KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. KESEHATAN

Ini Alasan Mengapa Populasi Nyamuk Makin Hari Makin Meningkat

Selasa, 10 Oktober 2017 11:05 Penulis: Anisha Saktian Putri
Kenapa nyamuk tambah banyak?/Copyright thinkstockphotos.com

Vemale.com - Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki ancaman penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit-penyakit yang disebabkan nyamuk begitu menakutkan karena akan berujung pada kematian. Penyakit oleh nyamuk yang sering terjadi di Indonesia ialah demam berdarah dengue (DB), malaria, chikungunya, dan zika.

Sayangnya, jumlah penyakit yang ditularkan nyamuk semakin meningkat. Salah satu pemicunya adalah populasi nyamuk semakin banyak yang disebabkan perubahan iklim global. Suhu global yang meningkat menyebabkan nyamuk semakin suka kawin, bertelur terus sehingga meningkatkan penyakit yang ditularkannya.

Nyamuk juga lebih bandel karena semakin pintar beradaptasi dengan perubahan lingkungan, sehingga nyamuk yang tadinya mudah mati dengan obat nyamuk yang mengandung organofosfat misalnya, belakangan ini mulai kebal dan tidak mati dengan zat tersebut. Nyamuk adalah hewan kecil yang paling cepat beradaptasi dengan lingkungan.

DR. dr. Leonard Nainggolan SpPD-KPTI, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi Indonesia (PETRI) menjelaskan, data WHO tahun 2016 menunjukkan jumlah kasus kematian akibat gigitan nyamuk mencapai 725.000. Jumlah penyakit yang ditularkan nyamuk mencapai 17% dari seluruh penyakit menular, dengan kematian mencapai 1 juta per tahun, dan paling banyak terjadi di Afrika. Selain itu, lebih dari 2,5 miliar orang di lebih dari 100 negara berisiko tertular demam berdarah, dan 3,2 miliar orang berisiko tertular malaria (WHO, 2015).

Ada tiga penyakit utama yang ditularkan melalui nyamuk, yaitu malaria, demam berdarah, dan filariasis. "Dana sekitar 2 triliun rupiah dihabiskan hanya untuk penanggulangan dan pengobatan ketiga penyakit ini. Penelitian dr. Leonard tahun 2009 menunjukkan, 1 kasus DB menghabiskan rata-rata 1,5 juta rupiah, belum termasuk transportasi dan lost of income dan biaya penanggulangan wabah," ujarnya saat ditemui di Jakarta.

(vem/asp/nda)
KOMENTAR PEMBACA