Sukses

Lifestyle

Jangan Tanya 'Kapan Kerja?' Kalian Tak Tahu Seberapa Keras Aku Berusaha

Membaca kisah salah satu sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Stop Tanya Kapan ini, kita akan kembali diingatkan bahwa setiap orang punya perjuangannya sendiri. Kita tak bisa menyudutkannya karena bisa jadi ada hal besar yang sedang dilakukannya.

***

Terkadang pertanyaan, "Kapan kerja?" terasa menyesakkan buatku. Semenjak tahun lalu aku di-PHK dari tempat kerja lamaku, hingga saat ini aku belum bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok untukku.

Beberapa panggilan kerja sudah aku datangi. Tetapi ada yang sekadar memanggil saja namun tidak menerima, padahal menurutku pekerjaan itu cocok untukku, dan aku merasa aku melewati tahap tes dan interview dengan baik. Lalu ada yang menawarkan pekerjaan sales, dengan iming-iming bonus besar, namun harus mencapai target yang menurutku sangat susah, seperti menjual 3 unit apartemen dengan harga ratusan juta dalam 1 bulan dan lain sebagainya.

Penipuan dalam hal panggilan kerja sudah sering aku alami juga, seperti saat itu aku dapat panggilan kerja di suatu alamat di Jakarta. Namun saat aku cari alamat itu di internet, tidak dapat ditemukan, dan sudah banyak yang jadi korban, bahwa tempat tersebut adalah rekayasa si penipu. Aku bingung, terkadang banyak sekali orang yang memanfaatkan keadaan dan menipu orang lain dengan cara seperti itu. Apa mereka tidak bisa membayangkan apabila ada orang yang sudah jauh-jauh datang dari luar Jakarta, mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk melamar pekerjaan, tapi kenyataannya itu semua adalah penipuan. Sungguh kejam sekali.

Penipuan dalam hal panggilan kerja./Copyright pixabay.com

Pendidikanku memang tak tinggi. Tidak bergelar, ahlimadya bukan, apalagi sarjana. Aku hanya lulusan Diploma 2 dari jurusan Sekretaris. Saat itu aku sangat tak menginginkan masuk ke jurusan ini, karena jurusan ini tidak sesuai dengan minatku, tapi karena desakan kakakku akhirnya aku terpaksa masuk ke jurusan ini. Padahal minatku saat itu adalah jurusan Sastra Bahasa Inggris, karena aku suka menulis dan suka bahasa Inggris dan pilihan jurusan yang sesuai minatku juga adalah Perhotelan, karena aku juga lulusan dari SMK Perhotelan.

Perkuliahan ini selesai dalam 2 tahun, aku menjalaninya dengan penuh sukacita, aku pun lulus dengan predikat terbaik dan IPK nyaris sempurna. Selama 2 tahun itu aku berteman dengan teman-teman yang sangat baik dan mengasyikkan, walaupun jurusan Sekretaris hanya diminati kurang lebih 15 orang, sampai akhirnya hanya tersisa 6 orang, karena yang lainnya pun menyerah dan pindah ke kampus lain.

Kami yang hanya 6 orang dari jurusan sekretaris di wisuda pada November 2014. Pada sekitar Maret 2015, aku mendapat pekerjaan pertamaku, dan di pekerjaan pertamaku itulah aku mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Aku hanya bekerja selama 1 tahun sebagai Admin Staff di sebuah perusahaan di kotaku. Memang setahu aku, dan dari rekan-rekan kerja yang lain, perusahaan tersebut mempertahankan karyawan hanya untuk 1 tahun, dengan alasan tak ingin menaikkan gajinya. Beberapa teman-teman dekatku pun menjadi korbannya. Satu per satu pun akhirnya dikeluarkan/resign sesuai keinginan mereka, bahkan saat ini tak ada lagi teman-teman dekatku yang masih bekerja di sana.

Satu bulan aku keluar dari tempat kerjaku itu, aku sudah dapat celotehan dari teman dan keluargaku. Mereka bertanya, "Kapan kerja lagi?" "Sekarang kerja di mana?" Awalnya aku biasa-biasa saja, tapi lama-lama hal itu membuat aku stres dan muak.

Bukannya aku berlebih-lebihan, tapi hal itu membuatku malu terhadap diriku sendiri. Aku berpikir dalam hati, "Memang aku saja yang jadi pengangguran? Toh banyak di luar sana yang sudah lulus kuliah dan sudah jadi sarjana tapi belum dapat kerja juga."

Pertanyaan, "Kapan kerja?" itu cuma terus-terusan terngiang-ngiang di pikiranku, sampai akhirnya hal itu membuat aku stres dan aku merasa drop, merasa terkucilkan, membuatku malas bertemu teman-temanku, malas keluar rumah dan bersosialisasi lalu yang lebih parah stres itu membuatku jatuh sakit. Sakit maagku  menjadi kronis dan aku harus merasakan sakit kurang lebih 6 bulan dan berat badanku turun drastis hingga 10 kg. Memang betul kata orang, stres itu menyebabkan sakit maag. Uang tabunganku sampai ludes, karena bolak-balik harus masuk rumah sakit atau berobat. Untung saja saat ini aku sudah pulih dan sudah bangun dari rasa keterpurukan.

Sempat stres karena perkara belum juga kerja./Copyright pixabay.com

Mereka hanya bisa merendahkanku, dan tak tahu betapa kerasnya usahaku selama ini untuk mencari kerja. Selama 6 bulan aku hanya diam di rumah, menyendiri, aku jauhi sosial media dan teman-teman kantorku, yang selalu bertanya hal yang sama yaitu, "Kapan kerja?" dan mengajak meet up di cafe atau restoran elit.

Saat ini jujur saja, aku tak punya uang, mau diajak jalan sama teman-temanku ataupun nongkrong di cafe seperti dulu, aku tak mampu, karena aku tak mendapat penghasilan dari manapun juga. "Tolong mengerti kondisiku, teman, jangan jauhi aku, karena saat ini aku malu dan iri terhadap kalian yang nasibnya lebih baik."

Terlebih saat ini aku merasa kasihan terhadap kedua orang tuaku yang semakin menua, dan ayahku yang masih tetap bekerja untuk menghidupi diriku dan ibuku. Apalagi mereka berdua sering sakit-sakitan. Aku hanya harus tetap bersabar dan tetap semangat mencari kerja, karena saat ini aku merasakan sangat susahnya mencari kerja. Oleh karena itu, jangan tanya kapan kerja karena aku sedang berusaha.

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading