KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Tak Suka Dandan dan Sering Pakai Baju Lungsuran, Aku Bahagia dengan Caraku

Selasa, 12 September 2017 14:30 Penulis: Anna Marie Happy - Wonosobo
Bahagia dengan caraku./Copyright pixabay.com

Vemale.com - Pernah merasa rendah diri karena pakai baju lungsuran dan nggak ngikuti tren fashion terkini? Kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba My Body My Pride ini akan membuatmu sadar bahwa ada banyak cara untuk percaya diri dan merasa cantik.

***


Saya terlahir dari orang tua berbeda generasi jauh dari saya. Ayah menikah ketika berusia 51 tahun dan Ibu menikah di usianya yang sudah 37 tahun. Sempat mengalami keguguran, harapan ayah dan ibu untuk memiliki anak di usia yang sudah tidak muda lagi tercapai dengan lahirnya saya. Tiga tahun kemudian, lahirlah adik perempuan saya.

Semasa kecil, hidup saya berkecukupan. Saya bisa menikmati makanan enak. Ibu juga sering membelikan kami pakaian. Namun, semua berubah ketika ayah menderita serangan jantung dan harus menjalani perawatan medis.

Otomatis kehidupan keluarga saya berubah. Penghasilan ayah sebagai distributor kue kering habis untuk biaya pengobatan. Belum lagi biaya sekolah yang cukup mahal karena saya dan adik bersekolah di sekolah swasta. Ibu masih mengusahakan kami bisa mengonsumsi daging untuk pertumbuhan kami. Namun, ibu tidak bisa sering membelikan kami pakaian lagi.

Beruntung, ada saudara-saudara yang memberi kami pakaian lungsuran. Walaupun ukurannya kadang kedodoran atau modelnya yang tidak up to date, mau tidak mau kami mengenakan pakaian itu. Ibu selalu bilang, “Jangan melihat ke atas terus, lihatlah ke bawah,” atau “Jangan meniru gaya hidup orang kaya. Kita ini orang nggak punya.”
Keadaan itu saya jalani hingga SMA. Selain mengenakan baju lungsuran, saya juga sering dicap anak kecil karena memakai busana anak kecil. Maklum saja, tubuh saya mungil sehingga pakaian anak-anak pun muat.

Ada seorang teman saya dari keluarga mampu sering menghina penampilan saya. Katanya, saya jadul, pakaian seperti anak kecil. Hal itu membuat saya sedih. Tetapi, saat saya meminta pakaian baru kepada ibu, ibu justru bilang kalau tidak ada uang dan seharusnya saya bersyukur masih punya pakaian.

Lulus SMA, saya beruntung masih bisa melanjutkan kuliah. Untuk biaya kuliah, saya dibantu oleh Tante yang tidak menikah. Saya juga berusaha mencari beasiswa. Semasa kuliah saya kelepasan. Karena jarang berbelanja pakaian, saya mulai sering berbelanja pakaian menggunakan uang orang tua, walaupun masih bisa terkontrol.

Begitu pula, ketika saya lulus kuliah dan bekerja. Karena gaji cukup tinggi, saya kembali kelepasan belanja, namun masih mampu menabung. Orang tua selalu mengingatkan saya untuk selalu menabung.

Hidup memang seperti roda yang berputar./Copyright pixabay.com

Keadaan berubah ketika saya resign sebelum mendapat pekerjaan baru. Saya tidak lagi bisa berbelanja. Hal itu memberikan pelajaran berharga, bahwa saya tetap harus hidup sederhana karena roda bisa terbalik. Ketika saya mendapat pekerjaan, berganti-ganti pekerjaan, dan sempat menganggur, kini saya lebih memikirkan menabung ketimbang harus berbelanja pakaian.

Tetapi di dunia kerja, berpenampilan kucel bukanlah hal yang diinginkan perusahaan. Apalagi, saya tidak suka berdandan. Hal itu membuat rekan-rekan kerja menjauhi saya. Tak jarang, teman-teman juga melakukan make over supaya penampilan saya lebih menarik.

Seringkali, saya juga dikritik mengenai penampilan. Ya, saya memang suka mengenakan baju-baju lama dan baju lungsuran. Menurut saya, selama baju itu masih pantas dikenakan tidak ada salahnya kan? Mereka juga mengkritik saya yang tidak berdandan. Bagi saya bedak tipis saja sudah membuat saya terlihat lebih segar.

Saya pernah dibilang sebagai wanita polos hanya karena tidak berdandan. Saya nyaman mengenakan celana jeans dan kaos atau kemeja saat beribadah atau acara formal. Tapi, banyak yang gatel menyuruh saya untuk mengubah penampilan. Kata mereka, saya tidak boleh berpenampilan polos terus.

Hey, apakah kepolosan seseorang hanya dinilai dari penampilannya saja? Bagaimana kalau wanita yang berpenampilan polos itu menggunakan uangnya untuk membeli ilmu dan pengalaman? Apakah kalah dengan wanita yang berpenampilan menarik menurut standar?

Bahagia dengan caraku sendiri./Copyright pixabay.com

Hingga saat ini, masih ada teman-teman yang menyuruh saya untuk mengubah penampilan. Tapi satu hal yang menguatkan saya adalah kekasih yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdandan supaya terlihat “manglingi” saat menjadi pengantin. Dukungan kekasih inilah yang menguatkan saya untuk mempertahankan diri saya.
Walaupun kekasih saat ini hanya berstatus mantan, hal itu tidak membuat saya mengubah penampilan hanya untuk balas dendam. Saya adalah saya yang suka berpenampilan sederhana dengan celana jeans dan kaos, juga baju-baju lungsuran dan tanpa make up.

Beruntung, pekerjaan saat ini bukanlah pekerjaan yang melihat penampilan. Asal sopan dan pantas tidak ada yang menegur saya. Uang hasil kerja keras saya gunakan untuk membeli buku-buku yang menambah ilmu pengetahuan. Juga saya gunakan untuk traveling demi menambah pengalaman. Saya juga selalu berusaha menabung karena saya sadar roda kehidupan tidak selamanya di atas.

Pengalaman-pengalaman di masa lalu membuat saya sadar bahwa menabung, membeli ilmu, dan membeli pengalaman adalah cara untuk mencintai tubuh. Saya tidak mau kelaparan ketika roda kehidupan kembali di bawah. Saya juga menghargai otak saya dengan memberikan asupan ilmu. Begitu juga dengan mata, tubuh, otak, dan organ tubuh lainnya yang harus saya hargai dengan olahraga dan traveling.


(vem/nda)
KOMENTAR PEMBACA