Sukses

Parenting

Menikah dan Menjadi Ibu, Aku Wanita Paling Bahagia di Dunia Ini

Impian seorang wanita bisa begitu sederhana. Menikah dan menjadi ibu yang seutuhnya. Meski memang ada tanggung jawab dan peran baru di dalamnya, semua itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri yang penuh berkah. Seperti kisah yang ditulis sahabat Vemale ini untuk mengikuti Lomba Bangga Menjadi Ibu.

***

Kehidupan baruku dimulai sejak aku menikah setahun yang lalu. Tujuanku menikah tentu saja ingin menjadi wanita seutuhnya yaitu menjadi seorang istri dan menjadi seorang Ibu.

Tiga bulan setelah menikah aku dikejutkan dengan kabar gembira. Mimpiku akhirnya jadi kenyataan, saat aku terbangun pukul 05.00 pagi aku langsung ke kamar mandi dengan membawa alat tes uji kehamilan yang semalam aku beli. Tak disangka hasilnya dua garis merah yang artinya positif hamil. Aku tak bisa membendung rasa bahagia, langsung saja aku membangunkan suamiku yang masih terlelap dan langsung memberi tahunya bahwa aku mengandung anaknya.

Di awal-awal kehamilan tentulah sangat berat bagiku yang pertama kali merasakan kehamilan apalagi aku sering merasa mual-mual dan muntah hebat hingga tak mau makan. Di bulan keempat kehamilanku tiba-tiba keluar darah dari Miss V-ku, aku pun langsung panik dan langsung memeriksakan kandunganku dengan ditemani suamiku. Aku pun lega ketika dokter mengatakan kandunganku tidak apa-apa, hanya saja aku harus istirahat total dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga apapun. Beruntung aku memiliki suami yang selalu siap menjaga dan membantuku saat aku membutuhkan bantuannya.

Tak terasa kehamilanku menginjak usia 9 bulan, tentu saja saat-saat menegangkan buatku menunggu kelahiran sang calon bayi. Tibalah hari di mana aku siap melahirkan bayiku ke dunia ini. Diawali dengan ketika aku bangun tidur aku panik cairan ketubanku terus mengalir, langsung saja aku berteriak memanggil Ibuku dan menghubungi bidan terdekat. Tetapi dia mengatakan bahwa aku harus segera dilarikan ke rumah sakit karena kondisiku yang harus segera diberi penanganan medis, karena air ketubanku hampir habis padahal aku baru saja pembukaan satu.

Setibanya di rumah sakit aku langsung diberi tindakan medis yaitu diinduksi agar mempercepat proses kelahiran bayiku. Namun setelah 5 jam berlalu aku gagal di pembukaan empat yang artinya tidak maju ke tahap pembukaan berikutnya. Dokter menyarankan agar aku segera dioperasi caesar, aku panik luar biasa tidak bisa membayangkan. Jangankan dioperasi melihat jarum suntik pun aku ketakutan. Tetapi aku hanya bisa berserah diri kepada Allah Swt. Yang terpenting aku dan bayiku bisa selamat.

Saat tiba di meja operasi aku merasa sangat ketakutan karena aku hanya dibius setengah badan saja yang artinya aku bisa melihat proses operasi berlangsung. Ditambah aku tidak boleh ditemani suami atau pihak keluarga. Saat operasi berlangsung aku hanya bisa terkulai lemas dan hampir saja putus asa. Takut nyawaku tidak bisa diselamatkan. Tetapi semua rasa itu sirna ketika aku mendengar suara tangisan bayiku, lega dan bahagia sekali rasanya. Aku tidak bisa melihat langsung bayiku karena perawat langsung membawa bayiku untuk segera diberi perawatan khusus.

Akhirnya perjuanganku berbuah manis operasi berjalan lancar, dan aku dibawa keluar ruangan operasi disambut tangis haru keluargaku. Tak lama kemudian perawat membawa bayiku. Alhamdulillah bayiku ternyata berjenis kelamin laki-laki. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur kepada Allah Swt. yang telah menyelamatkan aku dan bayiku. Sedih rasanya aku tidak bisa langsung menyusui bayiku karena aku masih kesulitan untuk bergerak dan tidak boleh bangun dari tempat tidur selama 12 jam. Terpaksa bayiku diberi susu formula terlebih dahulu.

Setelah 12 jam berlalu aku masih saja kesulitan untuk menyusui karena aku masih kesakitan akibat dari operasi dan belum bisa menggerakkan badanku. Tetapi aku tidak pantang menyerah, aku terus berusaha bergerak sedikit demi sedikit dan menyusui bayiku meskipun harus selalu dibantu suami atau ibuku. Bahagia sekali rasanya saat pertama kali menyusui bayiku, tak bosan aku terus memandangi wajah bayiku seolah tak percaya bahwa ia telah lahir.

Foto: dok. Nuraini Safitri

Setelah empat hari dirawat aku diperbolehkan pulang, dari situlah perjalanan menjadi seorang ibu dimulai. Setelah kondisiku pulih aku bisa merawat bayiku tentu saja dengan masih dibantu keluargaku karena kondisiku masih sangat lemah. Menjadi ibu baru tentu sangatlah sulit, merasa stres dan tertekan sering kali menghampiriku. Aku sering menangis sendirian dan emosiku sering tidak stabil. Tetapi beruntung suami dan keluargaku selalu ada buatku, perlahan semua rasa itu menghilang dan mulai terbiasa dengan rutinitasku sebagai seorang ibu. Apalagi aku selalu ditemani malaikat kecilku yang selalu membuat hariku terasa berwarna.

Aku adalah seorang sarjana ekonomi lulusan universitas ternama, banyak orang mencibirku, memandangku sebelah mata karena aku tidak bekerja. Setelah menikah aku lebih memilih fokus menjadi seorang ibu rumah tangga karena buatku keluarga yang paling utama.

Menurut agama yang aku percaya tugas seorang ibu rumah tangga lebih mulia dari profesi apapun juga, meskipun terkadang tidak dihargai. Dan aku pun sangat bangga dan bahagia menjadi seorang ibu yang merawat anakku sendiri sejak dia lahir, karena saat-saat itu tak akan pernah tergantikan oleh apapun juga. Masa-masa pertumbuhan anakku yang tentu saja aku tak mau terlewatkan meskipun hanya sedetik saja. Setiap hariku kini selalu dihiasi oleh tangisan manja dan senyuman dari bibir mungilnya.

Sekarang aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini dan menjadi wanita yang seutuhnya yaitu menjadi seorang istri sekaligus menjadi ibu tepat setelah setahun aku menikah. Anakku adalah kado terindah yang diberikan Allah untukku, kan kujaga amanah ini hingga dia besar nanti. Sekali lagi aku bangga menjadi seorang ibu karena surat tugasku langsung dari Rabb-ku.

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading