KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Di Saat Kita Sibuk Tumbuh Dewasa, Ingatkah Bahwa Ibu Kita Pun Mulai Menua?

Kamis, 07 Desember 2017 19:30 Penulis: Octarina - Palembang
Ibu yang mulai menua./Copyright pixabay.com

Vemale.com - Kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Surat untuk Ibu ini kembali mengingatkan kita bahwa seiring berlalunya waktu, ibu kita pun akan terus menua. Lalu, sudahkah kita cukup berbakti padanya?

***

Sesosok wanita tua berjalan pelan, tertatih-tatih langkahnya hingga mencapai pintu kamar. Mengetuk dahulu agar tak mengganggu. Dirasa tak ada jawaban, dia memasuki ruanganm membangunkan sosok lain yang terlelap yang dituntut untuk mencari nafkah keluarga. Tugas itu tak tersirat, hanya sebuah naluri. Menggamit halus lalu mengusap kepalanya, dia berkata, “Bangun, Nak.”

Si anak yang tertidur pulas menggeram halus, enggan untuk terjaga. “Iya, Bu. Sebentar lagi," jawab si anak diiringi nada malas dan kantuk yang luar biasa mendera. Wanita tua itu, sang ibu, mendesah tanpa merasa lelah. Hanya tak ingin anaknya terlambat bekerja. Senyum itu tak luntur, maklum dengan keletihan yang dirasa. Kemudian meninggalkan kamar, berharap si anak tak berlama-lama.

Sarapan di atas meja, tersaji apik dengan lauk bergizi. Anak yang telah selesai bersiap, mendatangi ruangan dan mulai bersantap. “Ini enak, Bu.” Hanya sebuah pujian singkat, namun senyum sang ibu terkembang. Wanita itu tak berharap emas permata. Ia hanya ingin sang anak makan dengan lahap, kuat untuk memulai hari, hanya itu. Sebuah kotak bekal dimasukkan ke dalam tas, dibawa ke tempat kerja tanpa protes. “Terima kasih, Bu. Aku berjanji akan menghabiskannya.” Lagi-lagi senyum itu menarik sebentuk bulan sabit yang indah.

Kasih ibu sepanjang masa./Copyright pixabay.com

Sepanjang hari si wanita tua membereskan rumah. Menyapu, mengepel lantai, memasak makan malam, dan membereskan barang. Lelah tubuh menjalar sebagai pertanda untuk beristirahat sejenak, sembari menunggu sang anak pulang bekerja. Resah hati jika terlambat, namun riang kembali jika sang anak telah berucap salam dan memenuhi pandangan. Pun berharap agar anaknya merasa nyaman ketika pulang, menikmati rumah yang rapi dan enak dipandang.

“Aku pulang, Bu.” Sahutan yang ditunggu-tunggu, dan wanita itu menyambut kedatangan si anak di penghujung pintu. Tampak letih, namun pelukan dari sang ibu tentulah menyirnakan kelesuan yang melanda. Dengan wajah bahagia, si wanita meminta sang anak untuk berganti pakaian dan beristirahat. Piring-piring berisi lauk telah tersaji, siap menghilangkan kepenatan.

Sepanjang kelam dilalui kebersamaan, rangkulan mesra dan obrolan santai. Makan malam sebagai pelengkap, dan si anak kembali berucap syukur. “Terima kasih atas makan malam yang nikmat ini, Bu.” Betapa sang ibu selalu berbahagia, ketika keringat itu terbayar sudah, ketika apa yang dia lakukan dihargai.

Apalah artinya diri ini, jika engkau tak memperjuangkan janin yang kau kandung sembilan bulan lamanya. Kau yang menahan peluh, kau yang bersakit-sakitan, menahan beban dengan kaki yang bengkak. Kau torehkan kasih sayang, elusan sayang, puji-pujian Tuhan, dan impian-impian. Semua yang dapat kau beri, kau bagi dalam keikhlasan. Demi seonggok janin yang bersemayam di rahim.

Persalinan adalah pertaruhan, antara nyawa yang kau miliki dan yang akan kau lahirkan. Ribuan pedang menghunus tak lagi sebanding dengan perih yang kau rasa. Kau bangun kekuatan dan ketulusan, kau perjuangkan jiwa demi membawa janin itu ke dunia fana. Ketika semua penderitaanmu berakhir, hanya senyum yang kau ukir, menyambut aku yang kau tunggu, harapan yang ingin kau banggakan kelak.

Bulan ke bulan berlalu, kau tak mengeluh. Kubangunkan engkau dari lelapmu, dengan egois inginku menyasau. Kau habiskan waktu siangmu untuk menjaga dan merawatku, menumpahkan kasih sayang. Kau mandikan aku dengan lembut, memakaikan pakaian-pakaian indah. Kau lakukan semua itu, tulus dari hati.

Tahun ke tahun bertambah, tak pula kau ingin mengeluhkan tingkah dan perilaku yang aku tunjukkan. Kenakalanku kau tanggapi dengan senyum tegas, kepintaranku kau puji dengan sayang. Menu seimbang, kau atur sedemikian rupa agar giziku tercukupi. Tak lagi kau mandikan aku, hanya menyuruhku dengan nada lembut. Kau perhatikan pembelajaranku, kau bantu kesulitan yang kuhadapi, kau temani aku di kala sedih oleh kejadian buruk, kau berbahagia ketika aku tersenyum dan menemukan hal-hal tak terduga.

Aku yang beranjak dewasa, ibu pun mulai menua./Copyright pixabay.com

Aku yang beranjak dewasa, kau pun mulai menua. Rambut yang hitam legam telah dihiasi helaian-helaian putih. Tenagamu tak sebanyak dahulu, berjalan pun kau lakukan dengan hati-hati, mata yang awas telah tertutupi oleh kacamata. Usiamu tak lagi muda, tetap kau rawat aku tanpa pamrih, menyiapkan apa yang aku butuh, selagi aku pergi mencari nafkah.

Usiaku bertambah, tiga, empat, lima kepala. Kau pun makin renta, tak lagi sanggup berpayah-payah. Kerja yang tadinya kau anggap biasa terasa sulit dan melelahkan. Aku yang makin sibuk oleh keluarga baru, istri dan anak-anakku, kadang sampai melupakan keberadaanmu. Tapi tak sekali pun kau keluhkan kelakuanku. Di balik semua gumammu, doa-doa terselip untuk kesejahteraan keluarga yang kubangun. Kau tetap menatapku bangga, karena impian yang kau tanamkan telah tercapai. Membesarkan, menyekolahkan, dan menikahkan. Kau lakukan semua itu tanpa tedeng aling-aling, penuh kasih, berharap aku berpenghidupan yang layak.

Ibu, maafkan anakmu yang belum mampu membalas kebaikan yang kau tuai. Maafkan aku yang belum mampu menyejahterakan engkau sebaik yang kau lakukan. Aku yang hanya bisa berbuat sebisanya, memberikan sekadarnya, tentulah belum cukup jika ingin berbanding dengan apa-apa yang telah kau lakukan.

Namun ketahuilah, Bu. Kasihmu yang tak mampu terbalas adalah hal terbaik yang mengisi hidupku. Takkan pernah kupungkiri akan keberadaanmu, kan kulindungi engkau sebagaimana yang kau lakukan kala aku dalam buaian, kan kuturuti wejanganmu tanpa bertanya ini dan itu. Cinta darimu akan selalu bersemayam di relung kalbu, menyejukkan hati, menenteramkan jiwa. Hanya terima kasih yang dapat tertutur, terima kasih tak terbatas atas kasih sayangmu yang tak bertepi.

***

Hai ladies dan moms yang ada di Kota Malang, yuk kita ketemuan dan seru-seruan merayakan Hari Ibu!

Kamu bisa ajak ibumu main games dan makan siang bareng. Semuanya GRATIS! Terus bisa ikut seru-seruan bareng juga dengan 50 Vemalist lainnya dan ibu mereka.

Seperti apa syaratnya? Yuk cek di halaman ini.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA