KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. LENTERA

Kekuatan Perlawanan Perempuan Yang Tertuang Dalam Tulisan

Foto: copyright pexels.com

Vemale.com - Perempuan harus menulis, setidaknya itu yang menjadi impian seorang Hélène Cixous sebagai salah satu pemikir postmodern. Fokus melakukan perlawanan dominasi melalui bahasa (tulisan) yang berkembang di masyarakat, Cixous tidak dapat menerima konsepsi bahwa tulisan dan pemikiran maskulin dianggap lebih berkuasa. Karena, posisi itu cenderung membawa laki-laki pada kondisi yang lebih menguntungkan dari pada perempuan.

Seorang perempuan adalah seorang penulis yang baik. Ketika seorang perempuan menulis, mereka akan membawa pengalaman dan ketidaksadaran dalam dirinya (unconsious) ke dalam teks sehingga yang membacanya akan dapat memahami perempuan yang sebenarnya seperti apa. Ketika seorang perempuan menulis tentang dirinya, secara tidak langsung posisi biner yang dibangun logika laki-laki selama ini, yang terdapat dalam teks dan terkonstruksi dalam masyarakat, dapat terkikis perlahan-lahan.

“The future must no longer be determined by the past. I do not deny that the effects of the past are still with us. But i refuse to strengthen them by repeating them, to confer upon them an irremovability the equivalent of the destiny, to confuse the bilogical and the cultural. Anticipation is imperative."


Selama berdekade-dekade lamanya, perempuan digambarkan secara timpang dalam masyarakat. Sebagai aktor sosial yang memainkan peran yang ditentukan oleh laki-laki melalui keinginan. Perempuan ibarat selalu dalam masquerade: selalu dengan representasi palsu, penuh akting dan menggoda. Perempuan selalu memiliki citraan simbolis yang bukan dirinya.

Dengan menulis, perempuan dapat mengubah diri dari “yang tidak dapat dipikirkan dan tidak terpikirkan, menjadi sosok yang ada dan dianggap keberadaannya”

Berawal dari sebuah tragedi kekerasan yang terjadi di Kota New York, Amerika Serikat pada 8 Maret 1857. Saat itu para buruh wanita dari pabrik garmen melakukan unjuk rasa untuk memprotes kondisi buruk yang mereka alami. Mulai dari diskriminasi hingga tingkat gaji yang tak setara dengan buruh laki-laki. Aksi demonstrasi itu tak berjalan damai. Aparat kepolisian bertindak represif dengan menyerang para demonstran perempuan itu untuk membubarkan aksi.

Kendatipun peringatan Hari perempuan sempat 'hilang' pada masa 1910-1920-an, namun peringatan ini baru kembali dihidupkan bebarengan dengan bangkitnya feminisme pada era 60-an. Di tahun 1974, Hari Perempuan Internasional ditetapkan pada 8 Maret dengan sokongan dari PBB. Pada tanggal 28 Februari 1909, Hari Perempuan diperingati untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Menyusul peringatan Hari Perempuan di AS, sebuah Konferensi Perempuan Internasional diselenggarakan untuk menggalakkan kesetaraan gender pada bulan Agustus 2010.

Tak salah kiranya kalau ada ungkapan, perempuan itu unik, dia bisa menjadi sosok ibu ataupun ayah disaat bersamaan. Sekalipun sering mendapat diskriminasi tapi yang namanya perempuan tetap saja tegar dan secara pribadi saya bangga jadi perempuan. Walau terkadang, peringatan Hari Perempuan Internasional menyebabkan kontroversi mengenai diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam gambaran saya, harusnya diskriminasi terhadap kaum perempuan dihilangkan salah satunya adalah dengan membangun keadilan dan kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan,itu prasyarat yang mutlak.

Sudah merupakan keniscayaan kalau perempuan merupakan elemen penting serta strategis yang harus terlbat dalam pembangunan bangsa Indonesia lebih khusus di daerah tentunya. Banyak wanita yang hebat-hebat dan maju dalam pembangunan, ini dibuktikan dengan beberapa wanita yang menjadi kepala daerah. Itu cukup membanggakan kendati pun sangat disayangkan potensi perempuan bertolak belakang dengan kondisi nyata. Menurut data World Bank, 63 persen dari 28 juta penduduk miskin Indonesia, adalah perempuan tinggal di pedesaan. Mau tidak mau situasi tersebut dampak dari praktik dan pendekatan pembangunan selama ini yang masih menempatkan perempuan sebagai objek, bahkan kerap menjadi korban pembangunan.

Bisa dikatakan ilmu pengetahuan adalah power. Namun, pandangan masyarakat tentang perempuan adalah sebanyak apa pun ilmu pengetahuan yang ia miliki, ia tidak akan pernah sampai pada posisi tertinggi dalam budaya. Biar pun perempuan memiliki pengetahuan yang banyak, tetapi ia akan tetap dalam posisi no-knowledge atau knowledge-without-power.

Gambaran “budaya” stigmatisasi, domestikasi, dan kooptasi terhadap perempuan begitu jelas terlihat pada rezim Orde Baru, dimana ruang publik wanita terkekang dengan kurangnya keterwakilan dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik. “Budaya” ini mulai mengembos hingga jatuhnya rezim Orde Baru.

Berlahan namun pasti, proses transisi demokrasi yang telah dan sedang berjalan sedikit banyak memungkinkan perempuan untuk mengklaim ruang bagi kesetaraan dan keadilan gender di lembaga-lembaga yang baru muncul atau yang direformasi. Upaya meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan perempuan dalam lembaga-lembaga yang menghasilkan kebijakan publik dipandang penting dan menjadi prioritas gerakan perempuan. Hal ini mengingat kebijakan publik memiliki dampak yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.

Sekiranya ini yang coba terus digaungkan  sejumlah elemen masyarakat, yang terdiri dari individu, kelompok diskusi feminis, mahasiswa, anak muda, aktivis, pekerja swasta dan pekerja seni di seluruh Indonesia pada 8 maret 2017 dalam aksi  solidaritas bertema "International Women’s March" yang menyampaikan 8 Tuntutan Perempuan Indonesia untuk Peradaban yang Setara.

Sekali lagi menulis adalah sebuah dorongan dan tampil adalah aksi nyata. Dengan tulisan, perempuan akan mengukir sejarah yang berbeda seperti apa yang telah dikonstruksikan masyarakat tentang perempuan sebelumnya.

“Women can only write with their bodies because feminine language cannot be separated from feminine being if it’s to remain in the hands of women."

Dituliskan oleh Femmy Hiliwilo untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/.

(vem/wnd)
KOMENTAR PEMBACA