagi harus bagimana menghadapinya. Aku sudah mencoba melakukan yang terbaik, menuruti segala apa yang beliau katakan. Tapi kenyataannya beliau tidak pernah puas dengan banyak hal yang aku uasahakan. Pembicaraan waktu itu berakhir dengan tangisan bersama dan tanpa kesimpulan harus bagaimana.

Dalam kesempitan itu, setiap langkahku, aku tak lupa beristghfar dan bersholawat. Karena aku sungguh sudah tidak paham lagi dengan jalan yang aku hadapi. Seperti hitam tak berarah, gelap tak bercahaya. Sehari-hari aku seperti boneka tak bernyawa, bermain dalam rumah yang mati. Sampai pada suatu hari aku bertekad untuk mencari obat atas diriku sendiri.

Aku berpikir, aku tidak akan pernah bisa merubah jalan pikiran beliau. Yang bisa aku lakukan adalah mengubah diriku sendiri, bukan untuk suamiku, bukan untuk beliau. Lebih kesini aku sadar, hidupku bukan untuk mencari pujian manusia, tapi mencari kasih sayang Allah. Sejak saat itu, aku tekadkan, segala perbuatanku aku tujukan untuk mendapat pujian dari Allah. Terserah manusia mau bilang apa tentangku. Bukankah Allah memiliki kuasa atas segala hal? Termasuk  memiliki hidupku. Dan kau tahu teman, apa yang bisa mengantarkanku pada pemikiran ini? Tiap kali aku merasakan hatiku sakit karena beliau, aku buka Al Qur’an aku baca ia sebanyak-banyaknya, tidak jarang aku berhenti di tengah-tengah karena menangis.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/abd ulmeilk majed

Aku hanya berharap dan percaya atas janji Allah bahwa Al Qur’an adalah obat dari segala penyakit, Al Qur’an adalah jalan keluar dari segala masalah. Sedikit demi sedikit, aku merasakan, ada kekuatan hebat yang tiba-tiba hadir mengalir dalam jiwaku serta kekuatan hati yang jernih menuntunkku untuk melakukan banyak kebaikan. Memberiku jalan bagaimana menyikapi beliau dengan damai tanpa sakit hati. Dan sekarang, di Ramadan kali ini aku tekadkan lebih kuat lagi, untuk senantisa membaca Al Qur’an sebanyak-banyaknya. Agar senantisa Allah memberikanku jalan yang indah dalam mengarungi hidup ini.

Kau tahu kawan, apakah masalahku dengan beliau sudah selesai begitu saja? Aku rasa belum, karena hingga saat ini aku masih beberapa kali merasa jengkel ketika ada yang kurang pas atas beliau. Dan masih selalu mengharap punya rumah sendiri. Hehehe. Tapi saat ini berbeda, aku bisa tersenyum lega atas segala masalah dan perbedaan yang aku hadapi. Karena aku sudah tahu obatnya, Al Qur’an. Dan aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan meninggalkan Al Qur’an sampai akhir hayatku. Bukankah hidup ini penuh dengan masalah?

Jombang, 1 Ramadan 1439 H



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Nikita Mirzani Menghapus Semua Foto di Instagramnya