1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Sebagai Wanita, Jadi Buruh Pabrik Bukan Inginku Tapi Kujalani demi Keluarga

Selasa, 13 Maret 2018 14:30 Penulis: Tuti Yulistiawati - Bekasi
Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Vemale.com - Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

Apa yang kamu pikirkan tentang buruh pabrik? Tentu saja jawabannya tergantung siapa yang menjawab. Bisa jadi para pengusaha akan mengatakan buruh itu identik dengan sekelompok perusuh yang suka melakukan aksi demonstrasi. Sedangkan bagi para politisi, buruh adalah sekelompok massa yang bisa membawa mereka untuk memperoleh suara setiap kali Pemilu tiba.

Dari tahun ke tahun, profesi buruh mengalami transformasi. Ada kemajuan yang bisa terlihat secara kasat mata. Pada tahun 1998, saat saya baru lulus SMA, menjadi buruh pabrik sama sekali tidak terbayang akan menjadi pekerjaan karena dinilai tidak bonafide. Akan tetapi sepertinya sekarang paradigma itu berubah. Buruh pabrik menjadi salah satu profesi primadona bagi lulusan SMK yang tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jamak kita temui, lulusan SMK dengan mengenakan pakaian hitam putih berbondong-bondong mendatangi pabrik dengan membawa surat lamaran pekerjaan. Mereka menyimpan harapan besar bahwa masa depannya bisa terajut di pabrik tersebut.

Apakah perubahan tren ini dikarenakan biaya pendidikan di perguruan tinggi semakin tidak terjangkau, sehingga lulusan SMK memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikannya? Atau karena menjadi buruh pabrik saat ini menjadi pekerjaan yang menjanjikan untuk masa depan? Pertanyaan itu akan menjadi sebuah cerita yang menarik ketika saya menanyakan kepada sahabat buruh saya.

Menghadapi kenyataan pahit./Copyright pixabay.com

Namanya Ika. Dia adalah buruh perempuan yang sudah mengabdi untuk perusahaannya selama 15 tahun. Ika tidak pernah bercita-cita menjadi buruh pabrik. Ia pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah agar masa depannya bisa seterang mentari dan setinggi bintang di langit. Cita-cita tak selamanya menjadi nyata ketika nasib dan takdir berkata lain. Saat Ika lulus SMU, ibunya yang bekerja di sebuah restoran mengalami PHK. Tak berhenti sampai di situ. Ayahnya terkena diabetes. Penyakit ini sukses memaksa beliau untuk berhenti bekerja sebagai sopir bus antar provinsi. Keluarganya goyah. Tanpa penghasilan sama sekali.

Ika yang sudah menyusun impiannya untuk bisa duduk di bangku kuliah harus menerima kenyataan bahwa semua itu tidak dapat terwujud. Faktanya, sehari-hari ia harus melanjutkan hidup bersama kedua orangtuanya yang tidak bekerja. Dua orang adiknya masih bersekolah. Tentu membutuhkan biaya.

Sebagai anak sulung, siap atau tidak siap, Ika harus melanjutkan estafet perjuangan keluarga sebagai pencari nafkah. Dia harus melakukan sesuatu. Dia harus bekerja agar keluarganya tidak kelaparan. Agar adik-adiknya tidak putus sekolah. Maka sang takdir pun membawanya sebagai buruh perempuan di pabrik komponen otomotif di daerah Cikarang.

Tak banyak buruh perempuan yang bekerja di pabrik otomotif. Sebagai minoritas, rasanya terlalu sulit untuk mendapatkan kepercayaan guna membuktikan bahwa buruh perempuan pun mampu berkompetisi dalam hal melakukan pekerjaan-pekerjaan yang selalu menjadi dominasi buruh laki-laki. Misalnya bertanggung jawab terhadap mesin, melakukan setting mesin, maintenance dan lain-lain. Tugas yang diberikan kepada buruh perempuan tidak akan jauh dari perakitan, pemeriksaan, dan input data.

Bekerja dengan baik meski berat./Copyright pixabay.com

Untuk jenjang karier pun buruh perempuan tidak bisa banyak berharap. Secara kuota tentu saja akan kalah, bahkan untuk mendapatkan kesempatan berkompetisi pun sulit. Hanya karena “perempuan”, seseorang selalu menjadi alasan klasik untuk membenarkan “pengucilan” terhadap kebebasan pengembangan diri untuk berprestasi.

Dari rumahnya yang terletak di Bekasi Barat, Ika harus menempuh waktu perjalanan selama dua jam agar bisa sampai ke pabriknya yang ada di Cikarang. Saat matahari baru muncul di ufuk timur, Ika sudah ada di jalan. Ia kembali ke rumah saat malam tiba. Hari demi hari terus dia jalani. Lelah dirasakannya tanpa mengeluh, karena ia sadar itu adalah tanggung jawabnya. Kehidupan keluarga yang tergantung kepadanya mengalahkan rasa lelah yang sering mendera dirinya. Di dapur harus tetap ada makanan. Kedua adiknya harus tetap bersekolah. Obat harus terbeli untuk bapaknya.

Karena hasil kerja Ika yang baik, perusahaan menawarkan promosi untuk naik menjadi staf office. Ia pun menerima tawaran tersebut karena dia ingin kariernya bisa berkembang dan bisa memberikan kontribusi yang lebih maksimal untuk perusahaan. Promosi itu membuat dia harus beradaptasi dengan banyak hal baru, dari kondisi line produksi yang panas menjadi kondisi ruangan kerja yang full AC. Dari megang mesin menjadi megang komputer. Inilah bagian yang tersulit. Dengan kemampuan nol tentang komputer, Ika harus berupaya keras mempelajarinya. Tapi ini menjadi tantangan baru buatnya. Ia merasa harus kembali membuktikan bahwa buruh perempuan mampu berkompetisi.

Ika hanya seorang buruh perempuan yang juga ingin taraf hidupnya meningkat. Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, dia menaiki tangga masa depan. Pergi pagi pulang malam untuk keluarganya. Banyak hal yang dia korbankan untuk keluarganya. Saat baru dua tahun bekerja, dia dilamar pacarnya. Namun saat itu bukanlah waktu yang tepat bagi Ika. Adiknya baru masuk SMA. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Rumah mereka juga harus segera dilunasi. Maka dengan berat hati Ika menolak lamaran itu. Namun justru mengakibatkan hubungan mereka harus putus. Tak berselang lama mantan pacarnya itu menikah dengan perempuan lain.

Ujian hidup harus bisa dilewati./Copyright pixabay.com

Setelah satu tahun menjadi staf di office, ia ingin meningkatkan kemampuan intelektualnya. Ia mendaftar ke perguruan tinggi yang membuka kelas karyawan. Namun baru satu semester ia menikmati bangku kuliah, kembali ia harus berkorban untuk keluarga. Adik pertamanya lulus SMA dan berkeinginan untuk melanjutkan ke universitas. Dengan gaji sebagai buruh pabrik yang menanggung kedua orang tua dan dua adik, tidak mungkin bisa membiayai kuliah dua orang. Harus ada yang mengalah. Dan kembali, ia memutuskan untuk mengalah. Biarlah mimpinya yang hilang. Toh, jika adiknya sukses nanti, ia pun akan merasa bangga dan bahagia.

Sang adik diterima kuliah di sebuah universitas negeri di Jakarta, jurusan akuntansi. Ika semakin bersemangat dalam bekerja. Semangat untuk lembur demi mendapatkan tambahan penghasilan. Apapun akan dia lakukan agar bisa membiayai kuliah adiknya sampai lulus. Dan terbukti perjuangannya selama lima tahun tidak sia-sia. Adiknya bisa lulus S1 dengan IPK cumlaude.

Kehidupan sebagai tulang punggung keluarga bukan sesuatu yang mudah. Ika juga manusia biasa yang mempunyai keterbatasan fisik dan mental. Waktu yang dia punya hanyalah untuk bekerja. Harta yang dia punya hanyalah keluarga. Bekerja pagi hingga malam. Lelah yang tidak dirasa tiba-tiba terakumulasi menjadi kondisi kesehatan yang memburuk. Ia harus menerima kenyataan pahit menderita TB (tuberculosis). TB yang diderita menyerang otak. Jika TB menyerang paru-paru maka penyembuhan relatif cepat. Namun TB yang menyerang otak lebih sulit untuk diobati.

Berjuang untuk hidup lebih baik./Copyright pixabay.com

Selama dua tahun, Ika berjuang melawan penyakitnya. Keluar masuk rumah sakit. Setiap hari dia merasa tersiksa dengan harus mengonsumsi obat yang puluhan jumlahnya. Harga obatnya mahal. Untuk seorang buruh, tentu saja itu sangat berat. Namun bukan Ika namanya jika tidak mampu melewati ujian hidup. Ika mampu bertahan dan sembuh dari penyakitnya. Ika tidak sudi dikalahkan oleh penyakit. Dia tidak mau langkah hidupnya terhenti oleh penyakit. Setelah sembuh dia tetap bekerja dengan giat. Prestasinya di kantor membuat dia sekarang dipercaya menjadi staf bagian kualitas yang mengurusi dan mengontrol kualitas produk perusahaan.

Meski sekarang dia sudah menikah, namun tongkat estafet pencari nafkah masih belum dilepasnya. Dia tetap harus memastikan biaya hidup untuk kedua orangtuanya tercukupi. Adiknya yang bungsu pun harus bisa melanjutkan pendidikan sampai universitas. Cukup dia saja yang tidak bisa merasakan pendidikan di universitas. Adik-adiknya harus bisa.

Sebagai buruh perempuan, dia belajar bahwa solidaritas itu tanpa batas. Nasib itu harus diperjuangkan. Jika untuk sesama buruh itu harus berlaku, apalagi untuk keluarga sendiri. Perjuangan hidup tidak akan pernah berakhir. Ia akan terus berjuang, bahkan, kalaupun harus di luar batas kemampuannya. Baginya, emansipasi bagi perempuan itu adalah perjuangan dan pengorbanan untuk orang-orang yang dicintai.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
9 Racun Berbahaya yang Berasal Dari Dapur