1. VEMALE
  2. /
  3. KESEHATAN

6 Cara Mengurangi Risiko Kepikunan dari Ahli

Kamis, 12 April 2018 15:30 Penulis: The Conversation
Ilustrasi dari Pixabay.com

Vemale.com - Helen Macpherson, Deakin University

Sebuah populasi yang menua mengakibatkan tumbuhnya jumlah orang yang hidup dengan demensia (sebuah istilah yang mencakup beberapa gejala seperti kerusakan ingatan, kebingungan, dan hilangnya kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari).

Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia paling umum, dan mengakibatkan kemunduran kesehatan otak yang progresif. 

Di Australia, 425 ribu orang mengidap demensia, yang menjadi penyebab kematian nomor dua secara umum, dan nomor satu bagi perempuan.

Risiko utama demensia adalah usia tua. Sekitar 30 persen orang berusia di atas 85 tahun di Australia hidup dengan demensia. Selain itu, faktor genetika atau keturunan juga punya andil di awal penyakit, tapi lebih kuat pada jenis demensia yang lebih jarang, seperti penyakit Alzheimer dini (yang menyerang pada usia muda).

Kita memang tidak bisa mengurangi umur atau profil genetis kita, tetapi untungnya ada beberapa gaya hidup yang bisa diubah untuk menurunkan risiko terkena demensia.

1. Terlibat dalam kegiatan yang merangsang mental

Pendidikan adalah penentu penting dalam risiko demensia. Seseorang yang mengecap kurang dari 10 tahun pendidikan formal punya peluang lebih besar terkena demensia. Mereka yang tidak lulus SMP atau sederajat punya risiko paling tinggi.

Tapi jangan panik. Kita masih bisa memperkuat otak kita pada umur berapa pun, melalui prestasi di dunia kerja dan kegiatan bersenang-senang, seperti membaca koran, bermain kartu, atau belajar keahlian atau bahasa baru.

Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa latihan berkelompok untuk melatih daya ingat serta strategi memecahkan persoalan dapat meningkatkan fungsi kognitif jangka panjang kita. Tetapi hasil yang sama belum tentu didapati lewat “latihan otak” yang ada di program komputer karena kegiatan yang merangsang mental dalam kondisi berkelompok/sosial mungkin juga menyumbang keberhasilan latihan kognitif.


      Baca juga:

     Tanpa tujuh organ tubuh ini, Anda tetap bisa hidup

2. Menjaga hubungan sosial

Hubungan sosial yang lebih sering (misalnya mengunjungi teman atau saudara atau mengobrol di telepon) punya kaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah. Sebaliknya, rasa kesepian dapat meningkatkan risiko demensia.

Keterlibatan yang lebih besar dalam kegiatan kelompok atau komunitas juga punya hubungan dengan risiko yang lebih rendah. Yang menarik adalah, jumlah teman tidak terlalu relevan dibanding frekuensi hubungan dengan orang lain.

3. Menjaga berat dan kesehatan jantung

Ada kaitan erat antara kesehatan otak dan jantung. Tekanan darah tinggi dan obesitas, terutama pada usia pertengahan, meningkatkan risiko demensia.

Ketika digabung, dua kondisi ini berperan dalam lebih dari 12% kasus demensia.

Dalam analisis data terhadap lebih dari 40 ribu pasien, mereka yang mengidap diabetes tipe 2 punya kemungkinan dua kali lebih tinggi terkena demensia ketimbang orang yang sehat.

Menjaga atau membalikkan kondisi ini dengan obat-obatan atau diet dan latihan fisik amatlah penting dalam mengurangi risiko demensia.

4. Berlatih lebih sering

Aktivitas fisik telah terbukti melindungi kita dari kemunduran kognitif. Dari data yang dikombinasikan dari 33 ribu orang lebih, mereka yang aktif secara fisik punya risiko kemunduran kognitif 38% lebih rendah dibanding mereka yang tidak.

Berapa persisnya jumlah latihan yang cukup untuk menjaga kemampuan kognitif masih diperdebatkan. Tetapi ulasan studi baru-baru ini yang mempelajari dampak berlatih selama sekurang-kurangnya empat minggu, menyarankan satu sesi latihan harus berlangsung tak kurang dari 45 menit dengan beban sedang hingga tinggi.

Ini artinya kita harus berkonsentrasi betul ketika berlatih, tidak bisa mengobrol.

    Baca Juga:

     Ketika berat kita berkurang, ke mana larinya lemak tubuh yang kita buang?

Pada umumnya, orang Australia tidak memenuhi target 150 menit aktivitas fisik per minggu.

5. Berhenti merokok

Merokok berbahaya bagi kesehatan jantung, dan bahan kimia yang terdapat di sebatang rokok memicu peradangan dan perubahan pembuluh otak.

Merokok juga bisa memicu stres oksidatif, yakni rusaknya sel tubuh kita akibat bahan kimia yang disebut radikal bebas. Proses ini punya andil dalam pembentukan demensia.

Syukurlah, tingkat merokok di Australia sudah menurun dari 28% ke 16% sejak 2001.

Terdapat risiko demensia yang lebih tinggi pada perokok ketimbang orang yang tidak merokok atau mantan perokok, yang memberi kita alasan untuk meninggalkan rokok sama sekali.

6. Mencari pertolongan kala depresi

Sekitar satu juta orang Australia saat ini hidup dengan depresi. Ketika kita depresi, beberapa perubahan terjadi dalam otak yang dapat mempengaruhi risiko demensia. Kadar hormon stres kortisol yang tinggi telah dihubungkan dengan penyusutan area otak yang penting bagi memori/ingatan.

Panyakit yang merusak pembuluh darah juga telah diamati dalam depresi dan demensia. Peneliti mengatakan, stres oksidatif jangka panjang dan peradangan dapat menyumbang andil pada kedua kondisi tersebut.

     Baca juga:

     Masuk angin? Kerokan saja

Sebuah studi yang berlansung selama 28 tahun terhadap lebih dari 10 ribu orang menemukan bahwa risiko demensia hanya meningkat pada mereka yang mengalami depresi dalam kurun waktu 10 tahun sebelum diagnosis.

Kemungkinannya, depresi di usia lanjut dapat mencerminkan gejala awal demensia.

Kajian lain telah menunjukkan bahwa mengalami depresi sebelum umur 60 meningkatkan risiko demensia, jadi Anda sangat disarankan mencari pertolongan/perawatan ketika depresi.

Beberapa hal lain yang perlu diingat

Mengurangi faktor risiko demensia tidak serta-merta menjamin Anda tidak akan terkena demensia. Tetapi pada level populasi, lebih sedikit orang akan terdampak. Perkiraan terbaru mengatakan bahwa maksimum 35 persen dari semua kasus demensia mungkin disebabkan oleh faktor risiko yang ditulis di atas.

Angka ini juga mencakup perawatan kehilangan pendengaran, meski bukti untuk ini belum terlalu kuat.

Dampak gangguan tidur dan diet terhadap risiko demensia makin dianggap penting, dan akan lebih dipertimbangkan ketika makin banyak lagi bukti yang mengatakan demikian.

Demensia memang kerap dianggap sebagai penyakit orang lanjut usia, tetapi sesungguhnya proses berbahaya bisa terjadi di otak selama berpuluh-puluh tahun sebelum demensia muncul.

Ini artinya, sekaranglah waktu yang tepat untuk bertindak guna mengurangi risiko demensia.

Helen Macpherson, Research Fellow, Institute for Physical Activity and Nutrition, Deakin University

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

(vem/kee)
KOMENTAR PEMBACA
Cara Nindy Ayunda Hadapi Haters