1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Adikku Hampir 'Dinodai' Sepupuku karena Kelalainku

Sabtu, 21 April 2018 14:50 Penulis: Ades Santi Tyara - Rangkasbitung, Lebak Banten
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Vemale.com - Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Aku adalah seorang kakak dari adik perempuanku satu-satunya, dia kini berusia 18 tahun. Hanya beda 2 tahun dariku, ya aku kini berusia 20 tahun. Namun adikku memiliki keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental (Down Syndrome). Adikku tidak seperti adik-adik temanku yang lain, yang seusianya mungkin bisa diajak melakukan aktivitas seperti orang normal pada umumnya. Bahkan adikku tidak bersekolah karena urusan biaya yang tidak cukup, hanya cukup untuk biaya sekolahku saja, karena biaya sekolah khusus untuk anak keterbelakangan mental cukup mahal dan lokasi pun jauh.

Sejujurnya tidak sedikit orang yang mengejek dan menghina adikku jika aku membawanya bermain, entah itu di dekat rumah ataupun jauh dari rumah. Dan terkadang akupun merasa malu dengan keadaan adikku jika aku mengajaknya bermain di luar bersama. Ya aku memang kakak yang payah dan tidak baik pada adikku sendiri, aku egois dan jahat!

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Sebenarnya aku masih memiliki dua saudara yang tidak lain adalah kakakku. Namun berbeda ayah, ya mamah dahulu pernah gagal membina bahtera rumah tangga dengan mantan suami yang pertama dan memiliki dua anak, lalu menikah dengan bapakku dan lahirlah dua putri, yaitu aku dan adikku. Namun perlakuan dari kedua saudara tiriku yang usianya jauh lebih dewasa dariku cukup tidak baik terhadap keluargaku, sehingga keluargaku tidak pernah berharap apapun dari kakak tiriku.

Terlebih lagi di luar sana orang-orang selalu meremehkan dan memandang sebelah mata terhadap kehidupan keluargaku yang serba pas-pasan, mereka terkadang mengusik keluargaku tanpa sebab, bahkan tak jarang penghinaan terlontar terhadap adikku yang membuat mamah sedih.

Kedua orangtuaku berjualan di sebuah pasar di kotaku, sehingga keseharian mereka cukup sibuk. Setiap pulang sekolah, aku lah yang harus menjaga adikku setiap hari. Tak kupungkiri kadang aku pun sering membuat adikku menangis karena aku kesal dengan adikku yang sering membuat rumah berantakan, padahal aku tahu itu karena adikku tidak mengerti apapun. Terkadang saat adikku membuatku marah aku sering berkata tak pantas padanya. Dan segala perlakuan burukku padanya, itu semua karena hatiku jahat! Aku selalu berkata, “Kenapa aku punya adik yang tidak normal?” Tentu aku sangat jahat dan tidak bernurani pada adikku sendiri.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Hingga suatu hari saat aku dan adikku berada di rumah berdua, adikku sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. Aku tidak menyangka akan ada kejadian semacam ini terlebih terjadi pada adikku yang tidak bisa berkata atau menceritakan apapun pada siapapun. Saat itu memang orangtuaku baru saja berangkat untuk ke pasar, aku beranjak ke kamar mandi dan meninggalkan adikku di ruangan itu yang pasti kukira aman. Setelah aku keluar dari kamar mandi aku langsung menuju adikku dan dengan kaget aku melihat adikku hendak diperkosa oleh saudara sepupuku sendiri. Aku melihat jelas dengan kedua mataku, sontak aku sangat kaget dan syok.

Aku menangis kala itu. Aku sangat tidak menyangka dia tega melakukan ini, detik itu juga aku lontarkan kata tegas penuh tangis marah dan kekecewaan betapa teganya dia berbuat seperti itu, beruntungnya hal mengerikan itu belum merenggut hak adikku sebagai gadis. Aku marah, sangat marah dan kecewa. Pelaku sekaligus sepupuku yang usianya lebih dewasa dariku memohon maaf dengan alasan dia khilaf. Saat itu aku pun bingung dan berkata aku akan memaafkannya, karena usiaku saat itu 18 tahun dan adikku 16 tahun, aku berpura-pura mengatakan akan memaafkannya dan tidak akan mengatakan hal ini pada orangtuaku. Karena aku pun juga takut sepupuku akan berbuat yang tidak terduga kala itu.

Sore hari tiba, mamah pulang memandangku saat itu aku masih menangis memeluk adikku yang malang itu. Mamah pun bingung dan berkata aku kenapa dan apa yang terjadi. Aku menceritakan semua dengan jelas tanpa ada yang dikurangi atau aku lebihi semua kuceritakan seperti yang aku lihat saat itu, mamah menangis begitu kencangnya sama sepertiku, tidak lama bapak masuk dan mendengar perkataanku dia begitu kaget dan sedikit tidak percaya karena yang melakukannya adalah saudara sepupuku yang tidak lain anak dari kakak bapakku sendiri. Saat itu bapak benar-benar murka. Dia tidak terima perlakuan untuk putri bungsungnya itu, saat itulah pertengkaran sadara terjadi dan saat itulah aku sadar bahwa adikku adalah harta berhargaku di dunia ini.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Selama ini aku lalai menjaga adikku selama ini aku jahat padahal dia satu-satunya saudara yang akan menemaniku sepanjang hidupku, kini aku sadar bahwa meskipun adikku tidak sempurna tapi dia berhak untuk dilindungi dan mendapat kasih sayang dariku sebagai kakaknya.

Selang sebulan kemudian aku lulus sekolah SMK dan aku memutuskan sebuah keputusan kepada kedua orangtuaku untuk tidak lagi meninggalkan rumah (berhenti bekerja) itu usulanku untuk kedua orangtuaku agar bisa menjaga adikku lebih ketat lagi.

Keseharian adikku hanya bisa berdiam diri di rumah ditemani oleh mamah dan bapakku, aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta setelah lulus sekolah untuk mencari pekerjaan apapun itu asal halal demi keluarga tercinta.

Tiba di Jakarta, tidak mudah rasanya untuk mendapat sebuah pekerjaan yang layak. Hingga saat itu aku pun mengambil pekerjaan serabutan, dari titik terbawah aku mulai merangkak, lalu melangkah sedikit demi sedikit langkahku mulai berujung manis. Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang Kau berikan, aku tahu betul seperti apa rasanya lelah letih mencari rupiah.

Kini waktu berlalu aku berusaha menjadi anak kebanggaan orangtuaku sebagai kakak dari adikku. Bersyukur dari keputusanku dan pilihanku. Kini, karierku cukup memuaskan, aku bekerja di sebuah kantor di Jakarta Barat. Berkat doa yang tulus dari keluargaku dan adikku tercinta selalu menjadi semangat yang tidak pernah pudar.

Usia mamah dan bapakku kini sudah tidak lagi muda. Inilah pilihan dalam hidupku, aku tidak pernah menyesali pilihanku  sebagai anak pertama untuk mamah, bapak juga adikku. Kini mereka menjadi penyemangat terhebat untukku dan selalu menantiku setiap bulan untuk berkumpul bersama di rumah kecil kami.

Percayalah saat kamu memutuskan untuk bangkit membahagiakan orang terkasih maka Tuhan akan memberimu balasan yang lebih manis, dan itu nyata.

“Terima kasih Tuhan untuk segalanya. Aku akan menjaganya dengan sisa hidupku.”



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Menyusui Juga Perjuangan, Semangat Mom!