KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Kata-Kata Ini Seharusnya Kuungkapkan Saat Ayah Masih Hidup

Selasa, 14 November 2017 14:30 Penulis: Intan Permata Sari - Bengkulu
Penyesalan selalu datang terlambat./Copyright shutterstock.com

Vemale.com - Kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Ayah Aku Rindu ini menggambarkan sebentuk penyesalan. Meski begitu, cinta pertama itu tak akan pernah tergantikan.

***

Untuk cinta pertamaku, ayah.

Ayah, aku mencintaimu.

Andai dulu aku bisa mengatakannya dengan mudah padamu, mungkin aku tak akan merasa sesakit ini. Bukan karena tak bisa  mengejanya dengan benar, bukan pula aku bisu. Aku hanya tak mampu  mengucapnya di hadapanmu. Aku sekeras batu, juga sedingin es. Andai dulu aku bisa mengatakannya dengan mudah padamu, aku tak akan merasa semenyesal ini. Dari begitu banyak kata yang telah keluar dari mulutku selama lebih dari 20 tahun, kalimat itu bahkan tak pernah kusampaikan padamu. Atau mungkin pernah, dulu sekali, ketika aku masih sangat dekat denganmu, sampai akhirnya sekarang aku lupa.

Ayah, maaf.

Maaf karena tidak membuatmu bahagia. Maaf karena aku tak bisa menjadi anak yang baik untukmu. Maaf karena telah membuatmu kecewa. Maaf karena tak pernah ada untukmu. Maaf atas sirnanya kedekatan kita seiring bertambahnya usiaku. Maaf atas ketidakpedulianku padamu. Ayah, aku minta maaf karena baru menyadari betapa pentingnya hadirmu dalam hidupku, baru menyadari betapa aku mencintaimu segenap hatiku. Setelah kau pergi, kini aku menyesal.

Ayah, aku rindu.

Aku merindukan senyumanmu, tawamu, bahkan aku rindu amarahmu. Batu keras itu telah hancur, es telah mencair, kini aku rapuh. Aku rapuh karena rasa sakit dan penyesalan yang tiba ketika kau pergi. Lebih dari itu, aku rapuh karena merindu. Rindu yang tak berbatas, rindu yang tak berakhir, rindu yang tak akan bisa hilang. Sebuah rindu akan kehadiranmu.

Ayah, aku rindu./Copyright pixabay.com

Ayah, aku mencintaimu.

Aku tahu. Sebanyak apapun aku mengatakan kalimat itu kini, aku telah terlambat. Aku berharap, dulu ketika kau ada di dekatku, kau tahu bahwa aku mencintaimu bahkan ketika aku sendiri tidak tahu. Aku berharap, dulu ketika kau masih bersamaku, kau tahu bahwa aku semenjak dulu rapuh dan akan sangat merindu kehadiranmu ketika kau pergi. Kini aku hanya bisa berharap, kau tak pernah menyesali kehadiranku dalam hidupmu.

Ayah, terima kasih.

Terima kasih atas kasih sayang, cinta, dan ketulusan yang kau beri padaku. Terima kasih karena tak pernah meminta balas dariku. Terima kasih atas kerja kerasmu. Terima kasih karena selalu membanggakanku. Terima kasih karena percaya padaku. Terima kasih karena telah bertahan lebih lama bersamaku meski sakit yang kau derita amat menyiksamu. Terima kasih telah menjadi ayah yang sangat kurindukan.

Aku mencintai ayah.
Aku rindu ayah.
Cinta pertamaku.
Semoga engkau tenang di sisi-Nya.



(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA