Sukses

Lifestyle

Mengobati Gelisahnya Hati Belum Dikaruniai Anak dengan Berhijrah

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Kamu menggapai tanganku. Jemari kita bertaut. Kamu menatap mataku dengan polos. Nak, meski kamu belum bisa bicara, hati kita sudah terpaut, lebih erat dari tali bersimpul mati. Pagi itu, kita berjemur, kamu dengan lahap menyesap ASI. Matahari menghangatkan tubuh kita, agar kamu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas, agar aku menjadi ibu yang tangguh. Senyum kita selebar dunia. Ah, adegan itu terekam jelas di kepala. Lebih tepatnya, angan-angan itu cukup membuat mata berkaca-kaca.

Ilustrasi menanti momongan./Copyright pexels.com/oleksandr pidvalnyi

Hidup memang tak selalu sesuai dengan apa yang diinginkan. Jika semua impianku terwujud begitu saja, di mana letak syukur yang harus dipanjatkan sebanyak-banyaknya kepada Sang Pencipta? Satu tahun enam bulan terasa cepat untuk bergulat dengan realita, tapi terasa lama  untuk berdamai dengan andai. Selama itu pula, aku sudah jatuh dan terbangun, harapanku patah berulang kali, bahkan hatiku terasa babak belur. Pertanyaan, “Why me?” masih selalu membayangiku. Namun, aku juga yakin, Allah Swt. memiliki alasan dan lebih berhak menyatakan, “Why not?”

Absennya buah hati di usia pernikahan yang hampir menginjak dua tahun membuatku becermin. Barangkali, masih banyak dosa-dosaku yang belum bisa ditebus. Perasaan sedih dan kecewa berkali-kali hadir ketika keluar dari ruangan dokter. Program hamil yang dijalani masih belum membuahkan keturunan. Apa aku sibuk mencari dokter terbaik, sedangkan Yang Maha Kuasa justru menungguku untuk “berkonsultasi”? Kegagalan program hamil yang kujalani menjadi titik balik untuk berusaha menjadi lebih baik.

Awalnya, aku selalu menghindari acara-acara untuk menghindari pertanyaan, “Sudah hamil?” Aku juga selalu mencari-cari artikel di internet tentang keberhasilan program hamil dengan kondisi perempuan PCOS (Polycystic Ovarium Syndrom). Semuanya aku lakukan semata-mata untuk menenangkan hati yang gelisah. Aku berusaha menghibur diri dan meyakinkan hati bahwa kehamilan bisa terjadi pada siapa saja. Syarat secara medis bisa ini itu, tetapi syarat paling mutlak hanya satu, jika Allah Swt. mengizinkan. Itu saja.

Mengobati gelisahnya hati./Copyright pixabay.com

Kegelisahan bersumber dari hati yang berantakan. Aku mulai menatanya kembali dengan memeriksa sajadah, barangkali hanya tergelar lima kali sehari. Seingatku, dalam seminggu, Alquran yang teronggok di sudut lemari hanya dibuka beberapa kali. Waktuku banyak digunakan untuk urusan duniawi, mengeluh, menangis, dan mengasihani diri sendiri. Akhirnya aku sadar, ujian ini harus dihadapi dengan sabar, diselesaikan dengan tegar. Ujian yang lama-lama kuanggap sebagai tantangan ini, harus ditaklukkan.

Aku mulai berhijrah dari hal-hal yang terlihat sederhana. Berhijrah dari makanan yang tidak dibutuhkan tubuh ke makanan yang lebih bergizi, juga berhijrah dari malas berolahraga menjadi lebih rajin berolahraga. Dalam benak, kutanamkan tekad bahwa keduanya dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Ilahi. Aku mulai meminta maaf pada orang-orang yang tersakiti dengan modal ingatan. Selebihnya, mungkin masih banyak tingkah laku dan ucapan yang menyakiti hati orang lain.

Dalam doaku, semoga mereka membukakan pintu maaf. Dalam doaku, aku meminta ampun atas kesombongan dalam diri yang mungkin tak disadari, aku meminta ampun atas segala dosa. Dalam doaku, semoga semesta membentangkan jalan bagi aku dan suami untuk bertemu dengan buah hati.

Semua sudah diatur oleh-Nya./Copyright pexels.com/janko ferlic

Setiap hari, aku selalu berusaha menambah kualitas dan kuantitas interaksi dengan Sang Pencipta. Semua yang terjadi dalam hidupku adalah kehendak-Nya, maka aku memohon petunjuk dan jalan keluar kepada-Nya. Aku selalu mengulang doa yang sama tapi kegelisahanku malah menjadi-jadi. Hingga akhirnya, aku memahami bahwa segala usaha dan doa bermuara di lautan bernama keridaan.

Rida menerima segala ketentuan-Nya adalah caraku menaklukkan tantangan ini secara perlahan. Sebelah mataku terbuka, hamparan nikmat yang telah diberikan justru luput untuk disyukuri. Aku terlalu sibuk mengejar impian serupa ketidaktahuan akan takdir. Aku terlalu repot mengukur cepat dan lambat, padahal Dia selalu memiliki perhitungan waktu yang tepat. Tugasku hanya berkeinginan, berusaha sekuat tenaga, mendekatkan diri pada-Nya, bersyukur, dan menerima takdir dengan lapang dada.

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading