1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Baru Kuliah di Usia 24 Tahun, Tak Ada Perjuangan yang Sia-Sia

Rabu, 18 April 2018 14:30 Penulis: Hera - Kalimantan Barat
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Vemale.com - Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

“If you know you on the right track, if you have this inner knowledge, then nobody can turn you off... no matter what they say.”
– Barbara McClintock -

2012 merupakan salah satu tahun di mana saya berada pada fase quarter life crisis dalam hidup saya. Saya berada pada persimpangan yang membingungkan. Dihadapkan pada pilihan sulit. Usia saya 24 tahun waktu itu. Saya sudah bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, dengan penghasilan yang lumayan untuk perempuan single seperti saya. Lantas apa hal yang membuat saya sampai berada di persimpangan yang membingungkan? Adalah kegelisahan saya untuk mewujudkan mimpi lama saya. Kuliah. Hal yang sempat tertunda selepas saya SMA pada 2007, karena ketiadaan biaya. 2012 artinya saya sudah menunda kuliah saya selama lima tahun lamanya. Rentang waktu yang panjang bukan? Cukuplah untuk menyelesaikan sarjana bagi angkatan saya. Lengkap dengan embel-embel lanjut S2 atau sudah bekerja dengan gelar sarjana.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Saya merasa sudah jauh ketinggalan kereta di antara rekan-rekan seangkatan lainnya. Kalau saya kuliah tahun ini, itu artinya pada usia 28 baru saya selesai. Itu pun dengan catatan kalau kuliahnya lancar tanpa ada mata kuliah yang mengulang, jika urusan bimbingan skripsi juga baik-baik saja. Jika tidak? Maka konsekuensinya saya akan selesai sarjana setahun sebelum usia saya menuju kepala 3 atau justru tepat pada usia kepala 3. Belum lagi kekhawatiran tentang bagaimana saya menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus dan berada di antara kawan-kawan sekelas yang usianya akan 5 tahun di bawah saya. Saya akan tua sendirian, iya kan?

Belum lagi pendapat orang-orang sekitar yang bilang, "Ngapain sekolah lagi? Udah kerja juga. Sekarang waktunya untuk kamu menikah. Kalau kamu S1 sekarang, kamu akan selesai waktu usiamu menjelang kepala 3. Di usia segitu, nanti jodohnya susah lho. Udah, perempuan mah nggak perlu sarjana lagi. Ujung-ujungnya juga ngurusin suami sama anak. Ijazah cuma jadi pajangan. Gelar kamu nggak akan ada hubungannya sama aktivitas kamu di dapur. Cukup jago dandan aja, udah bikin suami bahagia. Ngapain ribet-ribet? Nyusahin diri sendiri aja."

Mimpi saya untuk kuliah, hasrat saya untuk menuntut ilmu jauh lebih besar dibanding kata-kata orang lain. Saya memutuskan untuk menanamkan kalimat, “Don’t let other people’s opinion get into your head. Always believe in yourself. As cliche as it may sound, always believe in yourself, always believe in your capabilities. Don’t let people tell you, what you can be, what you can’t do or can do. Just do it. You’re never too young or too old to achieve anything. So be brave. Have a faith,” di dalam kepala dan hati saya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Saya putuskan untuk mendaftar kuliah. Memutus rantai masa menunda saya selama 5 tahun. Ternyata, menunda selama itu membuat saya tidak bisa mendaftar di kampus negeri melalui jalur SNMPTN, karena batas waktu dari SMA ke kampus untuk kuliah di kampus negeri hanya 2 tahun saja. Jadilah, uang pendaftaran yang saya dapat dari menarik tabungan selama saya bekerja, saya gunakan untuk mendaftar di sebuah kampus swasta.

Semua ternyata tidak mudah. Beberapa hal yang saya pikir akan terjadi ketika saya kuliah, memang terjadi. Salah satunya menjadi bahan olokan beberapa kawan, yang tahu bahwa usia saya jauh lebih tua di atas mereka. Hal itu jauh lebih terasa, ketika saya memutuskan untuk ikut dalam pemilihan ketua himpunan mahasiswa di jurusan waktu saya semester 5. Kalimat seperti, “Ingat umur, ngapain ikut organisasi kampus?” atau, “Udah fokus kuliah aja, kenapa? Biar cepat beres, abis itu nikah sana!” sudah jadi santapan sehari-hari saya. Tapi anehnya, kalimat meremehkan seperti itu, seolah mental oleh prisip yang sudah saya tanamkan dalam-dalam sebelum saya melangkahkan kaki ke kawah candradimuka ini. Kalimat-kalimat melemahkan itu malah makin menguatkan saya.

Tuhan sepertinya masih ingin menguji keseriusan saya untuk meraih mimpi sarjana saya. Uang tabungan saya selama bekerja, hanya cukup untuk uang pangkal, kost dan biaya hidup. Saya kuliah tanpa laptop dan motor. Tak punya laptop karena uang saya tidak cukup untuk itu. Untuk motor, ada satu motor di kampung, tapi itu lebih diperlukan oleh ayah saya untuk jualan dan sesekali untuk mengantar adik saya ke sekolah di kala hujan. Karena itu saya memutuskan untuk kost di dekat kampus. Sehingga memungkinkan bagi saya untuk bisa jalan kaki saja ke kampus.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Untuk tugas kuliah, saya mengerjakannya di warnet dekat kost atau ngompreng laptop teman setelah dia selesai mengerjakan tugasnya tentu saja. Lembur mengerjakan tugas di warnet atau karena harus antre laptop teman saya lakoni selama 2 tahun. Sampai pada semester 5 saya akhirnya bisa beli laptop sendiri, dari uang hasil tabungan beasiswa yang saya dapatkan. Untuk motor, saya tetap tidak punya sampai akhir kuliah saya. Beruntung untuk beberapa urusan, saya punya beberapa kawan baik, yang berkenan memberi tumpangan.

Hasilnya? Perjuangan saya tidak sia-sia. Saya memenangkan kursi di kereta saya. Memang tidak tepat waktu seperti kawan-kawan saya yang lain, yang telah tiba lebih dulu di stasiun impian. Tapi setidaknya saya bisa sampai juga. Saya menyelesaikan kuliah saya dalam waktu 4 tahun dengan IPK 3,85 dan meraih prestasi sebagai pemegang IPK tertinggi sefakultas dan lulusan terbaik ke-2 pada wisuda 2016. Tak banyak yang ingin saya buktikan. Saya hanya ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa, tak ada istilah terlambat untuk sekolah lagi. Tak ada istilah terlalu tua untuk menuntut ilmu.

Tuhan tidak pernah salah dan aniaya ketika menetapkan takdir dan jalan cerita untuk hidup saya. Dan yang terpenting adalah keputusan saya di 2012 untuk kuliah lagi merupakan keputusan yang tepat. Hal yang kemudian menjadi salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup dan sangat saya syukuri sampai hari ini.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Ruben Onsu Cari Pertolongan, Orang-Orang Terdekatnya Jadi Korban