1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Luka Terpendam Bukan Alasan Memilih Jalan Menyesatkan

Senin, 16 April 2018 17:00 Penulis: Budi Rahmah Panjaitan - Medan
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Vemale.com - Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti tulisan sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini.

***

Terlahir dari keluarga yang berkecukupan, lantas apa yang tidak bisa kubeli dan kuperbuat. Hanya tinggal gesekkan sebuah kartu yang telah diberikan dua orangtua yang kusebut malaikat itu, hidupku serba mudah. Ya, mereka malaikat. Namun mungkin itu hanya sebutan, tak seperti kebanyakan orang, yang bisa merasakan dekapan malaikat itu di hidupnya. Kedua malaikat itu pernah mengatakan bahwa aku malaikat kecilnya. Namun aku tak tahu itu, mengapa kedua malaikat itu seperti hanya sekadar mampir dalam hidupku. Bahkan mendekapnya saja aku sangat sulit.

Kau harus tau dulu ceritaku. Dan aku tahu cerita ini dari seseorang yang kusebut nenek. Aku memang anak tunggal, tapi aku terlahir dari sebuah hubungan tanpa ikatan. Mungkin ini sedikit miris, namun inilah kenyataan hidup yang teramat susah untuk dikatakan. Sedari kecil, kedua malaikat itu pergi meninggalkanku dan menetap di luar negeri untuk membina hidup baru sambil mengembangkan bisnis mereka. Kebutuhanku mereka cukupi dengan mengirimkan sejumlah uang dan fasilitas yang bisa kunikmati secara finansial. Sewaktu aku kecil mereka sudah menitipkan aku dengan seorang wanita yang saat ini kusebut nenek walaupun sebenarnya aku dan dia tidak ada ikatan kekeluargaan. Dia hanyalah tetangga yang dulu menjadi tempat penitipan diriku. Syukurlah nenek sangat menyayangiku. Dia lah pengganti dua malaikat itu dalam hidupku.

Aku tak mengerti tentang alasan mereka tak ingin aku ikut bersamanya. Dan ternyata nenek mengatakan bahwa kakek nenekku yang sebenarnya yang saat ini tinggal bersama kedua malaikat itu tidak ingin menerimaku karena dianggap sebagai anak haram. Begitu kejamnya dunia bagiku. Entah apa salahku. Dan aku hanya bisa pasrah dan marah. Aku tidak bisa terima, namun apalah dayaku untuk bisa mengatakan kepada mereka yang terlampau jauh disana.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Saat mendengar cerita itu, kuyakin siapa saja yang ada di posisiku bahkan yang hanya mendengarnya bisa saja menitikkan air mata. Mungkin itulah pemikiranku yang kukondisikan dengan perasaanku. Maklum saja sebagai seorang wanita yang fitrahnya memiliki hati lembut, hal ini sudah pantas terjadi.

Dan akhirnya apa yang kulakukan? Aku pun mulai mencari kesenangan di luar pengawasan nenek dan dua malaikat itu. Lagi pula kurasa mereka tidaklah mau tahu tentang diriku, dan sama sekali tak mengawasiku. Secara finansial aku tercukupi, lantas untuk apa aku hiraukan pedihnya kenyataan yang terlalu pahit ini.

Memang ku akui saat kecil hingga sekolah menengah pertama, aku diberikan kasih sayang dan didikan yang mumpuni oleh nenek. Aku diajari ilmu agama dan sekolahku pun berbasis agama. Semuanya tentu dengan tujuan agar aku bisa menjadi anak baik-baik. Namun saat tumbuh dewasa dan memasuki usia sekolah menengah atas, aku meminta kepada nenek agar aku dimasukkan ke sekolah favorit yang ada diluar kota. Pada awalnya memang nenek tampak kurang setuju. Tentu hal ini menandakan kasih sayangnya padaku, karena ia takut aku salah arah karena tidak ada yang mengawasiku. Namun, dengan kemampuanku meyakinkan nenek, akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan itu.

Mulai saat itu, aku pun hidup di kota dan mulai beradaptasi dengan karakter anak-anak muda seusiaku, dan mungkin lebih tepatnya, teman-teman sekolahku. Pada awalnya aku masih berpegang teguh kepada pesan nenek agar tetap rajin, ingat agama, dan tidak boleh terpengaruh kepada hal-hal buruk. Namun menjadi seorang gadis dengan tekanan batin sepertiku dan ditambah lagi bujuk rayu lingkungan teman-temanku, aku pun mulai terbiasa dengan gaya yang berbeda. Ya, sangat berbeda dari yang diajarkan oleh nenek.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Dengan adanya sistem  geng disekolahku, aku pun masuk dalam pergaulan yang bisa dikatakan kelas atas. Bahkan saat SMA ini, dua malaikat yang tak kutahu wajahnya itu, memfasilitasi aku sebuah mobil yang bisa kubawa ke sekolah. Keren bukan? Ya, itu pemikiran banyak orang. Mereka tidak tau ada luka dalam yang tersembunyi di relung hatiku.  Banyak dari kalangan atas di kelasku yang kemudian menjadi akrab denganku. Maklum saja, kelas ekonomi dan gaya hidup tampaknya berawal dari finansial yang aku  dan yang mereka miliki.

Hingga akhirnya aku mengenal dunia malam yang 180 derajat berbeda dengan yang diajarkan oleh nenek kepadaku. Namun apalah dayaku yang belum bisa menyaring segala sesuatu yang terjadi kepadaku. Pesan nenek akhirnya tinggal kenangan yang entah kapan bisa kuingat kembali dan ku laksanakan. Sekarang yang ku tahu adalah nikmatnya dunia malam untuk melepaskan belenggu rasa sakit yang ada dalam kehidupan dunia nyataku. Pulang malam sudah menjadi langgananku, bahkan terkadang hingga dini hari dan sampai azan subuh barulah aku mengakhiri malam yang terlalu nikmat bagiku itu.

Hingga akhirnya, rutinitasku pun berubah. Yang terpenting bagiku adalah kapan malam itu tiba supaya aku bisa menikmatinya kembali. Bahkan saat itu pemikiranku, kenapa harus ada siang yang membelengguku. Cahaya siang itu terlalu terik untuk bisa membakar luka yang ada di relung hatiku. Luka itu seakan tampak cerah di siang hari. Maka aku beranggapan, biarkanlah malam menyembunyikannya dan supaya dia tidak terlihat, dia tidak terdengar, dan dia tidak menyakitkan.

Namun kau tau? Akhirnya aku berada pada suatu pilihan. Aku dihempas sebuah kenyataan dan aku tak tau entah peristiwa apa yang kualami ini. Dengarlah ceritaku.

Tidak ada yang berbeda dan nyaris sama dengan malam-malam yang sebelumnya.  Kenapa kusebut malam? Itu semua karena sebagian besar waktuku adalah malam. Di saat orang tidur atau malah menadah tangan, aku sibuk menikmati duniaku. Ya, duniaku mungkin banyak berbeda dari dunia orang-orang diluar sana. Mungkin aku tak tau ini baik atau tidak bagiku. Alunan musik yang keras, hiasan lampu yang remang-remang, minuman yang membuat sempoyongan, tarian yang mengasyikkan itulah keindahan dunia bagiku. Ya, boleh saja orang di luar sana menilai baik buruknya. Namun saat itu, seperti itulah penilaianku akan duniaku yang sangat indah bagiku.

Dengan tubuh sempoyongan aku masuk ke dalam mobil, dan memacunya dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang, karena disitu aku masih waras dan takut menabrak orang. Namun seperti biasanya, macet dan lagi-lagi macet, tiada pilihan lain selain masuk ke sebuah perkampungan. Baru saja sekitar 30 menit melewati kawasan perkampungan, secara mendadak aku harus melakukan pengereman mendadak. Otomatis mataku terbelalak melihat sekumpulan orang sedang menggotong seorang wanita berpakaian mini dan berlumuran darah. Ternyata setelah kulihat lebih pasti, wanita tersebut baru saja menabrak pembatas jalan dan tewas ditempat.

Kadar minuman yang tadinya memabukkanku tampaknya sudah tiada bisa lagi kurasakan. Aku segera turun dari mobil dan memastikan kejadian yang baru saja kulihat. Aku menghampiri mobil wanita itu, dan akhirnya aku menemukan di dalamnya botol-botol minuman yang memabukkan di kursi sebelah jok mengemudinya. Sejenak aku tersandar ke mobil itu, pikiranku kacau. Namun aku tahu, aku harus melanjutkan perjalanan. Segeralah aku berlari ke arah mobil dan masuk ke dalamnya. Aku lanjutkan menyetir mobil dengan sedikit hati-hati dan kembali terbayang dengan kejadian yang baru saja kulihat. “Ya, perempuan yang baru saja tewas itu, tidak ada bedanya dengan diriku, dia meregang nyawa dengan beberapa botol minuman memabukkan yang kemudian menjadi saksi lumuran darah disekujur tubuhnya, dia sekarang menghadap penciptanya dan akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya." Setidaknya aku bisa berpikir seperti itu, karena kembali teringat didikan nenek.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Tak berselang lama, mataku kembali memandang hal yang menyesakkan. Aku melihat tiga orang anak perempuan yang sedang memegang kitab suci Al-Quran yang menandakan mereka baru saja pulang mengaji. “Ya anak-anak itu tidak jauh berbeda dari diriku. Diriku yang dulu dalam asuhan nenek dan diberi didikan ilmu agama." Entah kenapa hatiku berpikir bahwa dulunya aku merasakan nyaman dengan membaca kita suci itu dan sekarang aku harus membawa diri menikmati minuman keras demi menghilanhkan masalah yang sifatnya hanyalah sesaat. Ah, sudahlah, aku tak mau banyak komentar akan hal ini.

Namun, siapa sangka, aku menemukan peristiwa ketiga lainnya. Aku melihat seorang anak kecil yang sedang bersembunyi dari amukan warga. Namun warga tersebut tidak melihat anak itu dan akhirnya mencari ke arah lain. Karena penasaran, akhirnya aku pun turun dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada anak itu. Dengan nada tersedu-sedu sambil menangis, anak tersebut mengatakan bahwa ia baru saja mencuri sepotong roti dari sebuah warung. Celakanya lagi, meski tak tertangkap, bahu kirinya sempat terkena hantaman benda tumpul oleh seorang warga yang pertama kali melihat perbuatannya.

Aku melihat bahwa sepotong roti itu ia bagi dua terlebih dahulu sebelum ia makan. Aku pun menanyakan, untuk siapa potongan roti itu? Ia menjawab untuk adiknya yang sedang kelaparan dirumah. Dengan kondisi yang masih tersedu-sedu, akhirnya akupun tak bisa lagi menahan sedihnya peristiwa yang baru saja kulihat ini, dan akhirnya aku terduduk di tanah dan menangis sesenggukan. Aku tak bisa membayangkan jika hal tersebut terjadi padaku.

Setelah anak itu memakan sepotong rotinya, aku segera bergegas membawanya ke rumah sakit untuk mengobati luka lebam di bahu kirinya. Sepulang dari rumah sakit, aku singgah di sebuah grosir untuk memberikan stok makanan untuk dia dan adiknya yang ada di rumah. Barulah setelah itu, aku mengantarkannya pulang.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Selesai dari imengantarkannya pulang, aku pun segera memacu mobilku dan sungguh aku tak bisa memikirkan apapun. Aku pulang ke apartemenku dan langsung terbaring di tempat tidur. Sungguh tak berapa lama setelah itu, azan subuh pun berkumandang. Bibirku bergetar, kakiku juga demikian. Entah kenapa hatiku tergerak dan segera mengambil air wudu dan melaksanakan ibadah salat shubuh. Dalam sujud terakhirku, sungguh aku menyadari semua kekeliruan yang sudah kuperbuat.

Akhirnya aku pun menyungkur di hadapan-Nya dan menyadari banyak hal.  Tiada lagi yang bisa kulakukan selain itu. Aku terlampau penuh dengan balutan kesesatan. Belenggu luka yang ada dalam hati ini bukanlah alasan untuk lari dari jalur kebaikan yang sudah ada. Sekarang aku sadar, siang dan malam adalah kesempatan bagiku memperbaiki diri setelah banyaknya kesalahan yang kuperbuat. Tidak perduli sebesar apa kesalahanku dimata orang lain, yang aku pentingkan, bagaimana aku bisa kembali kepada Rabb-ku yang telah menentukan takdir terbaik bagiku.

Sesaat setelah selesai berdoa di hadapan-Nya aku pun menghampari balkon rumah dan menantikan bergantinya gelap dengan terangnya sinar fajar. Berdirinya aku saat itu bersama dengan tekadku untuk memilih berubah karena ku yakin bahwa ini adalah pilihan terbaik dalam hidupku. Karena hidup adalah pilihan dan karena pilihan terbaik itu hanyalah kebaikan. Maka inilah aku dengan pilihanku. Kemudian semua kuawali dengan mulai mengenakan pakaian tertutup dan mengenakan hijab dan segera pindah sekolah dan kembali bersama nenek. Aku ingin menghabiskan sisa-sisa kesempatan hidup dengan lingkungan yang bisa membawaku kepada pilihan kebaikan. Dan satu lagi, aku titip salam dengan dua malaikatku, semoga dengan berubahnya aku, Tuhan membalik hati mereka untuk bisa segera memberiku dekapan kasih sayang.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Panduan Beri Essential Oil Kepada Anak Untuk Pemula