Sukses

Lifestyle

Wisudaku, Hadiah Terakhir Untuk Ibu Tercinta

Ladies, saat Anda diminta untuk menceritakan sosok ibu Anda sendiri, berapa kata yang akan Anda gunakan? Mungkin butuh ribuan hingga jutaan kata untuk menggambarkan sosok wanita yang melahirkan kita ke dunia dari rahimnya sendiri ini. Kasih sayang seorang ibu tak akan lekang dimakan zaman, terus mengalir sepanjang masa. Bakti kita seumur hidup untuknya pun rasanya belum bisa membayar semua kasih sayang yang telah ia berikan kepada kita.

Seorang sahabat Vemale bernama Citra Ardini memiliki kisah yang begitu menyentuh tentang Ibunya. Ia memiliki cita-cita yang begitu mulia yang ingin dipersembahkan hanya untuk sang Ibu. Namun, ternyata takdir berkata lain. Ada garis berbeda yang harus diterimanya. Meskipun pahit dan sedih, ia tetap harus bisa menerima dengan ikhlas. Ia yakin Ibunya pasti akan tersenyum bahagia di sana.

(vem/nda)

Cita-Citaku untuk Ibu

Oleh: Citra Ardini

“Terbayang satu wajah, penuh cinta…penuh kasih…
 Terbayang satu wajah, penuh dengan kehangatan…oh Ibu.”  (Opick feat Amanda)

Ibu… bicara tentang Ibu, menuliskan sosoknya tak akan cukup dalam satu dua lembar kertas saja. Menjabarkan sosoknya tak bisa hanya dalam waktu singkat. Ibu, bagi saya, adalah sosok yang melebihi guru atau seorang sahabat yang setia setiap saat mendengar semua cerita saya setiap hari. Jika kita pernah menonton film yang dibintangi seorang wanita dengan istilah ibu peri atau bidadari, Ibu adalah sosok yang pantas dinobatkan seperti mereka. Ya, Ibu adalah bidadari untuk setiap anak-anaknya. Tidak ada anak yang merasa takut atau khawatir jika ia berada di samping ibunya.

Setiap anak mempunyai cita-cita dalam hidupnya, sama seperti saya yang juga memiliki cita-cita seperti anak-anak lainnya. Cita-cita saya sangat sederhana. Saya hanya ingin membahagiakan Ibu dan Bapak saya di dalam setiap kesempatan yang saya buat. Baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan, atau masa depan saya kelak.

Tetapi, Allah SWT berkehendak lain.
Jika momen wisuda adalah momen yang membahagiakan, saya justru harus belajar untuk menerima sesuatu yang pahit. Ketika lulus kuliah itu lah, saya mau tak mau harus mulai menerima dan mengerti kehidupan yang telah digariskan Allah. Karena di hari yang amat sangat bahagia itu, saya harus berlapang dada karena Ibu tak bisa mendampingi saya. Ya, Ibu saya sudah kembali kepada-Nya tepat 1 bulan 3 minggu 2 hari sebelum jadwal perayaan wisuda saya... .

Saya Anak Pertama dari Tiga Bersaudara

Sebelumnya perkenalkan, saya adalah wanita yang lahir dari seorang Ibu yang luar biasa. Itulah mengapa saya dapat tumbuh seperti sekarang ini. Saya adalah anak pertama dari tiga saudara wanita. Maka, Bapak adalah pria yang paling tampan di rumah kami. Hehe...

Awal ceritanya bermula sejak saya menyelesaikan studi SMA saya. Waktu itu karena alasan ekonomi, saya tidak dapat melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun begitu, Ibu saya adalah penyemangat dalam hidup saya.

[startpuisi]Ibu saya berkata, "InsyaAllah kami usahakan tahun depan kamu dapat melanjutkan pendidikanmu kembali, Nak."[endpuisi]

Lalu Ibu saya juga yang membantu mencarikan saya kerja melalui adik-adiknya. Jika ada lowongan pekerjaan di tempat adik-adik Ibu saya bekerja, Ibu menitipkan surat lamaran kerja saya. Ibu juga membantu saya mencari pekerjaan ke sana ke mari agar saya tidak cepat patah arang hanya karena melamar dengan ijazah SMA.

Hingga tawaran pertama datang, yaitu membuka bimbingan belajar (private) di rumah untuk anak-anak tetangga. Pertama kali saya memiliki dua siswa, tidak lama kemudian dua anak lagi datang dan ada yang datang lagi. Hingga enam siswa yang saya miliki saat itu. Selang dua minggu kemudian, teman SD saya (Iva) menawari saya mengajar di sebuah bimbingan belajar di Medan. Setelah tes ini dan itu, alhamdulillah saya diterima dan saya pun mulai bekerja di bimbingan belajar tersebut. Dua bulan saya mengajar, teman SMA saya (Ayla) menawarkan saya untuk bekerja di sebuah loket pembayaran listrik, air dan telepon milik Papanya. Saya berdiskusi dengan Ibu saya dan Ibu saya bilang, "Terima saja dahulu semua pekerjaan yang ada." Akhirnya saya menerima semua pekerjaan yang ditawarkan.

Pagi saya bekerja di sebuah loket pembayaran listrik, air, dan telepon. Siangnya saya bekerja sebagai pengajar di Bimbingan Belajar dan malam saya membuka les di rumah. Setelah enam bulan, akhirnya saya mendapat tawaran dari Om saya untuk bekerja di tempat ia bekerja, hanya saja lokasinya tidak di Medan. Saya harus pergi ke Pulau Jawa dan menetap di sana.

Meninggalkan Kampung Halaman

Terus terang, sebenarnya saya berat meninggalkan Ibu dan Bapak saya waktu itu. Tetapi, melihat Ibu saya adalah orang pertama yang semangat mengiyakan tawaran Om saya, saya pun menyetujuinya. Saya pikir mungkin rezeki saya memang harus ke sana. Mana tahu, saya dapat melanjutkan seolah saya kembali. Akhirnya minggu ketiga di bulan Desember 2010, kami (saya, adik perempuan saya yang paling kecil, Ibu dan adik laki-laki Ibu saya) berangkat ke Pulau Jawa, tujuan kami adalah Kabupaten Purwakarta.

Ibu menemani saya di sana sampai gaji pertama saya dapatkan. Ibu juga orang yang paling repot menyiapkan ini dan itu untuk persiapan saya. Mulai dari pakaian apa yang harus saya kenakan ketika wawancara kerja, apa yang harus saya katakan dan tidak perlu saya katakan pada saat wawancara, bagaimana saya harus berteman, dan banyak hal lainnya. Sampai akhirnya, saya dinyatakan lulus dan bekerja pada bulan Januari 2011. Saya lihat rona kebahagiaan yang menyelimuti wajah Ibu saya saat itu. Hari-hari pertama saya jalani di sana sebagai pekerja di salah satu perusahaan swasta. Satu bulan pertama saya masih dirawat Ibu saya.Sampai akhirnya ketika Ibu merasa saya sudah mampu melakukannya sendiri, Ibu saya kembali pulang ke Medan.

Walaupun jarak memisahkan kami (Medan–Purwakarta), tetapi Ibu selalu berada dekat di samping saya. Hampir setiap hari Ibu menelepon saya atau sekadar mengirimkan sebuah pesan singkat untuk saya yang berisi, "Selamat pagi, Anakku. Jangan lupa sarapan sebelum berangkat." Atau ketika siang hari, bu mengirimkan pesan singkat lagi, "Mama, boleh telepon?" Jika ada sela-sela waktu luang di tengah-tengah jam bekerja, saya langsung menelepon Ibu saya dan bertanya, "Ada apa?"

Ternyata Ibu ingin mendengar cerita apa yang saya punya hari ini, mungkin Ibu kangen sama saya karena dulu hampir setiap hari saya selalu cerita tentang ini dan itu seusai pulang sekolah. Kami pun tertawa, ejek-ejekan dari balik telepon genggam yang kami miliki. Rasanya, kangen itu begitu terobati.

Lanjut Kuliah

Enam bulan saya bekerja dan alhamdulillah tabungan saya cukup saat itu untuk melanjutkan pendidikan saya. Hari itu saya bukan lagi anak manja yang segala sesuatunya harus diurus Ibu saya. Saya mulai mencari kampus-kampus di sekitar Purwakarta yang cocok, jurusan, dan jam yang fleksibel (karena saya bekerja) untuk mendaftarkan diri saya sebagai mahasiswi. Akhirnya salah satu Perguruan Tinggi Swasta saya pilih di Kota Bandung dengan jam belajar Sabtu–Minggu, karena saat itu saya hanya bekerja lima hari dalam seminggu. Sehingga saya memiliki waktu luang dua hari untuk saya manfaatkan melanjutkan sekolah saya.

[startpuisi]Ibu saya menyetujui keinginan saya tersebut, malah Ibu saya juga membantu untuk tambahan biaya kuliah saya saat itu. September 2011, pertama sekali saya kembali lagi ke Medan karena inilah momen melepas rasa kangen saya kepada Ibu, Bapak dan dua adik perempuan saya. Dengan rasa bahagia, saya bawa print-out  Kartu Rencana Study (KRS) yang akan saya ambil pada Semester I perkuliahan yang dimulai setelah lebaran untuk saya tunjukkan kepada Ibu dan Bapak saya.[endpuisi]

Momen itu selalu saya ingat. Yaitu momen ketika lebaran, satu hari sebelum keberangkatan saya kembali ke Purwakarta untuk melanjutkan aktivitas saya di sana. Ibu selalu meminta saya dan adik saya untuk pindah tidur di kamar Ibu, dan Bapak saya tidur di kamar kami (anak-anaknya). Itulah bentuk rasa kangen yang ingin Ibu lepaskan kepada saya, karena esok sampai 1 tahun lagi Ibu baru bisa melihat saya tidur bersamanya kembali di kamarnya. Saya kembali ke Purwakarta dan hari-hari saya jalani sebagai pekerja dan mahasiswa dengan melepas kangen saya dari balik telepon genggam mendengar suara Ibu saya tertawa dan bercerita.

Takdir Berkata Lain

Dua tahun enam bulan saya jalani sebagai mahasiswi. Setiap pulang pada saat lebaran, saya selalu membawa hasil studi kuliah saya dan selalu tunjukkan dengan rasa bahagia kepada Ibu. Alhamdulillah walau saya kuliah sambil bekerja, saya masih bisa membagi waktu sehingga pekerjaan saya lancar dan nilai-nilai perkuliahan saya juga tidak pernah bermasalah. Semua berjalan dengan baik dan sesuai harapan saya.

[startpuisi]Tetapi hidup tidak selalu berjalan mulus dan bekerja seperti apa kehendak kita. Ya, tepat 1 bulan 3 minggu 2 hari sebelum saya dinyatakan lulus sebagai mahasiswi, Ibu saya meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Ibu saya tutup usia 48 tahun dengan vonis gagal ginjal. Sebenarnya Ibu sudah lama sakit sejak Ramadhan 2013, waktu itu Ibu terlihat lebih kurus dari biasanya. Tetapi Ibu bilang,dia sehat-sehat saja. Ibu juga berpesan agar saya tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi Ibu, Ibu takut kalau malah menjadi pikiran saya dan mengganggu pekerjaan dan kuliah saya.[endpuisi]

Sampai memasuki akhir tahun 2013 tepatnya bulan Desember lalu, saya dan Ibu masih suka berbincang-bincang lewat telepon tanpa sepatah kalimat keluhan pun yang Ibu lontarkan tentang penyakitnya. Walau berkali-kali saya selalu bertanya, "Bagaimana kondisi Ibu?" Ibu selalu menjawab, "Doakan saja semoga cepat sembuh, biar Mama bisa menemani Dini ke Bandung untuk wisuda."

Bahkan Ibu selalu mengalihkan pembicaraan agar saya tak terlalu dalam mengupas kondisi Ibu saat itu. Ibu malah menghibur saya di tengah-tengah penyakit yang sedang ia alami seraya berkata, "Nanti kalau sudah wisuda, mau bikin acara syukuran tidak disana?" atau "Nanti kalau mau buat syukuran wisuda, kita masak apa ya enaknya?" Dan pertanyaan-pertanyaan menghibur lainnya.

Setiap Ibu saya menelepon saya, beliau selalu bertanya "Bagaimana revisi TA-nya? Kapan rencana wisuda?" Semua hal tentang wisuda adalah pertanyaan yang selalu beliau tanya. Hingga memasuki awal tahun baru (2014) Ibu mulai jarang menghubungi saya bahkan tidak pernah sama sekali. Jika saya yang menghubungi beliau, adik saya yang menjawab,  "Ibu susah untuk ngobrol, dadanya sesak, dia butuh istirahat’." Tetapi bagaimanapun juga, saya selalu menghubungi Ibu walau kami hanya berbincang sepatah dua patah kata, tak lebih.

Pesan Singkat dari Adik

Memasuki bulan Maret 2014 lalu, tepatnya tanggal 04 Maret 2014, adik perempuan saya yang nomor dua menghubungi saya. Ia mengirimkan pesan singkat kepada saya yang memberitahukan bahwa Ibu saya masuk rumah sakit karena obat Ibu habis. Saya begitu syok menerima pesan singkat itu, terlebih lagi selang 15 menit kemudian giliran Bapak yang mengirim pesan singkat untuk saya, "Mama masuk Rumah Sakit Imelda, Dini kira-kira bisa pulang? Mana tahu entah Mama rindu, dengan adanya Dini pulang entah sembuh."

Pedih sekali rasanya membaca pesan singkat Bapak saat itu. Tidak biasa-biasanya Bapak mengirimkan pesan singkat yang begitu pedih untuk dibaca. Saya pun tidak bisa tidur semalaman membaca SMS mereka berulang-ulang, tak henti-hentinya bayang-bayang wajah Ibu datang menghampiri saya dengan momen-momen indah yang pernah kami buat.

Saya shalat tahajud malam itu, meminta petunjuk kepada-Nya dan memohon untuk kesembuhan Ibu. Akhirnya saya mengambil keputusan, besok pagi setelah sampai di kantor, saya akan berbicara kepada manajer saya untuk meminta cuti satu minggu jika diperbolehkan, karena saya akan kembali ke Medan. Jika tidak diperbolehkan satu minggu, berapa haripun jadi asalkan saya dapat pulang. Terus terang, saya merasa berat untuk meminta izin selama satu minggu saat itu. Karena saya baru bekerja di sana 3 bulan dan belum mendapatkan jatah cuti. Saya resign dari tempat lama (tempat dimana Om saya bekerja) dan pindah ke sebuah perusahaan swasta di Kabupaten Karawang. Tetapi setelah berbicara panjang dan lebar kepada manajer saya, saya diizinkan pulang mulai tanggal 06 Maret 2014 selama satu minggu.

[startpuisi]Tepat tanggal 06 Maret 2014 pukul 22:17 WIB saya sampai di Medan. Hancur sekali rasanya melihat Ibu saya berbaring di Ruang ICU dengan segala macam selang yang dipasang di seluruh tubuhnya. Saya sudah berjanji dengan diri saya saat itu, saya tidak boleh bersedih dan sekuat mungkin saya paksa diri saya untuk menghibur Ibu saya.[endpuisi]

Ibu terkejut karena melihat kehadiran saya saat itu, Ibu bertanya kenapa saya pulang dan apakah tidak apa-apa kalau saya ijin dari kantor. Ia juga bertanya bagaimana Tugas Akhir saya dan rencana wisuda saya. Semua pertanyaan Ibu lontarkan dan saya hanya menjawab, "Yang penting Mama sembuh, nanti kita ke Bandung untuk wisuda."

Ketika Akhirnya Ibu Berpulang

Setelah satu minggu di ruang ICU, dokter meminta kami menandatangani surat pernyataan bahwa atas nama keluarga kami menyetujui akan diadakannya cuci darah untuk Ibu. Akhirnya setelah berdiskusi panjang lebar, kami menyetujui saran dokter.

Satu minggu sudah berlalu dan seharusnya tanggal 15 Maret itu saya sudah kembali ke kantor. Tetapi melihat kondisi Ibu saya yang tidak juga ada perubahan, saya putuskan menerima apapun konsekuensi dari perusahaan karena sudah melebihi batas izin yang saya ajukan, termasuk keputusan terberat yakni terpaksa keluar dari perusahaan tersebut. Tetapi alhamdulillah, perusahaan masih memberi saya kesempatan bekerja di sana. Saya diperbolehkan memperpanjang izin saya sampai kapan pun saya bisa kembali lagi bekerja. Saya senang sekali, setidaknya saya bisa mengurus Ibu saya sampai beliau sembuh.

Foto: dok. Citra Ardini
    
[startpuisi]Segala bentuk pengobatan telah kami coba. Segala usaha dan doa juga sudah kami panjatkan. Tetapi Allah SWT punya rencana lain utnuk kami.[endpuisi]

Tepat tanggal 22 Maret, Ibu meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Kesedihan mendalam benar-benar saya rasakan. Tetapi alhamdulillah saya masih diberi kesempatan mengurusi Ibu saya sampai akhir hayatnya. Dan bulan Mei lalu saya dinyatakan lulus sebagai mahasiswi.

Saat itu rasanya IPK tinggi pun percuma. Saya sudah kehilangan semangat saat itu dan bahkan sempat tak ingin menghadiri acara wisuda. Berkat teman-teman saya, saya akhirnya mampu bangkit kembali untuk merayakan wisuda hari itu. Ya, wisuda itu ternyata hadiah terakhir yang bisa saya berikan untuk Ibu saya walau tanpa kehadiran Ibu saya. Ibu, semoga Ibu bahagia di sana dan doakan anakmu ini untuk menjadi wanita yang kuat dan tangguh sepertimu.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading