Sukses

Lifestyle

Banda the Dark Forgotten Trail, Usung Kisah Peradaban Dunia dari Rempah

Ladies, pernah terpikir olehmu buah pala lebih mahal harganya dibandingkan emas? Nyatanya, pada masa lampau, Kepulauan Banda menjadi salah satu penghasil pala terbaik yang diburu oleh beberapa negara seperti Arab, Belanda, hingga Inggris.

Sejak diperkenalkan oleh para pedagang Tiongkok, pala menjadi salah satu komoditi yang memiliki harga jual yang sangat tinggi. Inilah mengapa pala lebih berharga dibanding segenggam emas. Sayangnya, kini pulau tersebut mulai dilupakan sebagai salah satu penghasil rempah terbaik di dunia.

Nah ladies, jika ingin tahu bagaimana sejarah Banda yang penuh dengan darah dan kesedihan walau memiliki harta karun melimpah, kamu bisa menonton Banda the Dark Forgotten Trail, sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Lifelike Picture dan diproduseri oleh Sheila Timothy dan Abduh Aziz.

"Saya berpikir bikin film ini karena saat itu saya pergi ke pameran jalur rempah, yang menjadi cikal bakal jalur sutra. Dari situ saya memutuskan untuk bikin film yang saya rasa orang lain tidak tahu betapa berharganya rempah. Agar masyarakat bisa lebih bangga dengan Indonesia karena penghasil rempah terbaik yang diperebutkan banyak negara," ujar Sheila saat ditemui dalam press screening film 'Banda The Dark Forgotten Trail', di Jakarta.

Film 'Banda The Dark Forgotten Trail'/copyright twitter.com/Sheila Timothy

Film yang menceritakan kebrutalan VOC dalam merebut rempah-rempah dari jumlah 14.000 orang penduduk asli di tahun 1621 hingga pembantaian yang hanya tersisa 480 orang ini disutradarai oleh Jay Subyakto, yang menjadi film panjang pertama dirinya.

"Akhirnya saya memutuskan untuk membuat film dokumenter ini karena film ini sangat penting. Banda Neira ialah pulau yang melahirkan banyak pemikiran, lahir banyak kepedihan, lahir banyak semangat, dan lahir banyak ironi sampai saat ini," ujar Jay.

Film yang akan tayang pada 3 Agustus 2017 ini ditulis oleh penulis handal Irfan Ramli, dengan narator yang diisi oleh Reza Rahadian untuk bahasa Indonesia dan Ario Bayu dalam bahasa Inggris.

"Jadi narator tuh pengalaman baru, gimana caranya menjiwai gambar demi gambar, berusaha agar penonton tidak bosan. Saat prosesnya pun saya betul-betul menikmati. Jadi wajib banget nonton film ini di bioskop," tutup Reza.

Well ladies, jangan sampai ketinggalan yah menonton film yang akan menambah pengetahunmu tentang Indonesia ini. Sampai ketemu di bioskop kesayangan kamu.

(vem/asp/feb)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading