KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. KESEHATAN

Tidak Jadi Nomor Satu Lagi, Begini Pengendalian Nyamuk di DKI Jakarta

Selasa, 10 Oktober 2017 16:06 Penulis: Anisha Saktian Putri
Pengendalian nyamuk demam berdarah/copyright Pixabay.com

Vemale.com - Nyamuk pembawa penyakit seperti demam berdarah memang sudah tersebar di mana-mana. Tak terkecuali DKI Jakarta yang memiliki populasi masyarakat yang begitu padat.

Untuk itu, pengendalian nyamuk perlu dilakukan. Dr. Widiastuti MKM, selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta menjelaskan, penyakit demam berdarah di DKI Jakarta tidak hanya di musim hujan saja.

Selama vector nyamuk masih ada, penyakit ini akan selalu ada. Tiga tahun terakhir, puncak wabah DB di DKI Jakarta terjadi di bulan April. Dinkes DKI akan bekerjasama dengan BMKG membuat semacam pemodelan prediksi kasus DB di Jakarta, sehingga diharapkan puncak kasus DB setiap tahun dapat diprediksi dengan lebih akurat.

Tahun 2017, di Propinsi DKI Jakarta sudah tercatat 2.771 kasus dengan kematian hanya satu. Hal ini menunjukkan propinsi DKI cukup berhasil mengendalikan penyebaran nyamuk. Sejak tahun 2016, DKI Jakarta bukan lagi di urutan pertama dalam hal kasus DB tertinggi. Sekarang diambil alih Jawa Barat, disusul Jawa Timur dan baru DKI Jakarta.

Mengendalikan penyebaran nyamuk demam berdarah/copyright Pixabay.com

Dr. Widiastuti menambahkan, DKI sangat aktif membasmi penyebaran nyamuk Aedes. DKI juga sangat reaktif terhadap setiap laporan kasus DB sehingga penanggulangannya cepat. Cara yang dilakukan adalah sosialisasi melalui media, vidotron di lokasi strategis tentang bahaya DB, melalui bis keliling dan mendatangi sekolah-sekolah terutama SD yang merupakan populasi tinggi risiko.

“Kami melakukan pengendalian vector nyamuk secara fisik melalui para jumantik setiap Jumat di seluruh RT di Jakarta. Kami juga memberdayakan masyarakat dengan satu RT satu jumantik dan jumantik cilik pada siswa SD. Jumantik cilik ini tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah ikut memantau jentik-jentik nyamuk,” jelas Widiastuti.

Kasus tertinggi DB terjadi pada anak sekolah dasar karena mereka cenderung duduk di siang hari di dalam kelas, dan kaki mereka tersembunyi di bawah meja dan menjadi sasaran empuk gigitan nyamuk Aedes.

(vem/asp/feb)
KOMENTAR PEMBACA