1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Salahkah Aku yang Mencintai Papa Tiriku?

Kamis, 22 Februari 2018 17:00 Penulis: Permana Bella - Bogor
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Vemale.com - Kisah Sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Bukan Cinta Biasa ini menghadirkan makna lain dari arti cinta sejati. Cinta yang tanpa syarat, cinta yang begitu indah.

***

Bukan dan tidak. Ini bukanlah kisah cinta romansa kanak kanak dengan seseorang yang jauh lebih dewasa. Pun bukan cinta yang terselubung dalam nafsu belaka. Ini tentang kasih yang tulus dan sebenar benarnya.

Mereka bilang papa hanya sayang pada mama, perhatiannya selama ini hanyalah kedok semata. Mereka bilang Papa hanya senang melihat rumahnya ramai, bukan berarti sayang kepada kami. Mereka bilang aneh, berlebihan dan tidak wajar ketika aku upload fotoku yang sedang dipeluk papa.

Mirisnya, ada yang mengira bahwa aku dan papa punya hubungan terselubung lebih dari sekadar papa dan anak. Bagi mereka yang berpikir sempit, mungkin hal itu wajar, mengingat umurku yang sudah menginjak 20 tahun dan sudah cocok dipasang-pasangkan dengan yang lebih dewasa.

Memiliki papa tiri./Copyright pixabay.com

Ya, dia lah papaku. Lebih tepatnya, papa tiriku. Sosok lelaki berkulit hitam, berkepala nyaris plontos dan hobi memelihara bebek. Laki-laki yang kami sayangi, kami hormati dan mengesampingkan embel-embel “tiri”.

Kami, ialah mama dan dua adikku. Empat orang manusia yang sudah sebelas tahun merindu sosok ayah, yang lebih dulu berpulang ke pelukan Tuhan. Berdamai dengan rasa kehilangan bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi, peran mama sebagai single parent yang mati-matian membesarkan kami dan merawat kami sampai sekarang.

Awalnya, aku sangat tidak setuju mama menikah lagi karena belum sepenuhnya move on dari rasa kehilangan terhadap ayah. Dan aku berjanji bahwa aku mampu menafkahi dan membantu merawat adik-adik entah sampai kapan pun itu. Semakin bertambahnya umur, semakin terbuka pola pikirku.

Mama kelak akan menua dan tak lagi sanggup menafkahi kami. Mama kelak akan beruban dan butuh teman di sisa hidupnya. Suatu saat nanti aku dan adik-adik pun akan berkeluarga yang menyebabkan kapasitas dan prioritas kami bukan hanya untuk mama tapi juga untuk keluarga.

Sejak itu selalu kuselipkan doa di setiap salatku agar kami diberi kesempatan untuk kembali punya sosok seorang Ayah. Yang merawat kami, yang menyayangi kami dan yang bisa mengayomi kami.

Doaku dikabulkan./Copyright pixabay.com

Pertengahan tahun kemarin, Tuhan kabulkan semua doa dalam sujudku. Tuhan pertemukan ibuku dengan jodohnya. Sosok yang lebih dari apa yang aku doakan, yang lebih dari yang kami harapkan. Kami memanggilnya papa.

Aku takkan pernah lupa akan ayah, dan takkan ada yang bisa menggantikannya. Tapi papa tetaplah papa yang kami sayangi, kami hormati lebih dari selayaknya. Perhatiannya, kehangatannya, lelucon recehnya yang selalu berhasil menghangatkan hati yang sekian lama beku. Mengobati luka karena rindu ditinggal ayah.

Kami sayang papa. Kami khawatir jika beliau pulang larut malam. Kami khawatir jika kesehatannya sudah mulai terganggu. Dan kami selalu merindu jika sudah seminggu tak bertemu. Papa hadir dan berhasil mengubah semuanya, terutama untuk adik kecilku, Sheila. Yang tumbuh tanpa peran ayah, dan kini menemukan sosok ayah yang sebenarnya.

Ada keceriaan lain di wajahnya, ketika tubuhnya yang tak lagi kecil digendong oleh papa. Ada kebahagiaan yang tak dapat tergambarkan ketika pipinya dikecup oleh bibir hitam papa.  

Papa, terima kasih atas segala kasih sayangmu yang begitu tulus. Terima kasih atas segala kecup hangat di kening ini yang terkadang terasa sedikit geli karena kumis. Terima kasih untuk selalu menganggap kami lebih dari sekadar anak tiri. Kami menyayangimu tulus dari hati yang terdalam.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Melewati Batas, Meraih Mimpi - Jonathan Cristie