Sukses

Lifestyle

Kisah Jayina Jadi Mualaf: Lewat Islam Kutemukan Kedamaian

Jayina adalah perempuan asal Singapura. Lewat sebuah video yang diunggah di website millenials of SG, Jayina menceritakan pengalamannya saat memutuskan untuk memeluk agama Islam. Jayina memeluk agama Islam sejak 2014. Ketertarikannya akan agama Islam bermula saat ia mencoba memahami isi Al-Qur’an.

“Terlahir di keluarga yang terbiasa mengedepankan ilmu pengetahuan dan science, saya merasa isi Al-Qur’an adalah yang paling masuk akal. Saya menemukan banyak sekali kalimat-kalimat ilmiah di dalam Al-Qur’an,” ujar Jayina di dalam videonya.

Konflik keluarga

Memutuskan untuk belajar, memahami, dan memeluk agama Islam tidaklah mudah bagi Jayina. Di Singapore, tempat tinggalnya, Islam merupakan agama minoritas. Apalagi keluarga Jayina memiliki adat dan budaya Cina yang masih sangat kental. Konflik bermula saat ibu Jayina memergokinya sedang mempelajari Al-Qur’an. Saat itu sang ibu merasa sangat marah dan kecewa.

“Pemahaman ibu dan keluarga saya mengenai agama Islam tidak tepat. Tapi ibu saya tahu, bahwa ia tak bisa melarang saya untuk mempelajari Islam lebih dalam. Oleh karena itu dia memberi saya ultimatum untuk keluar rumah,” tutur Jayina.

Keluarga Jayina; Foto: copyright millenials of SG

Usaha untuk berbicara dan berdiskusi tak pernah berakhir dengan baik. Dan akhirnya, untuk menghindari konflik berkepanjangan, Jayina memutuskan untuk keluar dari rumah keluarganya, saat ia sedang berpuasa di bulan Ramadan.

“Aksi adalah cara terbaik untuk menunjukkan pada mereka (keluarga) bahwa Islam telah membuatku menjadi orang yang lebih baik. Aku telah menemukan kedamaian,” tambahnya.

Melawan stigma negatif tentang Islam

“Kamu nggak bisa makan babi lagi loh,” “Suami kamu boleh punya empat istri,” “Islam kan agama penuh kekerasan,”. Kalimat-kalimat itulah yang didengar Jayina dari lingkungan sosialnya saat ia bercerita soal keputusannya untuk memeluk agama Islam. Menurut Jayina, tak sedikit orang di Singapura yang masih harus belajar soal menghormati dan bertoleransi terhadap umat agama lain.

“Ada satu kalimat di Al-Qur’an yang menjadi favorit saya. ‘Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat,’ (penggalan surat Al-Baqarah ayat 256). Bagi saya, sudah jelas manusia diberi akal dan pikiran untuk memilih. Memilih jalan hidup, agama dan apapun. Jika kita tidak mau orang lain memilihkan jalan hidup kita, jangan pernah menghakimi pilihan orang lain,” ungkap Jayina.

Jayina Saat Memeluk Agama Islam. Foto: copyright millenials of SG

Jayina percaya, pilihannya untuk memeluk agama Islam adalah jalan hidup terbaik baginya. Ia berharap, orang-orang sekitarnya dapat menerima itu. Karena penerimaan akan berujung pada toleransi. Dan saat semua orang bisa menerima dan mengerti pilihan hidup orang lain, dan berhenti menghakimi, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.

Intip video lengkapnya klik di sini Ladies.

(vem/kee/ivy)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading