1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Kehidupan Kantor Bikin Hidupku Berantakan, Kini Mulai dari Nol demi Ayah

Jum'at, 26 Januari 2018 14:30 Penulis: Oleh : Dina M. - Cinere
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Vemale.com - Apa resolusimu tahun ini? Apakah seperti resolusi sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba New Year New Me ini?

***

Sejak dua tahun lalu, saya tidak punya pekerjaan tetap. Sejak keluar dari kantor yang telah mengangkat nama saya, lalu menjatuhkannya lagi selama lima tahun saya bekerja di sana, saya luntang-lantung dan serabutan bekerja sedapat yang saya bisa. Padahal saya punya banyak sekali hutang, akibat kelalaian saya juga. Ya, saya mengira saya akan terus bekerja. Meskipun gaji saya sebenarnya tidak banyak, namun gaya hidup dan lingkungan pertemanan kantor membuat saya, walaupun tidak dipaksa, merasa harus meng-upgrade diri saya, terutama fisik. Padahal, itu semua adalah duit hutang. Maka, ketika di tengah jalan saya dijegal oleh sesama rekan kerja sendiri dan saya tidak tahan, saya memutuskan untuk keluar. Padahal pula, saya belum mendapatkan pekerjaan baru.

Lalu, saya kembali pada pekerjaan freelance yang pernah saya tekuni sewaktu baru lulus kuliah. Sebenarnya, saya pernah lama bekerja sebagai freelancer, dan waktu itu penghasilan saya tidak kalah besarnya dengan penghasilan orang kantoran. Namun setelah lulus kuliah S2 dari luar negeri, saya merasa bekerja kantoran akan lebih cocok untuk orang yang sudah punya ijazah dari luar negeri. Dan lama-kelamaan, saya merasa nyaman dengan kehidupan yang stabil seperti ini: pekerjaan tetap dan gaji tetap. Namun, yah itu tadi. Saya terlalu baper alias dibawa perasaan, sehingga keputusan yang saya ambil di tengah jalan untuk keluar dari kantor terakhir, membuat saya ‘terpaksa’ kembali jadi freelancer dari nol.

Kembali jadi freelancer./Copyright pexels.com

Ya, dari nol, karena kenalan-kenalan yang dulu pernah memberikan pekerjaan freelanceke saya belum tentu masih di agensi atau perusahaan yang sama. Ditambah lagi, pada pertengahan tahun 2017, keluarga saya tertimpa musibah, ayah saya sakit terserang stroke untuk yang kedua kalinya. Padahal, keadaan tidak seperti dulu.

Dahulu, mendiang ibu juga pernah terkena stroke selama beberapa tahun lamanya. Namun, saat itu ayah masih sehat, kuat, masih berpenghasilan, walaupun ayah sendiri juga bukan seorang pekerja tetap. Tetapi dulu ayah pernah menjadi direktur untuk perusahaan yang didirikannya sendiri. Sementara, sejak ayah terkena stroke, satu-satunya anggota keluarga yang masih berpenghasilan tetap adalah kakak laki-laki saya. Padahal, dia sudah berkeluarga dan punya tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Tentunya, saya dan ayah saya suatu hari nanti tidak bisa bergantung sepenuhnya lagi pada kakak. Walaupun, kakak pernah bilang saya tidak usah bekerja dulu (sewaktu ayah belum sakit saya hampir mendapatkan pekerjaan kantoran), tetapi bekerja dari rumah saja sambil merawat ayah, biar kakak yang akan membantu kami dari segi keuangan.

Bekerja dari rumah./Copyright pexels.com

Bulan-bulan pertama merupakan masa-masa yang secara finansial sulit bagi kami. Apalagi saya baru memulai kembali secara fulltime menjadi pekerja freelancer, yang sebelumnya saya jalani setengah-setengah saja disambi dengan pekerjaan serabutan dari satu kantor ke kantor lain sebagai temporary officer.Orderan bisa dikatakan satu dua saja, dan itu berkat kawan baik saya yang saya kenal sejak kuliah. Padahal, saya masih punya banyak hutang. Tapi hal itu tidak saya beritahukan kepada satupun keluarga di rumah maupun teman-teman, karena saya tidak ingin mereka menanggung beban yang sudah berat. Yang terpenting, kebutuhan ayah akan obat-obatan dan makanan tercukupi. Banyak yang mengatakan, badan saya sampai kurus sekali. Ah, saya sudah tidak pedulikan itu. Yang penting bagi saya, saya tetap sehat dan kuat merawat ayah.

Hingga dua tiga bulan kemudian, sambil getol mencari peluang menulis dan menerjemahkan sana-sini yang memungkinkan saya untuk tetap mengerjakannya dari rumah, syukur alhamdulillah tawaran-tawaran mulai sedikit demi sedikit datang. Jika semasa luntang-lantung pekerjaan serabutan yang saya lakukan mengharuskan saya untuk keluar rumah, seperti menghadiri event lalu menuliskan reportase, dengan keadaan ayah saya sekarang, saya tidak mungkin bisa keluar-keluar rumah dulu. Maka yang saya lakukan adalah mencari peluang-peluang tersebut, dan ya, mungkin Allah melihat perjuangan saya ini, sehingga hutang-hutang mulai bisa saya cicil sedikit demi sedikit.

Ada masa-masa sulit./Copyright pexels.com

Sampai pada suatu hari di bulan Agustus, ada sebuah panggilan tes dari sebuah instansi pemerintah yang sudah nyaris saya lupakan. Dulu sekali, sewaktu masih bekerja serabutan berstatus temporer, saya pernah mengirimkan lamaran ke institusi tersebut. Namun, sejak ayah sakit, saya sudah tidak terlalu mempedulikannya lagi. Bagi saya, yang penting ayah saya rawat dengan baik. Terlebih lagi, kejadian dengan keluarga ibu tiri membuat kami tak bisa lagi mempercayakan sepenuhnya perawatan ayah saya ke mereka.

Akan tetapi, ketika ayah mengetahui bahwa saya dipanggil untuk mengikuti tes oleh instansi tersebut, ayah saya malah meminta saya untuk ikut. Saya tahu, dari dulu ayah saya memang ingin sekali saya bekerja sebagai PNS di instansi itu, namun saya selalu mengabaikannya. Saya pikir, menjadi PNS bukan panggilan jiwa saya. Namun seiring usia berjalan dan merasakan suka-dukanya selama menjadi pegawai kantoran atau pun bekerja serabutan, sebagai perempuan berusia kepala tiga saya merasakan bahwa saya memang membutuhkan pekerjaan tetap yang stabil. Selain baik untuk perekonomian pribadi, bagus juga untuk kesehatan. Yah, saya sadar energi yang saya punya tidaklah seperti masa muda dulu. Dan sebagai wanita pasti ingin sebuah kepastian di masa tua, seperti uang pensiun, misalnya. Sayangnya, usia saya sudah lewat untuk menjadi PNS. Makanya, ketika saya melamar pekerjaan ke instansi tersebut, saya sudah tidak mengharapkan apa-apa.

Terus berjuang./Copyright pexels.com

Namun, karena ayah terus mendorong dan menyemangati saya, saya mengikuti tes tersebut sampai tahap akhir menjelang akhir tahun 2017. Dan alhamdulillah, saya lolos. Meskipun bukan untuk menjadi PNS, tapi setidaknya saya akan menjadi sebuah pegawai tetap non PNS di sebuah konsulat di luar negeri. Ini merupakan mimpi saya sejak lama, yaitu tinggal dan berkarir di luar negeri. Namun, saya sesaat berpikir, mengapa mimpi ini justru terkabul saat kondisi keluarga tidak kondusif? Apakah rahasia nasib di tangan Allah yang hendak diperlihatkan kepada kami, dan tentunya, kepada saya?

Kini, sudah minggu keempat menjelang di bulan Januari 2018. Saya akan mengikuti diklat tahap kedua yang diselenggarakan instansi tersebut, sebelum nantinya diberangkatkan ke luar negeri. Dari awal, ayah selalu mendorong dan menyemangati saya. Bahkan saat saya bimbang untuk memilih antara tetap di tanah air (yang berarti menolak tawaran yang telah diloloskan ke saya), atau terus mengikuti tahapan seleksi hingga dinyatakan lolos dan mengikuti diklat, beliau malahan pernah berkata, “Kamu ingin hidupmu begini-begini terus? Kamu mau di sini-sini aja?” Saya pun tidak bisa berucap apa-apa lagi selain ingin membuat ayah saya bangga dan bahagia dengan pilihan yang saya ambil.

Ayah jadi penyemangat./Copyright pexels.com

Saya tahu, hingga detik ini saya masih mendapatkan banyak tantangan sambil tetap mengurus ayah saya. Perjalanan hingga menuju puncak belum lah terwujud sepenuhnya karena tantangan-tantangan itu, seperti melunasi sepenuhnya hutang-hutang saya, mengurus dokumen dan finansial keberangkatan yang semuanya harus saya urus sendiri, belum lagi urusan ‘dalam negeri’ dengan keluarga. Namun, saya rasa, mungkin itulah bagian dari perjalanan yang mengawali kehidupan saya di tahun 2018. Entah perjalanan seperti apa yang akan saya arungi nanti di sepanjang tahun yang baru.

Saya hanya ingin berbuat yang terbaik untuk ayah saya, untuk kehidupan finansial saya, untuk karier saya, dan… lebih mendekatkan diri saya kepada Allah yang telah memberikan dan mengajarkan saya menjadi lebih sabar dan teguh dalam melalui berbagai rintangan hidup ini. Mungkin Allah ingin saya memetik hikmah dari semua kejadian ini. Entah rahasia hidup seperti apa lagi yang akan saya hadapi beberapa bulan ke depan, namun saya percaya bahwa yang Allah berikan kepada saya itu yang terbaik. Terima kasih dan kuatkanlah aku, ya Allah.

(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA
Ramadan Datang, Ketahui 9 Waktu Mustajab Untuk Berdoa