Cintaku dari Hati

Senin, 29 Juli 2013 21:24

  • Percakapan dimulai Selasa
  • 16:46
     
     
    Shafatu Marwah

    saya mau kirim cerpen ya, sebagian ini adalah cerita saya, hanya bagian akhir saja yang saya tambah, karena saya belum tau endingnya.

    Cintaku dari Hati

    Bertemu tidak sengaja, seperti yang digariskan takdir. Yah… mungkin itulah kami, berawal dari perjumpaan yang tidak direncanakan. Sore itu aq hendak menyelesaikan tugas dan mengharuskan aku mengunjungi Warnet. Aku sudah berjanjian dengan temanku. Dia adalah operator di warnet tersebut. Aku sudah mengirim sms kepada temanku itu, namun belum juga dia membalasnya. Akhirnya aku memutuskan kesana bersama saudara perempuanku. Sesampainya disana yang kutemui bukanlah temanku itu, tapi operator yang lain. “mas maaf mas Derri ada?”, tanyaku “oh mas derri lagi berangkat kuliah..”, jawabnya “gitu ya.., yaudah deh” aku agak sedikit kecewa “ada apa si mbak? Sama aku juga ga apa-apa kok”, tanyanya menawarkan “hehe, gak jadi mas, maaf ada yang kosong gak?”, tanyaku “ada mbak, nomer 6”, jawabnya Aku langsung menuju bilik computer nomor 6, aku menyalakan computer dan mulai berkirim e-mail tugasku. Mungkin sedari tadi dia menatapku, namun aku tidak mau menduga-duga, aku menoleh padanya, namun aku tundukan kembali lagi wajahku. Aku tidak mau memastikan dia memperhatikan aku atau tidak, yang aku tahu dia sedari tadi mondar-mandir dihadapku. Aku yang sedari datang memang mengenakan topi, justru lebih memendamkan wajahku lebih dalam. Itulah pertemuan awal kami. Kakak sepupuku yang berasal dari luar kota ikut menyusulku ke tempat tinggalku sekarang. Dia ingin mencoba mencari pekerjaan di kotaku. Dengan senang hati aku menemaninya berjalan-jalan keliling kota. Kita memang akrab karena memang kita sudah dari kecil bersama-sama. Kakak sepupuku ingin mengunjungi warnet, dan aku menunjukan warnet terdekat. Kami masuk, dan aku kembali bertemu dengan operator warnet yang waktu itu berniat membantuku. “maaf mas siapa?”, tanyaku sambil mengulurkan tangan “Samma”, jawab sambil menyambut tanganku “haha.. serius mas?”, tanyaku setengah tidak percaya “serius mbak, itu nama keluarga…”, jawabnya tersenyum “oh.. hehe maaf mas, saya helma .. oh iya, ini abang saya, dia minta diisi lagu ke memory hp-nya” jelasku Abangku pun mengulurkan tangan untuk berkenalan “Randi”, kata abangku “Samma”, jawabnya Aku duduk di belakang Samma, yang sedang sibuk mengcopy lagu. Aku diam-diam memperhatikannya dari belakang. Kak Randi hendak ke toilet, tinggallah kami berdua, kualihkan pandanganku kearah layar. Kulihat facebooknya, dia seorang drummer, lalu kuberanikan untuk bertanya. Kami berdua tertawa, aku bercanda dan dia juga bercanda. Jujur saja aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini, duduk bersamanya begitu menyenangkan bagiku, apalagi setelah aku patah hati. Ya… kedatanganku dari kota lain ke kota ini selain untuk menemui ibuku, juga karena aku ingin melupakan seseorang. Seseorang yang delapan bulan ini telah menjadi mantanku. Seseorang yang teramat aku cintai. Aku cukup tersakiti dengan hubungan yang kujalani dulu. Tiga tahun kami menjalani cinta, namun tak pernah ada keseriusan darinya, dia justru menjauh. Dia tidak pernah menghubungiku, handphoneku semakin kosong, selalu aku yang berinisiatif menghubungi dan berkirim pesan. Itupun kadang dia balas, kadang malah dia mematikan handphone. Aku memang telah terjebak dengan caranya mencintaiku. Aku berada disampingnya namun ternyata aku memang tidak benar benar ada di hatinya. Dalam sholatku, aku hanya memohon pada Tuhan, untuk mendamaikan hatiku. Aku mantap untuk tinggal dirumah ibuku, karena selama ini aku hidup bersama kak Randi. Sesampainya disana, aku melihat ibuku berdiri bersimpulkan senyum. Aku memeluknya erat erat dan meneteslah air mataku. Beliau bertanya kenapa aku menangis?, aku hanya menjawab, aku sangat merindukan ibuku. Hari demi hari aku lewati, namun rasa kehilangan, rasa tidak utuh lagi selalu saja menggelayutiku. Berat badanku jauh turun, aku sudah tidak menyayangi hidupku lagi. Aku sudah tidak mau menghadapi hari lagi. Ibuku lah yang selalu menguatkanku. Sampai d hari aku bertemu dengan Samma. Aku iseng membuka facebook, dan kulihat dia mengirim pertememanan kedalam akunku. Aku segera menerimanya, dan kami mengobrol dan bertukar nomor handphone. Suatu hari dia mengajakku nonton festival musik, karena aku rasa aku memang butuh hiburan, aku mengiyakan ajakannya. Aku mengajak temanku dan dia mengajak temannya, kami bertemu seusai aku bekerja. Lucunya hari dimana festival itu diadakan, aku kedapatan shift pagi, sebelum pukul 7 malam aku sudah bersiap. Kami bertemu dan menikmati waktu bersama. Aku merasakan sesuatu yang beda. Entah apa.. tapi aku nyaman berada ditempat manapun bersamanya. Aku pulang dan sesampainya dirumah, dia mengirimi pesan, sebenarnya dia sudah jatuh cinta sejak awal dia bertemu. Awalnya aku memang berfikir dua kali untuk menjalin hubungan. Namun aku tidak bisa memungkiri, akupun merasakan hal yang sama. Aku menerimanya….. Kami mulai manghabiskan waktu berdua, kadang aku menemaninya setelah aku bekerja. Lelahku hilang saat aku duduk bersamanya. Aku teramat menyukai perhatiannya, yang selalu mengingatkan aku untuk menjaga diri lebih baik. Namun aku takut gagal lagi, dan aku ingin mempersiapkan hati lagi, untuk itu aku ingin melepasnya. Entah fikiran bodoh mana yang telah merasukiku. Aku memutuskannya, namun Samma tidak terima dengan penjelasanku. Dia menemuiku, aku menceritakan semuanya, tentang mantanku, tentang patah hatiku yang teramat dalam. Namun dia tetap tidak mau melepaskanku, dia mau menerima hatiku yang tidak sepenuhnya utuh. Sesampainya dirumah aku merenung, disaat akupun tidak menyayangi diriku sendiri, dia sangat menyayangiku, disaat aku tidak memperdulikan kesehatanku, dia justru takut aku sakit, di waktu akupun tidak mampu mempercayai diriku sendiri, dia justru mempercayakan cintanya padaku. Di hari itu aku merasakan aku betul-betul mencintainya. Hubungan kami berjalan lancar, sampai mantanku datang mencariku lagi dan dia berkata kehilangan, perempuan penggantiku yang dia anggap sempurna, tidak mampu sepertiku. Entahlah aku tidak mempercayai apapun yang dia katakan. Di hari aku sudah memutuskan berhenti mencintainya, aku tidak akan menyentuh hidupnya, karena akan semakin menyakitkan saja, kesabaran yang dibalas dengan penghianatan dan kebohongan. Aku mengatakan aku sudah tidak bisa bersamanya lagi. Dia marah, dan menunjukan perangainya setiap apa yang dia minta tidak aku turuti. Namun aku menatap matanya, dan berkata, “aku sudah bahagia”, jelasku “dengan siapa?”, dia langsung menangkap maksudku “seseorang yang berbeda denganmu..”, jawabku tegas “ siapa?”, tanyanya “dia akan menemuimu, duduklah”, aku menyuruhnya duduk Dia hendak menggenggam tanganku lagi, aku tidak bisa… entah mengapa aku tidak bisa. Aku berkata padanya perasaanku sudah tidak sama lagi, dia mengungkit semua kenangan 3 tahun saat aku bersamanya. Namun yang jelas teringat dan aku melihat kenyataannya, dia tidak pernah ada di saat aku membutuhkan sosoknya, dia membiarkan aku sendirian menghadapi masalah yang harusnya diselesaikan bersama, dia sering menghilang dan aku menemukannya sedang chatting di dunia maya bersama perempuan lain. Teramat sakit… untukku bisa kembali. Kudengar suara motor Samma, dia datang dan kubiarkan mereka mengobrol. Entah apa, yang aku tahu pasti mantanku itu paling tidak suka omongannya disanggah, setiap dia emosi dan merasa kalah, dia akan segera pergi, dan kembali untuk marah lebih besar lagi keesokannya. Dan benar saja, mantanku beranjak lebih dahulu. Aku menatap Samma, dalam hatiku, aku berkata.. “ aku akan selalu memilihmu, tak akan kubiarkan kau merasa hanya sebagai pengisi waktu luangku antara hubunganku dengan mantanku yang sedang berantakan”, Dugaanku tidak meleset, keesokannya mantanku kembali datang, dia datang dengan marah, mengancam akan menghancurkan hidup Samma, membuat cacat Samma, dan dia juga berkata akan dia dapatkan kembali apa yang dia miliki. Dia menggenggam tanganku dan berkata akulah wanita satu-satunya yang dia cintai, dia yakin aku masih wanita yang selalu mencintainya. Dalam hatiku menolaknya, aku tidak ingin terjebak oleh permainannya, aku terkekang bersamanya, aku tertekan, aku kehilangan semuanya, teman, keluarga, bahkan waktuku. Aku tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi berbuat bodoh lebih dalam. Aku melepaskan tangannya, dia semakin marah. Aku menatap kearah matanya dan berkata, “pergilah… aku sudah ringan melepasmu, bahkan semakin yakin”, kataku “tidak, aku datang jauh untuk mencarimu, aku mencintaimu, aku masih ingin bersamamu”, katanya Dia duduk dan aku masih berdiri tidak mengikutinya duduk, dia menarik tanganku dengan kencang, sampai aku terduduk. Aku berusaha menjauh, dia meminta maaf tidak bermaksud menyakitiku. Dia selalu melihat kearah jalan, aku diam dan mengerti, dia mengawasi, takut-takut Samma akan datang kerumahku. Karena tidak ada respon dariku, dia memutuskan pulang. Tetap dia bersumpah serapah di depanku, aku menatapnya tajam, dan berkata “kita tidak akan mungkin bersama lagi,” Dalam hati aku takut jika terjadi sesuatu kepada Samma, aku mengungkapkan itu kepada Samma, dan dia berusaha menenangkanku, dia juga tidak akan melepaskanku. Satu masalah usai, namun di setiap perjalanan asmara manapun, aku yakin tidak akan berjalan mulus. Terlebih untukku yang baru mempelajari lagi bagaimana mencintai seutuhnya. Kami bertengkar hebat, dan dia memutuskan hubungan kami. Kembali rasa sesak memenuhi dadaku, air mata menetes, aku tak dapat mempercayainya. Aku menghubunginya namun kurang ada respon, kenapa? … kenapa semudah itu dia mengatakan ingin pergi? … Bagaimana dengan aku yang dia tinggalkan? Serasa ruangan menghimpit, sesak luar biasa jika kubaca pesan darinya. Inikah lagi rasa kehilangan itu? Keesokannya dia mengirimiku pesan, yang intinya menjelaskan apa maunya. Namun aku berfikir lagi, apa akan dengan mudahnya dia membiarkan hatiku terlempar lagi, sayatan itu amat terasa. Aku takut jika dia melakukannya lagi. Dia datang ke tempatku bekerja. Aku melihatnya lesu, berpegang rokok, aku menatapnya dan duduk di sampingnya. Aku meminta maaf jika ada sikapku yang membuatnya tidak enak hati. Ketika dia hendak pulang, aku melihat hp-nya dan ternyata dia berkirim pesan dengan mantannya. Aku teringat betul ketika dia bercerita tentang mantannya yang sempurna di matanya itu, aku berfikir, “apa dari maksud dia dengan berbuat begini?, secepat itukah aku hilang?” Aku menanyakan maksud dari ini semua, keadaan kembali memanas. Tak kudapati penjelasan tepat tentang dari mana mantannya mendapatkan nomor hp dia. Kami di damaikan oleh salah satu temannya. Karena didorong perasaan kami yang masih kuat masing-masing, kami sepakat menjalani kembali semuanya, aku juga tak sanggup jauh darinya. Semua kembali berjalan lancar, dia menunjukan kasih dan perhatian yang selama ini aku inginkan. Dia melengkapiku, dengan senyumnya, dengan keberadaannya, dengan dukungannya, aku selalu merasa kuat. Bulan ke bulan hubungan kami dihiasi tawa, namun orang ketiga itu kembali muncul lagi. Waktu itu kami bertengkar, dan kami mencoba menyelesaikan langsung. Aku kira hari itu masalah kami memang selesai. Namun kenyataan terbaliklah yang aku lihat. Aku tak sengaja iseng melihat akun facebooknya, dan ternyata dia menulis tentang moment moment yang dilalui bersama mantannya tersebut. Dia masih mengingat tahun ketika mereka bersama. Dia mengaku menyesal, menyesal karena merasa telah menyakiti mantannya. Aku terhenyak, waktu itu, detik itu, serasa tersayat kembali. Lalu apa yang aku lakukan ini? Meyakinkannya untuk memalingkan cintanya sejenakkah dari obsesi tentang mantannya tersebut? Begini terus setiap kami bermasalah, dia selalu membawa pihak ketiga. Walaupun dia menyangkal, kenyataan berkata demikian. Aku akan sangat bangga jika aku sanggup menjadi lebih baik dihadapan orang yang aku cintai, karena aku memang sangat menyayanginya. Namun aku akan mundur bila harus meyakinkannya untuk memalingkan cintanya dari mantannya kepadaku. Itulah keputusanku. Aku menanyakan ini semua kepadanya. Aku benar-benar butuh diperjelas, di hati sebelah mana dia meletakkan namaku? Setelah menemuinya aku pulang dengan rasa gontai. Serasa tidak percaya, dia masih menulis namanya, tahunnya, dan momentnya. Sementara aku sudah tidak menyentuh kehidupan mantan- mantanku. Jika memang ini bukan takdirku… aku ikhlas. Lewat pesan kami beradu pendapat. Dia juga membicarakan masalah lain yang keluar dari masalah yang kami bahas. Sebenarnya aku bingung. Namun untuk menenangkan suasana kami berdua memutuskan untuk menutup akun. Aku tutup dan berharap menenangkan suasana. Keesokannya kami menikmati suasana, jalan jalan, makan, mengitari kota, aku ingin membebaskan hatiku. Sampai di hari yang membuat hatiku terhenyak kembali. Kulihat foto dia dan sang mantan berada di e-mail dia. Cukup sakit. Itu terjadi saat aku pagi-pagi aku mengantarkan sarapan untuknya. Jadi kuputuskan untuk menuliskan sesuatu untuknya, biar dia mengerti maksudku bahwa aku juga ingin menikmati moment berdua dengannya, itu selalu dia katakan kepadaku. Tentunya itu akan terjadi tanpa dia menghadirkan orang ketiga. Karena lelah dia tertidur pulas. Aku hanya menuliskan memo disampingnya.

    “sayang, jika memang dia belum bisa kau ikhlaskan, mungkin kau lebih bisa mengikhlaskan aku”

    Begitu berat aku mengatakannya, namun mungkin aku bukan yang dia cari. Aku hanya perempuan yang masih awam tentang pelajaran mencintai, namun yang harusnya dia mengerti, cintaku dari hati. Aku beranjak pergi dan pulang kerumah. Aku berfikir, seandainya saja tidak ada masalalu yang membuatnya bersalah, pasti ini benar-benar yang disebut dengan kebahagiaan. Aku menatap fotonya, berharap aku masih mendengarnya, mendengar suaranya, aku menyapu wajahnya dalam foto itu dengan tanganku dan aku merindukannya, namun apa artinya jika dia sendiripun masih merindukan seseorang yang lain. Aku melewati pagi hari dengan lesu, tidak ada semangat yang tersisa. Terdengar ketokan pintu. Aku berlari membukanya, dan ternyata temanku Siska. “Hel, yuk kerumah Ola’ yuk”, ajak Siska “ah nggak ah, mau ngapain? Lagi suntuk tau..”, jawabku “udah ah ayo ayo, daripada suntuk di rumah, ntar nambah stress lo”, kata siska sambil menggandeng tanganku erat. Kami berangkat kerumah Ola’. Siska menggandeng tanganku, dia menarikku kedalam rumah Ola’, sebenarnya aku sedang tidak ingin melakukan apapun, tapi apa boleh buat. “dah ni… pada mau ngapain si emang?, bingung gue pagi pagi udah diseret seret, untung udah mandi”, kataku “kita bikin video seru seruan, yuk yuk yuk…”, jawab Ola’ “aaakkk ampun deh ya kalian, gak liat muka gue lagi problem bgini???”, kataku sambil menangkringkan tangan di pinggang. “udah udah duduk sini”, jawab siska Ola’ membuka laptonya dan membuka salah satu jejaring video, namun dia bukannya memulai aksi kami, justru dia mencari video. Dan terlihat nama Samma diketiknya. Aku semakin bingung. Ada apa ini sebenarnya? Terlihat di video itu ada banyak fotoku digantung, dirangkai sebuah tali, menjadi sebuah hiasan indah, ada pula yang ditempel. Semua itu fotoku. Masih di video itu, aku melihat ada beberapa kertas ditempel di dinding. Tulisan pertama .. “ aku memang tidak tahu sedalam apa dia menilaiku, namun aku benar mencintainya” Gamber bergeser ke tulisan kedua.. “mencintainya adalah hal yang menyenangkan dan bukanlah hal yang letih bagiku” Gambar bergeser ke tulisan ketiga.. “dan aku ingin menghabiskan waktu hidupku bersamanya, tak ada yang lain, hanya dia yang aku mau”

    Terlihat fotonya dan fotoku yang sengaja aku pajang di samping tempat tidur. Aku baru menyadari bahwa aku mengenal tempat itu, aku tahu dimana foto-foto dan kertas-kertas itu ditempel. Itu di kamarku sendiri, kenapa dari tadi aku tidak menyadarinya?, sebelum pergi tidak ada catatan apapun dikamarku, segera aku pulang diantar Siska. Aku segera masuk dan membuka pintu kamar, kulihat Samma berdiri sambil menggenggam satu bucket bunga. Aku benar benar kaget bercampur senang dan terharu. Samma menghampiriku, memberikan bunga itu dan meraih tanganku, diselipkannya sebuah cincin di jariku. Ya tuhan… apa yang telah kulakukan?, ternyata dia benar mencintaiku. “ Sayang… kamu ini yang aku inginkan, bukan dia… aku lebih banyak menyimpan fotomu daripada fotonya, dan aku menulis banyak kata cinta untukmu tanpa kau mengetahuinya, sayangku.. jangan bilang mau pergi dariku lagi ya, tinggallah disisiku selamanya, jangan semampumu, aku mencintaimu, dan maukah kau menikah denganku?”, ungkap Samma “aku akan jadi orang jahat dan bodoh jika aku menolak ajakan seseorang yang akan membawaku ke kebahagiaan, .. ya, aku mau menikah denganmu”, jawabku walaupun masih merasa tertegun. Aku memeluknya, dan terdengar suara tepuk tangan dari arah luar. Teman-temanku dan teman- temannya ternyata ikut membantunya. Aku merangkulnya dan tersenyum kearahnya. Tuhan jadikan dia terakhir bagiku. Selang dua bulan dari dia melamarku, kami menikah. Itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku. Kini kami melewati 10 tahun kebersamaan. Aku hidup, dan benar-benar menikmati hidup. *** “ayah… layangannya jangan sampai putus” “iya ayah akan menerbangkannya sampai tinggi dan tidak akan merusaknya” “ayah aku ingin pegang benang itu” “sini sini ayah ajarkan”

    Aku sedang menatap dari jauh Samma dan Samma kecil kami bermain layang-layang bersama. Ya.. Samma sekarang telah menjadi ayah. “bunda… ayo ikut main”, ucap Samma kecilku Aku berlari kearah mereka dan bermain bersama, manikmati angin dan cahaya matahari bersama keluarga kecilku.

    THE END

Penulis
shafatu marwah
www.facebook.com/shafatu.marwah

DISCLAIMER


Vemale.com tidak bertanggung jawab atas isi tulisan di atas, karena ditulis berdasarkan opini pembaca Vemale.com membuka kesempatan bagi seluruh pembaca vemale untuk berpartisipasi menjadi contributor vemale/vemalist


ARTIKEL TERKAIT - RELATIONSHIP - LOVE
 1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  Next  Last 
ZODIAK HARI INI

Cancer

21 Juli - 27 Juli
Sekaranglah saat yang tepat untuk menyambung kembali relasi yang sempat terputus...