Sukses

Lifestyle

Tradisi Mencabut Keperawanan

Masih ingat bagaimana malam pertama Anda, Ladies? Tradisi Indonesia, seperti yang sudah Anda kenal baik, mengharuskan adanya “noda” merah pada ranjang pengantin selepas malam pertama. Namun Ladies, ternyata pada beberapa kebudayaan yang lebih tua, ada tradisi untuk “mencabut” keperawanan sebelum menikah, lho!

Iya Ladies, jadi keperawanan bukanlah hak pengantin pria. Dijelaskan dalam sebuah essay karangan Jörg Wettlaufer yang dipubikasikan dalam fibri.de, ada bentuk ritual pemutusan atau pemecahan selaput hymen seorang gadis sebelum ia menikah. Ritual ini tersebar di berbagai belahan Eropa, India, hingga Afrika Selatan.

Ya, seorang gadis memang tetap harus menjaga baik-baik keperawanannya, namun bukan untuk “dipecah” oleh calon suami pada malam pertama, melainkan oleh pihak ketiga. Pihak yang berwenang melakukan ritual ini biasanya adalah kepala suku, pendeta, dukun, bahkan seorang asing, yang bertugas untuk “membuka” sang mempelai putri sebelum hubungan seksual pertamanya dengan mempelai pria.

Motif upacara ini bisa bermacam-macam, sesuai dengan daerahya. Namun, pada umumnya, upacara pemutusan selaput hymen ini dihubungkan dengan berbagai hal-hal gaib seperti persembahan pada dewi pernikahan, dewi kesuburan, perlindungan bagi keselamatan suku, dan lain-lain.

Selain itu Ladies, masyarakat kuno ini juga rata-rata mempunyai ketakutan tersendiri pada darah dari sobeknya selaput hymen, lho. Rata-rata, mereka percaya bahwa selaput itu berbahaya, beracun, mengandung sihir, kotor, dan sebagainya. Sehingga, organ intim wanita dinyatakan “aman” untuk dimasuki pasangannya ketika selaput tersebut sudah hilang.

 

Oleh: Adienda Dewi S.

(vem/riz)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading