1. VEMALE
  2. /
  3. KELUARGA

Ibu Ini Alergi Air Setelah Melahirkan, Apa Penyebabnya?

Sabtu, 30 Juni 2018 10:08 Penulis: Anisha Saktian Putri
ilustrasi ibu melahirkan, source: pixabay/sanjasy

Vemale.com - Melahirkan memang membutuhkan perjuangan yang begitu keras dari para ibu. Hidup dan mati menjadi hal yang biasa ketika proses melahirkan.

Perjuangan keras ibu pun bukan hanya saat hamil dan melahirkan. Melainkan setelah melahirkan, banyak perempuan mengalami reaksi tertentu pada tubuh mereka. Seperti merasakan rasa sakit jahitan setelah melahirkan atau makan makanan yang sedikit berbeda seperti biasa.

Namun, kejadian tak biasa dialami oleh Cherelle Farrugia, perempuan berusia 25 tahun dari Cardiff, setelah melahirkan, ia harus berhati-hati mendekati air.

Dilansir dari Metro.co.uk, setelah putrinya bernama Willow lahir, Cherelle mulai menyadari tubuhnya terasa sangat gatal dan dipenuhi dengan ruam setelah mandi. Awalnya, dia hanya menghindari sabun mandi yang biasa digunakan atau menggunakan suhu air normal, namun tidak ada reaksi yang berubah.

Akhirnya, Cherelle menyadari kemungkinan ia terserang alergi klorin dan bakteri yang berasal dari pancuran saat ia mandi.

"Saya tidak berpikir bahwa alergi itu disebabkan oleh air. Saya tidak pernah mendengar hal semacam itu," ungkap dia.

"Dokter pertama yang saya temui mengatakan kepada saya itu tidak mungkin, tetapi dokter kedua yang saya datangi merujuk saya pada seorang ahli alergi," tambahnya.

Sayang daftar tunggu ahli alergi begitu lama, ia harus menunggu hingga lima bulan, alhasil ia memilih untuk pergi ke dokter pribadinya, dan kemudian didiagnosis terserang aquagenis urtikaria, kondisi langka yang menyebabkan gatal-gatal setelah kulit bersentuhan dengan air.

Diperkirakan hanya 35 orang di dunia yang memiliki kondisi ini, dan perubahan hormon Cherelle selama kehamilanlah yang memicunya. Untungnya, alergi tidak mempengaruhi dirinya secara internal, jadi Cherelle masih bisa meminum air.

Namun, dia tidak bisa berenang, dan harus menutupi seluruh tubuhnya saat hujan. Dia masih mandi, tetapi mencoba membatasi waktu di bawah air untuk meminimalkan ruam.

"Saya memiliki OCD sehingga kondisi ini adalah mimpi buruk bagi saya karena saya selalu ingin menjadi bersih. Karena itu, saya pastikan setelah mandi saya cepat-cepat mengeringkan air dari kulit saya. Biasanya membutuhkan waktu antara 30 menit dan satu jam (untuk rasa menyengat dan gatal-gatal mereda)," jelasnya.

"Saya selalu memastikan ada seseorang di rumah bersama saya ketika saya mandi sekarang karena saya diberi tahu bahwa saya bisa mengalami syok anafilaksis," ungkapnya lagi.

Meskipun menderita alergi yang menakutkan dan depresi pascamelahirkan, Cherelle berlatih untuk menjadi konselor kesehatan mental untuk dirinya sendiri.

Dia percaya bahwa urtikaria aquagenic lebih umum daripada yang dokter pikirkan, dan mendorong orang untuk langsung mengunjungi dokter mereka, jika mereka memiliki gejala yang sama.

(vem/asp)
KOMENTAR PEMBACA
#PhoneChallenge - Hanggini Telepon Pacar