1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Jika Belum Bisa Wujudkan Harapan Ibu, Setidaknya Jangan Membuatnya Sedih

Rabu, 16 Mei 2018 14:30 Penulis: Novita Ambarwati - Bandung
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Vemale.com - Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Menghadapi kekalahan hari ke hari, meratapi diri karena tak dapat mewujudkan mimpi orangtua menjadi kenyataan, bukanlah hal mudah. Sempat membenci diri sendiri, hingga semuanya meradang menjadi benci ke segala arah, saat lelah dengan semua salah, dan impian terlanjur musnah.

Aku sempat menyesali kenapa aku harus terlahir ke dunia jika menyusahkan. Bukan cerita yang menyenangkan memang untuk hal satu ini, tapi bisa jadi di dunia ini bukan aku yang mengalami. Berbeda paham dengan orang yang paling kita kenal untuk pertama kali, menganggap mereka menyayangi padahal mereka membuat hati ini nyeri sendiri, meskipun bisa jadi mereka tak pernah niat untuk menyakiti. 

Namaku Novita Ambarwati, terlahir dengan impian ibuku menjadi seorang anak perempuan yang membanggakan, bekerja berseragam, dapat gaji dan tunjangan bulanan, tapi apa daya selepas kuliah, aku sangat kesulitan mencari pekerjaan, kukirim email bisa jadi sampai ratusan ke seluruh perusahaan, di mana pun ada acara job fair pasti kutempuh di mana pun berada, sayangnya bukan jodohnya, ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2016.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/i love simple beyond

Sebenarnya aku bukan yang menjadi pengangguran keterlaluan. Aku ada kesibukan siaran radio, MC, bahkan pekerjaan freelance lainnya yang kujalani, tapi di mata ibu, semuanya bukanlah kebanggaan. Karena kerjaanku semua dianggapnya notabene karena kesenangan atau hobi semata bukan menjadi penghasilan atau hal yang menguntungkan.

Terlebih lagi aku adalah anak sulung, "Saacan bungsu nu jadi gegenti indung (dalam bahasa Sunda: lahir sebelum bungsu yang nantinya bakal jadi gantinya ibu)," yang artinya aku harus menjadi yang bisa keluarga harapkan, berperan fungsi selain anak tapi bisa membantu orangtua, dan menjadi pengganti saat orangtua tak ada.

Bukan hal yang mudah memang langsung mengemban tanggung jawab seperti itu, apalagi naluriku dan pencarianku yang dipenuhi paham-paham idealismeku masih kuat di benakku, aku punya cita-cita sendiri, tapi dari hari ke hari  aku merasa tak berguna, apalagi jika ibu sudah membanding-bandingkanku dengan yang lain, semisal anak tetangga yang sudah berhasil beliin orangtuanya mobil, rumah, padahal seumuran, sedangkan aku belum ada yang bisa dibanggakan.

Aku sudah mencoba semaksimal apa yang aku bisa, dimulai mencari beasiswa saat kuliah, jualan donat keliling saat kuliah, freelance apapun, dan semua kulakukan semata-mata hanya untuk tidak memberatkan, tapi semua yang kulakukan seolah sia-sia, tak dapat penghargaan apapun, hanya tuntutan yang terus menerus.   

Sampai pada akhirnya, aku membenci orangtuaku sendiri, ibu yang melahirkanku, yang membesarkanku, yang berjuang saat Ayah tiada. Aku ingin pergi dari dunia rasanya, hingga sampai akhirnya ibu semakin memaksaku untuk mencari kerja karena beliau ada masalah dengan keuangan, hingga naik pitamlah, marahlah aku, tak tahu kata-kata apa saja yang kuucap.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/daria shevstova

Hingga akhirnya besoknya aku pulang ke Bandung, dan sesampainya di Bandung aku dapat kabar bahwa ibuku sakit, dirawat di rumah sakit, badannya demam, tekanan darahnya terus menurun begitu berita yang kudengar. Sungguh ada perasaan bersalah di sana, dan aku belum berani menemui ibuku di rumah sakit, sejak kuliah aku dan ibu memang berbeda kota, aku di Kota Bandung dan ibuku di Kota Banjar.

Sampai akhirnya aku bermimpi bertemu dengan seorang lelaki tua mengingatkanku bahwa, “Bagaimanapun orangtuamu, ya itu orangtuamu, kamu tidak dilahirkan untuk berkata kasar dan kurang ajar. Kamu dididik bukan untuk gampang menghardirk, namanya juga orangtua, sama-sama manusia punya salah, saling hargai dan memaklumi. Kalau belum bisa jadi apa yang mereka harapkan, setidaknya jangan kecewakan mereka dengan perlakuan yang tidak menyenangkan."   

Saat aku terbangun, sontak aku menangis sejadi-jadinya, mimpi itu seolah nyata, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk datang kepada ibuku. Memang tak ada kata maaf yang terlontar dari mulutku, tapi semoga dengan merawatnya bisa menjadi permintaan maafku, hingga sampai saat ini semua perbedaan, semua harapannya, semua keinginannya, aku jadikan doa, membungkus kecewa menjadi doa.

Tak ada orangtua yang melahirkan anaknya untuk disakiti, semuanya hanya masalah perbedaan komunikasi. Semoga belum terlambat untukku menjadi anak yang dapat berbakti dan berbudi pekerti. Sampai saat ini aku pun masih terus berjuang untuk selalu ikhlas, karena untuk belajar satu ini tak pernah ada ujungnya. Menjelang Ramadan tahun ini, aku bersyukur masih bisa memiliki keluarga. Keluarga yang harus kujaga, yang harus kucinta.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
8 Kejutan yang Bakal Bikin Kamu Bakal Puas Nonton FANTASTIC BEASTS THE CRIMES OF GRINDELWALD