KAPANLAGI NETWORK
MORE
  1. VEMALE
  2. /
  3. CANTIK

Pahami Penyebab Hiperpigmentasi Pada Kulit, Penting Ladies

Kamis, 07 Desember 2017 09:45 Penulis: Ammy Marcida
Sinar matahari/Copyright Shutterstock

Vemale.com - Tinggal di wilayah dengan intensitas matahari yang tinggi membuat kulit wanita di Indonesia rentan mengalami hiperpigmentasi. Kondisi hiperpigmentasi memang biasa terjadi saat kulit terkena paparan sinar matahari. Untuk melindungi kulit dari sinar UV, secara alami sel kulit akan memproduksi melanin (zat pewarna kulit) lebih banyak sehingga tampilan kulit akan tampak gelap.

Tapi mungkinkah kulit tetap mengalami hiperpigmentasi, meskipun sudah rutin menggunakan sunscreen sebelum berkativitas di bawah sinar matahari? Mungkin saja, karena ternyata hiperpigmentasi tidak hanya diakibatkan oleh paparan sinar matahari. Berbagai hal berikut juga diketahui bisa memicu peningkatan produksi melanin di kulit.

Reaksi Alergi

Reaksi Alergi/Copyright Shutterstock

Selain menampilkan peradangan serta noda merah di kulit, reaksi alergi juga bisa berdampak pada meningkatnya produksi melanin. Seperti reaksi alergi kulit saat bersentuhan dengan zat resin bernama urushiol yang terdapat pada batang, akar dan daun tanaman ivy atau sejenis tumbuhan semak yang dapat memicu terjadinya iritasi hebat di kulit. Dalam kondisi ini, secara alami kulit akan meningkatkan produksi melanin sehingga tampilannya menjadi lebih gelap.

Kerusakan Kulit

Kulit yang mengalami inflamasi atau peradangan akan rentan mengalami hiperpigmentasi, karena pada dasarnya saat terjadi peradangan, lambat laun produksi melanin akan ikut meningkat. Kondisi kulit yang meradang atau rusak baik akibat kebiasaan memencet jerawat maupun kondisi kulit eksim akan membuat sel kulit kesulitan melakukan regenerasi pigmentasi. Untuk mengatasinya secara alami kulit akan menghasilkan pigmentasi yang lebih gelap di atas lapisan kulit yang rusak, hingga akhirnya terjadi hiperpigmentasi.

Efek Samping Penggunaan Obat

Ada beberapa jenis obat yang akan menimbulkan hiperpigmentasi pada kulit sebagai efek samping penggunaannya. Misal obat dengan kandungan retinoid, obat anti-kejang, antibiotik, obat hormonal hingga obat kemoterapi. Berbagai obat tersebut dapat memicu perubahan hormon di tubuh yang juga turut memengaruhi pertumbuhan sel melanosit yang mengatur pertumbuhan melanin.

Perubahan Hormon

Seperti yang disebutkan sebelumnya, perubahan horrmonal dapat mengganggu produksi zat melanosit hingga membuat produksi melanin meningkat. Biasanya hal ini umum terjadi saat mengalami kehamilan atau ketika mengonsumsi pil KB. Peningkatan hormon estrogen dan progesteron akan memicu terjadinya peningkatan melanin di kulit. Tapi bagi setiap orang reaksi hiperpigmentasi pada masa kehamilan akan menghilang setelah melahirkan.

Proses Hair Removal yang Kurang Tepat

Proses pencabutan rambut di area kulit dengan waxing juga bisa jadi penyebab terjadinya hiperpigmentasi pada kulit. Hal ini terjadi karena proses waxing tidak hanya mencabut rambut tapi juga mengangkat atau mengelupas lapisan kulit teratas. Proses pengelupasan jika tidak dilakukan secara benar tak jarang berujung pada reaksi peradangan hingga menyebabkan hiperpigmentasi.

Baca juga: Ingin Mencoba Melakukan Waxing Sendiri di Rumah? Perhatikan Do’s & Don’ts Berikut Ini

(vem/sociolla/apl)
KOMENTAR PEMBACA